mmINDUSTRI.co.id

Manfaat ASEAN Digital Outlook bagi 200 Juta Generasi Muda di Asia Tenggara

ASEAN Digital Outlook memetakan kesiapan AI dan tata kelola digital yang berdampak langsung bagi lebih dari 200 juta generasi muda di ASEAN dalam menghadapi ekonomi digital senilai USD 1 triliun pada 2030.

Kiri > kanan (gambar kiri): Sarah Al Bakri Devadason, Chair of the Board of Trustees of the ASEAN Foundation and Permanent Representative of Malaysia to ASEAN; Dr. Piti Srisangnam, Executive Director of the ASEAN Foundation; Debbie Jean Centeno-Dijamco, Undersecretary of Education of the Republic of the Philippines. Kiri > kanan (gambar kanan): Dr. Piti Srisangnam, Executive Director of the ASEAN Foundation; Diera Gala Paksi, Project Manager for AI Ready ASEAN (Foto/@: Meta AI/ASEAN Foundation)

 

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – ASEAN Foundation (sumber): Dengan total populasi ASEAN yang mencapai 703.028 juta jiwa (worldometers.info/12 Februari 2026) dan hampir sepertiganya atau lebih dari 200 juta merupakan generasi muda di bawah usia 20 tahun.



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Generasi muda itu merupakan arah transformasi digital di kawasan yang sangat menentukan masa depan negara tempat mereka. Untuk itulah, ASEAN Foundation meluncurkan ASEAN Digital Outlook dan riset AI Ready ASEAN–merupakan peta komprehensif mengenai kesiapan adopsi kecerdasan buatan (AI), kesiapan digital, kesenjangan tata kelola, serta literasi AI di 10 negara anggota ASEAN.

Peristiwa itu sebagai pertanda kematangan infrastruktur digital, serta tantangan tata kelola yang secara langsung memengaruhi peluang pendidikan, pekerjaan, dan inklusi sosial generasi muda di Asia Tenggara.

Studi regional terbaru ini menyajikan gambaran menyeluruh tentang tingkat adopsi kecerdasan buatan (AI), kesiapan digital, serta kesenjangan dalam tata kelola di negara-negara anggota ASEAN.

ASEAN Foundation yang didukung oleh Google.org—memaparkan temuan kuncipenelitian/riset AI Ready ASEAN dalam acara AI Ready ASEAN: 3rd Regional Policy Convening yang berlangsung di Manila, Filipina, belum lama ini.

Disusun Bersama pada ASEAN Digital Senior Officials’ Meeting (ADGSOM), laporan ASEAN Digital Outlook selaras dengan prioritas tata kelola digital di tingkat kawasan yang mencakup aspek kematangan digital, pembangunan infrastruktur, hingga kesiapan institusi.

Adopsi AI dan teknologi digital melaju lebih cepat

Para peserta ASEAN Digital Senior Officials’ Meeting yang berlangsung di Manila, Filipina (Foto/@: ASEAN Foundation)

Penyampaian laporan itu menjadi bagian dari kemajuan Program AI Ready ASEAN yang sejauh ini menjangkau lebih dari 5 juta orang penerima manfaat, melatih 100.000 orang peserta dalam kecakapan AI tingkat lanjut, serta mencetak lebih dari 3.000 orang pelatih atau master trainers di seluruh Asia Tenggara.

Upaya ini dilakukan di tengah perubahan yang sangat pesat. Digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI) tengah membentuk ulang lanskap ekonomi, sistem pendidikan, hingga layanan publik di ASEAN dengan kecepatan yang luar biasa.

Mengingat populasi kawasan ini telah mencapai 703.028 juta jiwa dan hampir sepertiganya merupakan generasi muda di bawah usia 20 tahun, kemampuan ASEAN dalam mengadopsi AI secara bertanggung jawab akan menjadi faktor penentu dalam pengembangan keterampilan masa depan, terbukanya lapangan kerja, serta perluasan inklusi sosial.

