mmINDUSTRI.co.id

Hadirkan AI in RAN untuk Optimasi 5G

Hadirkan AI in RAN untuk Optimasi 5G Ericsson memperkenalkan AI in RAN untuk meningkatkan kinerja, efisiensi energi, dan otomasi jaringan 5G melalui pembaruan software berbasis kecerdasan buatan tanpa tambahan perangkat keras.

Ilustrasi RAN yang kian cerdas: Ericsson menempatkan AI di posisi yang penting. Ericsson memasang standar baru untuk kecerdasan jaringan dengan AI in RAN (Foto/@: Ericsson)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – Ericsson Indonesia (sumber): Akses terhadap layanan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang terus berkembang menuntut jaringan seluler yang memiliki performa lebih tinggi, efisiensi yang lebih baik, serta tingkat otomasi yang semakin cerdas.

Menjawab kebutuhan tersebut, perusahaan Ericsson memperkenalkan AI in RAN, sebuah layanan software yang menghadirkan model AI kelas telekomunikasi langsung ke dalam infrastruktur radio dan baseband jaringan.



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Solusi ini dirancang untuk meningkatkan kinerja jaringan 5G, mengoptimalkan penggunaan spektrum, meningkatkan efisiensi energi, serta memperkuat otomatisasi operasional tanpa memerlukan tambahan perangkat keras.

Bagi Indonesia, kehadiran AI in RAN menjadi peluang strategis untuk memaksimalkan investasi jaringan 5G yang telah berlangsung.

Dengan pendekatan berbasis software, operator telekomunikasi dapat meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan secara lebih efisien di tengah kebutuhan investasi jaringan yang terus meningkat.

Teknologi ini juga mendukung agenda transformasi digital nasional dan memperkuat fondasi menuju ekosistem jaringan yang lebih cerdas, adaptif, dan berkelanjutan.

Perangkat AI in RAN menggabungkan model AI yang mampu bekerja secara real-time pada tingkat mikrodetik di dalam jaringan radio (RAN), didukung software pembelajaran berkelanjutan berbasis data berkualitas tinggi serta kemampuan Agentic AI yang memungkinkan otomatisasi jaringan tingkat lanjut.

Solusi ini merupakan implementasi nyata visi: AI for Networks yang memanfaatkan AI untuk mengoptimalkan performa dan efisiensi jaringan sekaligus mempersiapkan transisi menuju jaringan AI-native 6G di masa depan.

Seiring dengan berkembangnya layanan berbasis AI, jaringan seluler membutuhkan kinerja lebih tinggi dan otomasi yang lebih cerdas.

Ericsson memperkenalkan AI in RAN, layanan software yang menghadirkan model AI kelas telekomunikasi ke dalam baseband dan radio untuk meningkatkan efisiensi, kinerja, dan penghematan energi.

Penawaran yang dapat diskalakan secara komersial ini memberikan penyedia layanan komunikasi manfaat langsung untuk jaringan 5G dan mendukung peralihan ke RAN berbasis AI tanpa memerlukan software tambahan.

Apa saja keuggulan AI in RAN? Model AI kelas telekomunikasi yang dirancang untuk berjalan secara real-time di dalam jaringan akses radio (RAN). Dan software mampu beradaptasi dan menjadi semakin cerdas berkat dukungan data berkualitas tinggi yang dapat diolah dalam jumlah besar.

Data dari Global System for Mobile Association (GSMA) menunjukkan bahwa kebutuhan investasi untuk pengembangan 5G mencapai 18 miliar dolar AS atau sekitar Rp324 triliun, dan bisa mencapai 50 miliar dolar AS (sekitar Rp900 triliun) pada 2030 berdasarkan estimasi konservatif.

Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan jangkauan 5G mencapai 32 persen pada 2030.

Seiring meningkatnya permintaan terhadap konektivitas berkinerja tinggi di kalangan pelanggan, perusahaan, industri dan aplikasi sektor publik, optimasi jaringan berbasis AI dapat membantu operator meningkatkan efisiensi spektrum, meningkatkan pengalaman pengguna, dan meningkatkan efisiensi energi.

