mmINDUSTRI.co.id

Lompatan Ultra-Inovatif Menuju Sirkularitas Limbah Elektronik

Pendekatan biomining yang menggunakan mikroba dan mikroalga membuka peluang pemulihan logam bernilai tinggi dari limbah elektronik secara selektif, ramah lingkungan, dan siap ditingkatkan ke skala industry. Indonesia berpeluang mengolah limbah elektronik.

Limbah elektronik dalam reaktor biomining (Foto/© Fraunhofer IGB)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer IGB (sumber): Sebuah terobosan strategis untuk transformasi ekonomi sirkular yang dapat dilakukan di Indonesia.

Mikroorganisme dan alga dapat dijadikan sebagai “pemburu” harta karun yang tersimpan dalam limbah elektronik. Daur ulang biologis limbah elektronik berpotensi ekonomi sangat besar.



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Seiring lonjakan volume limbah elektronik dan meningkatnya ketergantungan pada logam kritis seperti palladium dan neodymium, pendekatan konvensional semakin tidak memadai lagi.

Hasil studi para ahli Fraunhofer IGB menunjukkan bahwa biomining berbasis mikroorganisme dan mikroalga mampu mengekstraksi logam berharga secara lebih selektif dan berkelanjutan.

Dengan kinerja bioleaching yang melampaui metode kimia dalam beberapa parameter serta potensi skalabilitas melalui fixed-bed reactor, teknologi ini menandai pergeseran paradigma dari waste management menjadi resource recovery system yang bernilai ekonomi sangat tinggi.

Mikroorganisme dan mikroalga dapat digunakan untuk memulihkan logam berharga dari limbah elektronik – dengan cara yang ramah lingkungan dan selektif, dengan potensi besar untuk aplikasi industri.

Para peneliti di Institut Fraunhofer untuk Rekayasa Antarmuka dan Bioteknologi IGB menunjukkan hal ini dalam sebuah studi.

Di IFAT 2026, pameran dagang terkemuka untuk teknologi lingkungan di Munich, Jerman, para peneliti Fraunhofer IGB mendemonstrasikan bagaimana daur ulang biologis ini bekerja dengan menggunakan reaktor unggun tetap.

Reaktor biomining

Jutaan ton limbah elektronik dihasilkan di seluruh dunia setiap tahun. Ponsel cerdas, laptop, dan perangkat elektronik lama lainnya mengandung logam berharga seperti paladium dan neodymium – bahan baku penting untuk produksi teknologi modern, motor listrik, dan turbin angin.

Akan tetapi, hanya sebagian kecil dari logam-logam itu yang baru dapat didaur ulang. Studi kelayakan RüBioM yang dilakukan oleh ahli Fraunhofer IGB di Stuttgart menunjukkan bahwa proses biologis menawarkan alternatif yang menjanjikan.

Bioleaching: Mikroorganisme melarutkan logam berharga

Inti dari proses ini adalah apa yang disebut bioleaching: Mikroorganisme seperti Pseudomonas aeruginosa dimasukkan ke dalam limbah elektronik yang telah dihancurkan.

Bahan itu menghasilkan asam dan senyawa lain yang secara selektif melarutkan logam dari material tersebut. Larutan yang mengandung logam tersebut kemudian diproses dengan menggunakan mikroalga – alga menyerap ion logam melalui biosorpsi, bertindak seperti spons biologis.

Pengujian berbagai mikroorganisme dalam labu kocok untuk mobilisasi logam dan hasil laboratorium yang menjanjikan (Foto/©: Fraunhofer IGB)

“Hasil studi kelayakan sangat menggembirakan,” ringkas Dr. Lukas Kriem, manajer proyek RüBioM.

“Awalnya kami fokus pada paladium, menyelidiki bioleaching dan biosorpsi. Dengan bioleaching, tingkat pelepasan lebih dari 13 persen lebih tinggi daripada metode kimia yang sebanding. Dengan menggunakan biosorpsi, kami mampu menghilangkan lebih dari 30 persen paladium terlarut.”

