mmINDUSTRI.co.id

Kelanggengan Bisnis Keluarga: Cara Menghindari Kegagalan?

Bagaimana kelanggengan bisnis keluarga bertahan? Jika para anak-cucu yakni penerus/pewaris tak mampu menghindari gontok-gontokan, maka bisnis keluarga menemui jalan buntu. Perlu strategi kelola untuk mencapai sukses—simpul IMD—sementara 70 persen bisnis keluarga  gagal. 

Kuncoro Wibowo, chairman/pendiri grup Kawan Lama—termasuk sukses mengelola tradisi baik hubungan baik antaranak-anaknua—ini berdampak (positif) signifikan terhadap kelangsungan roda bisnis keluarga (Foto/@: scmp.com)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – IMD (sumber): Apakah semua bisnis keluarga langgeng di Indonesia? Sebanyak 70 pesen gagal melanjutkan sukses bisnis keluarga. Generasi penerus yakni anak-anak dan cucu (generasi ketiga) tidak sehebat pendiri melancarkan roda perusahaan. 

Menurut sebuah hasil penelitian, sekitar 70 persen perusahaan keluarga gagal diwariskan ke generasi kedua, dan hanya sekitar 10 persen yang berhasil berlanjut ke generasi ketiga demikian laman entrepreneur.bisnis.com dan wartaekonomi.co.id 



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Sementara menurut PwC, 95 persen perusahaan yang beroperasi di Indonesia merupakan bisnis milik keluarga. Hampir semua saham perusahaan dimiliki oleh keluarga pendiri. Dominasi perusahaan keluarga ini tak hanya berasal dari perusahaan kecil. 

Simak hasil riset BCG yang mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan raksasa di Asia Tenggara berasal dari bisnis keluarga. Sebanyak 54 persen dari 200 perusahaan terbesar yang disurvei di wilayah ini merupakan perusahaan milik keluarga.

“Perusahaan keluarga yang besar itu memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi (nasional),” jelas Marleen Dieleman, Profesor Bisnis Keluarga Peter Lorange IMD, “tetapi mereka juga rentan mengalami perpecahan akibat ketegangan antaranggota keluarga,” sambungnya. 

Lembaga The International Institute of Management and Development (IMD) dan Entrepreneurs’ Organization (EO) Indonesia membedah bisnis keluarga melalui seminar yang diselenggarakan belum lama ini. 

Melalui diskusi, penyelenggara mendapatkan kiat tata kelola untuk membangun keharmonisan antarkeluarga agar roda bisnis terus melaju dan mampu menghindari jalan buntu.

Presiden EO Indonesia,   Sophia Sung menyatakan tanpa perencanaan dan peraturan keluarga yang matang, maka potensi perselisihan dan perebutan kekuasaan meningkat yang dapat menimbulkan  dan memicu keretakan antarsaudara di keluarga pebisnis—seperti dialami oleh konglomerat, transportai, dan restoran. 

Oleh karena itu, generasi kedua dan ketiga yang terdampak konflik antarkeluarga sebaiknya termotivasi untuk mencari solusi agar masalah keretakan antarkeluarga dapat dihindari. 

“Salah satu contohnya adalah Grup Kawan Lama yang kini dikelola oleh generasi ketiga. Mereka memiliki banyak entitas bisnis dan tetap mampu menjaga keharmonisan keluarga,” tutur Sophia Sung.

Bagaimana Kuncoro Wibowo membangun grup Kawan Lama  yang menginspirasi itu?  Ia berhasil membangun jaringan perusahaan ritel perkakas yang terkenal seperti Ace Hardware Indonesia. 

Dihimpun dari beberapa sumber seperti laman Kawanlama, perjalanan dan strategi yang membantu menjaga keharmonisan dalam bisnis keluarga seperti berikut ini:

Sementara, Marleen Dieleman menyatakan bahwa transisi antargenerasi di perusahaan keluarga perlu dilakukan secara hati-hati. Disayangkan bahwa pemilik perusahaan keluarga lebih cenderung menunda untuk meningkatkan profesionalitas tata kelola mereka. 