Kemampuan ini dapat mendukung agenda transformasi digital dan perluasan layanan digital di seluruh negeri, termasuk harapan untuk merilis 5G sebelum peringatan kemerdekaan Indonesia tahun ini.

Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby menjelaskan, “AI menjadi pendorong utama inovasi di berbagai industri, dan menciptakan kebutuhan baru untuk konektivitas, kinerja, dan otomasi.”

Menurut Nora Wahby dengan AI in RAN, Ericsson membantu penyedia layanan memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi jaringan dan relevansi jangka panjang, serta membantu operator memenuhi permintaan data yang lebih besar di tengah tantangan investasi.

“Kemampuan ini juga diharapkan mampu mendukung visi Indonesia Digital 2045 dengan menguatkan fondasi jaringan yang cerdas, efisien, dan berkelanjutan,” tambah Nora Wahby.

Model AI kelas telekomunikasi khas Ericsson dirancang untuk memproses dan menghasilkan keputusan dalam waktu yang sangat singkat, hingga hitungan mikrodetik.

Teknologi ini mampu memberikan kinerja yang andal dan stabil di berbagai kondisi jaringan radio (RAN) yang beragam dan dinamis.

Dikembangkan berdasarkan keahlian mendalam di bidang telekomunikasi, serta dilatih menggunakan data berkualitas tinggi, model AI ini menghadirkan standar baru dalam performa dan efisiensi jaringan.

Penerapannya dalam jaringan komersial

Nora Wahby, Presiden Direktur Ericsson Indonesia (kiri), dan (kanan) radio dan baseband jaringan (Foto/@: Ericsson Indonesia)

Aplikasi AI in RAN dapat digunakan pada Ericsson 5G Advanced, baik pada jaringan yang menggunakan perangkat khusus maupun Cloud RAN, untuk menghadirkan berbagai layanan baru yang didukung AI.

Solusi ini merupakan implementasi nyata dari visi AI for Networks dengan memanfaatkan AI untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi jaringan. AI ditempatkan pada bagian jaringan radio paling tepat agar dapat bekerja secara optimal.

Kemampuan ini didukung oleh Ericsson Silicon, yaitu chip khusus yang memungkinkan pemrosesan AI belangsung dengan hemat energi langsung di perangkat radio, serta generasi terbaru RAN Compute yang memberikan daya komputasi lebih tinggi.

Dengan perangkat lunak Cloud RAN yang fleksibel memungkinkan AI bekerja secara optimal di berbagai bagian jaringan serta mudah diterapkan di berbagai platform.

Fitur awal AI in RAN mulai tersedia pada kuartal kedua tahun 2026, dengan pengembangan lanjutan sepanjang tahun. Beberapa fitur utama meliputi:

AI-native Scheduler untuk mengoptimalkan pengaturan dan alokasi sumber daya jaringan secara otomatis.

AI-powered Positioning untuk meningkatkan akurasi penentuan lokasi pengguna.

AI-managed Beamforming untuk mengoptimalkan kualitas sinyal secara dinamis dan otomatis.

AI-powered Multi-layer Coordination untuk meningkatkan koordinasi antar lapisan jaringan guna memastikan pengalaman pengguna yang lebih konsisten.

Performance Management untuk pemantauan dan analisis performa jaringan yang lebih canggih.

Augmented Observability yang menghadirkan visibilitas dan transparansi lebih tinggi terhadap cara AI beroperasi dan mengambil keputusan di dalam jaringan.

Setelah dibuktikan melalui lebih dari 15 implementasi dan uji coba di seluruh dunia, AI in RAN Ericsson mampu menghadirkan peningkatan kecepatan downlink hingga 20 persen serta efisiensi spektrum hingga 10 persen.

Solusi ini juga mendukung hingga dua kali lebih banyak pengguna dengan trafik tinggi, dengan akurasi prediksi cakupan 90–95 persen, serta presisi penentuan lokasi pengguna hingga lima kali lebih tinggi.

Senior Vice President & CNO, SoftBank Corp., Teruyuki Oya berpendapat, “Software AI in RAN Ericsson menandai langkah penting dalam menghadirkan AI lebih dalam ke dalam radia access network.”

Dengan memungkinkan optimasi performa radio, efisiensi spektrum, dan pengalaman pengguna secara real-time, solusi ini membantu pihaknya mengubah inovasi AI menjadi nilai nyata pada jaringan yang sudah beroperasi.