Di saat yang sama, ekonomi digital ASEAN diproyeksikan tumbuh dari US$300 miliar menjadi US$1 triliun pada tahun 2030, menciptakan peluang ekonomi secara signifikan sekaligus menghadapi risiko yang semakin kompleks.

Seiring dengan pesatnya adopsi AI di berbagai sektor, kebutuhan akan pemanfaatan AI yang inklusif, bertanggung jawab, dan dikelola secara efektif kini menjadi prioritas bagi pemerintah, institusi, dan masyarakat di seluruh kawasan.

Dua studi ini hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan mengalihkan fokus dari sekadar akses dan penggunaan menuju pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kesiapan, tata kelola, serta dampak jangka panjang AI.

“Di seluruh kawasan ASEAN, kita melihat penggunaan AI berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan sistem kita untuk mengarahkannya,” tutur Dr. Piti Srisangnam, Direktur Eksekutif ASEAN Foundation.

“Studi ini menggeser fokus pembahasan dari sekadar apakah AI sudah digunakan, menjadi institusi, pendidik, dan masyarakat benar-benar siap. Bukti seperti ini penting untuk merancang kebijakan yang melindungi kepercayaan publik, memperkuat keterampilan, serta memastikan AI memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan hanya bagi ekonomi.”

Laporan ASEAN Digital Outlook memberikan penilaian regional yang komprehensif mengenai infrastruktur digital dan AI, tata kelola, serta kesiapan keamanan siber di seluruh negara anggota ASEAN.

Meskipun sejumlah negara anggota ASEAN telah menunjukkan kemajuan dalam memperkuat infrastruktur digital, studi ini menyoroti adanya ketimpangan pada tingkat kematangan digital dan kapasitas institusional di kawasan tersebut.

Kesenjangan yang masih terjadi pada keterampilan digital, kepercayaan publik, kesiapan siber, serta penggunaan teknologi secara bertanggung jawab mempertegas keterbatasan dari pendekatan nasional yang bersifat fragmentasi.

Di sisi lain, penelitian AI Ready ASEAN mengevaluasi kesiapan AI di sepuluh negara-negara anggota ASEAN dengan fokus pada komunitas pendidikan.

Riset ini menempatkan siswa, pendidik, dan orang tua sebagai key actors yang membentuk cara AI diadopsi, dipahami, serta dikelola.

Temuan riset mengungkapkan adanya kesenjangan yang konsisten antara tingginya tingkat penggunaan AI dengan kesiapan yang sebenarnya, terutama dalam hal literasi AI, pemahaman etika, dan dukungan institusional.

Sementara siswa cenderung lebih cepat mengadopsi berbagai perangkat AI, pendidik dan orangtua masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kurangnya kepercayaan diri hingga keterbatasan bimbingan dan akses pelatihan yang terstruktur.

Berdasarkan hasil riset, tingkat penggunaan AI di kalangan siswa di Indonesia tergolong sangat tinggi, dengan 95,25 persen responden melaporkan telah menggunakan model AI generatif.

Sementara itu, angka penggunaan di kalangan pendidik (46,20 persen) dan orangtua (62,19 persen) masih lebih rendah, yang menunjukkan adanya kesenjangan penggunaan antar generasi.

Hasil riset itu mencatat bahwa pendidik lebih lambat dalam menggunakan jenis perangkat AI lainnya (27,29 persen) dibanding siswa (53,25 persen), yang menegaskan bahwa siswa cenderung lebih cepat mengadopsi teknologi ini.

Selain itu, kurang dari separuh pendidik menyatakan bahwa institusi mereka telah menyediakan panduan kebijakan AI, dukungan keamanan siber, maupun pelatihan yang memadai.