Bioleaching neodymium menggunakan berbagai mikroorganisme juga diteliti. “Di sini juga, kami melihat pendekatan awal yang positif, meskipun ini – belum – dapat bersaing dengan proses kimia,” lanjut Dr. Lukas Kriem.

Lebih lanjut, proses ini diuji dalam skala yang lebih besar di reaktor unggun tetap. Terlepas dari tantangan teknis seperti pembentukan biofilm dan aliran yang tidak merata, paladium berhasil dimobilisasi – sebuah langkah penting menuju skalabilitas industri.

Berkelanjutan, efisien sumber daya, dan relevan secara ekonomi

Proses biologis menawarkan keunggulan yang menentukan dibandingkan metode konvensional: tidak memerlukan bahan kimia beracun, dapat diroperasikan pada suhu rendah, dan memungkinkan pemulihan logam selektif.

Dengan demikian, biomining memberikan kontribusi penting bagi ekonomi sirkular dan dapat mengurangi ketergantungan Eropa pada impor logam dari wilayah yang sensitif secara geopolitik – suatu aspek yang signifikansinya telah menjadi jelas karena gangguan rantai pasokan dalam beberapa tahun terakhir.

“Terkadang harta karun itu tidak berada jauh di bawah tanah, tetapi berada justru tepat di laci kita,” simpul Dr. Lukas Kriem dengan nada berkelakar.

Prospek: Pabrik daur ulang hayati sebagai model untuk masa depan

Visi para peneliti adalah infrastruktur daur ulang hayati yang terdesentralisasi di mana mikroba dan alga secara lokal memulihkan bahan baku berharga dari perangkat lama dan memasukkannya langsung ke dalam produksi perangkat baru.

Untuk mencapai tujuan ini, optimalisasi lebih lanjut dari kondisi budidaya dan evaluasi ekonomi dari proses tersebut diperlukan. Namun, fondasinya telah diletakkan.

Fraunhofer IGB secara aktif mencari mitra dari sektor pengelolaan limbah dan industri untuk proyek tindak lanjut bersama.

Melalui pameran dagang IFAT yang berlangsung di Munich pada 4 – 7 Mei 2026, Fraunhofer IGB menawarkan kesempatan bagi pihak yang berminat untuk berbicara dengan para ahli institut dan mempelajari lebih lanjut tentang potensi aplikasinya.

Pelaku industri yang menghasilkan atau mengelola limbah elektronik perlu mulai melihat biomining bukan sekadar inovasi laboratorium, tetapi sebagai opsi strategis jangka menengah.

Investasi awal pada pilot project—misalnya kolaborasi dengan institusi riset atau adopsi reaktor biomining skala kecil—akan memberikan keunggulan kompetitif saat regulasi lingkungan diperketat.

Selain itu, integrasi biomining ke dalam rantai pasok dapat mengurangi ketergantungan impor logam kritis sekaligus membuka sumber pendapatan baru dari material yang sebelumnya dianggap limbah.

Akan tetapi, cara pendekatan menuntut kesiapan pada aspek teknis (kontrol biofilm, optimasi proses), ekonomi (analisis biaya vs yield), dan kemitraan lintas sektor.

Perusahaan yang bergerak lebih awal dalam adopsi bio-recycling akan berada di posisi strategis untuk memimpin transisi menuju ekonomi sirkular—sementara yang menunda berisiko tertinggal ketika teknologi ini mencapai kematangan komersial dalam beberapa tahun ke depan.

Ternyata potensi limbah elekronik sangat besar di Indonesia, namun penanganannnya belum optimal. Berapa jumlah limbah elektronik di Indonesia?

Bagaimana mengolah limbah elekronik (harta karun) menjadi produk ekonomi yang dapat berkontribusi terhadap peningkatan pemasukan dana ke Kas Negara dan menciptakan lapangan kerja baru?

Ikuti terus penjelasan melalui media ini! #SalamSobatmmINDUSTRI

 


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
Exit mobile version