“Kami melihat potensi kuat dari fondasi ini dalam mendukung layanan berbasis AI yang sedang berkembang, termasuk skenario Physical AI yang bergantung pada konektivitas latensi rendah dan keandalan tinggi, serta koordinasi cerdas antara jaringan dan sumber daya komputasi,” tambah Teruyuki Oya.

Sementara Senior Vice President, Network Technology & Operations Bell, Bruce Dean menimpali, “Di Bell, kami terus mengembangkan jaringan kami untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat terhadap layanan berbasis AI dengan performa tinggi.”\

Mengintegrasikan AI secara langsung ke dalam RAN merupakan langkah penting untuk menjadikan jaringan lebih cerdas dan efisien. Dengan bekerja sama dengan mitra seperti Ericsson, Bell menghadirkan kapabilitas ini ke dalam jaringannya untuk meningkatkan performa, meningkatkan efisiensi energi, serta memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pelanggan Bell.

Selanjutnya, Head of Network Technology SK Telecom, Yu Takki menuturkan, “Melalui kolaborasi dengan Ericsson, SK Telecom terus mengembangkan AI-RAN untuk meningkatkan performa jaringan dan efisiensi energi, sekaligus mendukung operasional yang lebih cerdas dan terotomatisasi.:

Dengan mengombinasikan riset, validasi di dunia nyata, serta inovasi software, SK Telecom bertujuan untuk memperkuat posisi kami dalam evolusi jaringan berbasis AI serta membantu membangun fondasi bagi jaringan AI-native 6G.

Sedangkan Chief Technology Officer Rogers, Mark Kennedy menggaris bawahi, “Sebagai jaringan 5G+ terbaik di Kanada, kami bekerja sama dengan Ericsson untuk menghadirkan teknologi 5G terbaru bagi masyarakat. AI in RAN akan membantu mengoptimalkan performa jaringan bagi pelanggan secara real-time sekaligus mengurangi konsumsi energi.”

Principal Analyst di Mobile Experts, Joe Madden berujar, “Software ini menjadi ROI terbaik bagi operator seluler dalam tahun-tahun terakhir. Dengan melakukan upgrade software, operator memaksimalkan kapasitas, meningkatkan visibilitas jaringan, serta menghadirkan layanan berbasis lokasi yang lebih akurat dari jaringan 5G yang mereka miliki sebelumnya.”

Rekomendasi untuk pelaku industri di Indonesia: Cermati arah transformasi operator telekomunikasi. Perangkat AI in RAN menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas jaringan tidak selalu membutuhkan investasi perangkat keras baru, melainkan dapat dilakukan melalui optimasi software yang lebih cerdas.

Perhatikan dampaknya terhadap industri digital nasional. Jaringan yang lebih efisien dan responsif akan menjadi fondasi penting bagi pengembangan manufaktur cerdas, IoT industri, smart city, kendaraan otonom, hingga layanan publik berbasis AI.

Evaluasi peluang bisnis berbasis 5G dan AI. Peningkatan kualitas jaringan membuka ruang bagi pelaku industri untuk mengembangkan aplikasi berbasis real-time analytics, edge computing, dan otomatisasi industri yang membutuhkan latensi rendah.

Amati perkembangan menuju jaringan AI-native 6G. AI in RAN dapat menjadi batu loncatan penting menuju generasi jaringan berikutnya yang dirancang sejak awal dengan kecerdasan buatan sebagai bagian inti arsitektur jaringan.

Peluncuran AI in RAN menandai langkah strategis Ericsson dalam mengintegrasikan kecerdasan buatan secara langsung ke dalam jaringan akses radio.

Solusi ini memberikan manfaat langsung berupa peningkatan performa, efisiensi spektrum, dan penghematan energi pada jaringan 5G, dan menjadi fondasi penting bagi evolusi jaringan AI-native di masa depan.

Bagi Indonesia, teknologi ini berpotensi membantu operator memaksimalkan investasi 5G sekaligus mempercepat pencapaian target transformasi digital nasional menuju Indonesia Digital 2045. #SalamSobatmmINDUSTRI

 


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
Exit mobile version