Secara keseluruhan, temuan dari kedua studi ini menunjukkan bahwa di seluruh kawasan ASEAN, adopsi AI dan teknologi digital melaju lebih cepat dibandingkan kesiapan institusi, etika, maupun masyarakat.

Siswa menjadi pengguna perangkat AI yang paling aktif, sementara para pendidik dan orang tua melaporkan tingkat kepercayaan diri dan literasi yang lebih rendah.

Di saat yang sama, meningkatnya berbagai risiko seperti penipuan daring, penipuan berbasis deepfake, misinformasi, hingga kebocoran data, kian mengikis kepercayaan terhadap sistem digital serta mempertegas urgensi akan kerangka tata kelola yang lebih kuat.

“Akses terhadap perangkat AI saja tidak cukup,” ungkap Marija Ralic, Kepala Google.org Asia Pasifik. “Kesiapan yang sesungguhnya menuntut pemahaman tentang cara kerja AI, batasan-batasannya, serta bagaimana teknologi ini dapat digunakan secara etis.”

Menurut Marija Ralic bahwa temuan itu menegaskan pentingnya investasi dalam literasi AI, terutama bagi pendidik dan komunitas, agar kemajuan teknologi benar-benar dapat diterjemahkan menjadi peluang yang inklusif bagi semua pihak.

Dengan meluncurkan riset AI Ready ASEAN dan ASEAN Digital Outlook, maka ASEAN Foundation memberikan kontribusi berupa wawasan berbasis data untuk mendukung dialog kebijakan yang terarah mengenai transformasi digital dan AI di seluruh kawasan.

Hasil studi ini diproyeksikan menjadi referensi utama bagi para pengambil kebijakan, pendidik, dan mitra pembangunan dalam merancang intervensi yang memperkuat literasi digital, kesiapan institusional, serta pertumbuhan yang inklusif.

Berdasarkan temuan riset, generasi muda ASEAN—sebagai kelompok pengguna AI paling aktif—memegang peran krusial dalam memastikan transformasi digital berjalan inklusif dan bertanggung jawab. Beberapa rekomendasi strategis antara lain:

Perkuat Literasi AI dan Etika Digita: Menguasai penggunaan AI generative dan memahami cara kerja, bias algoritma, keamanan data, serta implikasi etisnya.

Bangun Keterampilan Masa Depan (Future Skills): Fokus pada kombinasi technical skills (data literacy, prompt engineering, cybersecurity awareness), dan human skills meliputi critical thinking, creativity, dan problem solving.

Manfaatkan AI untuk Produktivitas dan Inovasi Sosial: Gunakan AI sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, kewirausahaan digital, serta solusi berbasis komunitas.

Tingkatkan Kesadaran Keamanan Siber: Waspada terhadap risiko seperti deepfake, misinformasi, penipuan daring, dan kebocoran data pribadi.

Dorong Kolaborasi Lintas Generasi: Menjadi jembatan literasi digital antara siswa, pendidik, dan orangtua guna memperkecil kesenjangan pemahaman teknologi.

Temuan ASEAN Digital Outlook 2026 dan riset AI Ready ASEAN menegaskan bahwa laju adopsi AI di kawasan melampaui kesiapan institusional, tata kelola, dan literasi masyarakat. Kesenjangan ini menghadirkan risiko terhadap kepercayaan publik sekaligus peluang strategis untuk memperkuat kebijakan berbasis bukti.

Dengan proyeksi ekonomi digital ASEAN yang diperkirakan mencapai US$1 triliun pada 2030, kesiapan AI yang inklusif, aman, dan bertanggung jawab menjadi fondasi utama pertumbuhan berkelanjutan.

Studi ini menjadi referensi penting bagi pembuat kebijakan, institusi pendidikan, dan mitra pembangunan dalam merancang intervensi yang memperkuat kapasitas digital, tata kelola AI, serta daya saing generasi muda ASEAN di era ekonomi berbasis teknologi.

#SalamSobatmmINDUSTRI

 


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
Exit mobile version