“Dengan maraknya peralihan perusahaan keluarga dari generasi dua ke generasi ketiga di Indonesia, dan  kurangnya perhatian pada tata kelola maka hal itu dikhawatirkan dapat menyebabkan kegagalan bisnis para pebisnis papan atas,” pendapat Marleen Dieleman.

Sesuai namanya, bisnis keluarga memadukan dua faktor: bisnis dan keluarga. Oleh sebab itu, pemilik bisnis perlu melakukan penilaian seberapa besar dan rumit bisnis dan keluarga mereka. 

Dari hasil penilaian itu, pemilik bisnis dapat menentukan seberapa sistem tata kelola seperti apa yang perlu diterapkan di manajemen bisnis keluarga.

Marleen Dieleman menguraikan kerangka Governance Risk Identifier (GRID) yakni pengidentifikasi risiko tata kelola yang dijadikan sebagai tolok ukur bisnis keluarga dalam menerapkan  proses tata kelola yang relevan. 

Kerangka GRID ini dibagi menjadi empat kuadran untuk membedakan tingkat kompleksitas bisnis dan keluarga. Keempat kuadran itu akan memberikan solusi tata kelola yang tepat, seperti dijelaskan sebagai berikut:

  1. Bisnis sederhana, keluarga sederhana

Ciri: Bisnis terfokus, sedikit anggota keluarga terlibat. Banyak restoran keluarga di Indonesia yang termasuk dalam kategori ini.

Solusi: Sistem tata kelola sederhana untuk bisnis dan keluarga sudah cukup.

  1. Bisnis sederhana, keluarga kompleks

Ciri: Bisnis relatif sederhana, namun banyak anggota keluarga yang terlibat dalam pengelolaan, kepemilikan, atau keduanya. Misal, pendiri mempunyai banyak anak dan cucu, semua ikut terlibat bersama pasangannya.

Solusi: Perlu koordinasi antaranggota keluarga untuk menghindari kesalahpahaman. Konstitusi keluarga diperlukan sebagai dasar kepemilikan, pengelolaan dan hierarki bisnis. Pembentukan dewan keluarga pun bisa membantu pengambilan keputusan bersama.

  1. Bisnis yang rumit, keluarga sederhana

Ciri: Bisnis besar, terdiversifikasi, dan mungkin bersifat global, namun hanya satu atau beberapa anggota keluarga yang terlibat. Hal terjadi ketika bisnis yang dikelola pendiri tunggal berkembang pesat namun tidak ada penerus atau anggota keluarga tidak tertarik meneruskan.

Solusi: Tingkatkan tata kelola dan profesionalitas bisnis, berinvestasi untuk mengangkat manajerial yang andal agar tak tergantung pada kelangkaan sumber daya dari keluarga. Tata kelola keluarga dalam bentuk konstitusi atau dewan keluarga kurang relevan.

  1. Bisnis yang rumit, keluarga yang kompleks

Ciri: Jenis usaha konglomerasi besar yang beroperasi di berbagai industri atau di banyak negara, dan merupakan perusahaan terbuka. Anggota keluarga multi generasi ikut bergabung dalam perusahaan, dengan tingkat kepemilikan dan peran yang berbeda-beda. Tipe ini dimiliki oleh banyak konglomerat besar Indonesia saat ini.

Solusi: Perlu investasi signifikan terhadap tata kelola perusahaan dan aturan keluarga untuk memperjelas ekspektasi tiap anggota keluarga. Tanpa investasi semacam ini, bisnis keluarga jenis ini berisiko menjadi tidak stabil dan didukung oleh perseteruan keluarga.

Perbedaan kompleksitas keluarga dan bisnis memerlukan strategi yang berbeda. Apa yang berhasil untuk bisnis keluarga kecil belum tentu berhasil untuk konglomerat raksasa yang melibatkan lebih banyak anggota keluarga. 

Oleh karena itu, kerangka GRID dapat menjadi panduan dalam menyelesaikan permasalahan tersebut dan menjaga keharmonisan antarkeluarga yang mempunyai bisnis bersama tanpa gontok-gontokan.


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
Exit mobile version