Transformasi digital ternyata mampu mengangkat usaha tradisional seperti es campur dan roti kukus naik kelas. Bagaimana strategi UMKM bertahan dan bertumbuh lewat pembayaran digital dengan pengelolaan usaha modern yang patut dicontoh oleh pelaku industry?

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
mmINDUSTRI.co.id – DANA Indonesia (sumber): Transformasi digital ternyata semakin mendorong pertumbuhan bisnis modern berskala besar, sekaligus membuka peluang baru bagi pelaku usaha tradisional seperti penjual es campur hingga roti kukus.
Di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin terbiasa dengan transaksi digital, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) semakin tertarik memanfaatkan teknologi sederhana untuk menjaga keberlangsungan usaha sekaligus meningkatkan efisiensi operasional sehari-hari.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Kisah Es Campur Pak Teguh di Jakarta dan usaha Roti Kukus Okurokus menjadi contoh bagaimana digitalisasi mampu membantu pelaku UMKM bertahan sekaligus berkembang.
Mulai dari penggunaan pembayaran nontunai, layanan pesan-antar, hingga pencatatan transaksi digital, langkah adaptasi tersebut terbukti mempermudah pengelolaan bisnis dan memperluas peluang pertumbuhan usaha keluarga di tengah persaingan pasar yang semakin dinamis.
Bagi banyak pelaku UMKM, usaha bukan hanya sebagai sumber penghasilan. Di balik gerobak, etalase, atau gerai yang tiap hari mereka jalankan, ada cerita keluarga yang ikut tumbuh di dalamnya.
Ada usaha yang diwariskan oleh orangtua atau usaha yang bermula dari kebutuhan keluarga. Dari titik itu, UMKM tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga menjadi ruang untuk melestarikan tradisi keluarga maupun membangun kehidupan yang lebih baik.
Merawat usaha di tengah perubahan kebiasaan pelanggan
Di kantin Politeknik AUP Jakarta, Es Campur Pak Teguh seolah menjadi bagian dari kehidupan kampus sejak tahun 1980-an. Saat ini, usaha keluarga itu diteruskan oleh Muhammad Amin Ma’ruf, pemuda berusia 26 tahun yang menjaga warisan sang ayah.
Bagi pria yang akrab disapa Amin, melanjutkan usaha ini bukan hanya tentang menjual es campur, tetapi juga mempertahankan kedekatan dengan mahasiswa dan alumni yang telah lama menjadi pelanggannya.
Pesan sang ayah untuk mengingat dan menyapa para mahasiswa dan alumni tetap ia pegang sebagai bagian dari identitas usaha keluarga ini.
Bagaimana kisah Lukman yang memulai usaha Roti Kukus Okurokus yang diinginan oleh istri? Pada tahun 2019, ide bisnis roti kukus ini muncul ketika istrinya yang sedang mengandung dan mengidam ingin menikmati roti kukus khas Bandung.
Lukman pun menganalisis peluang untuk menghadirkan kudapan serupa di Jakarta. Berbekal latar belakang pendidikan perhotelan, ia mengembangkan roti kukus dengan pilihan premium topping dan memulai usahanya dengan berbekal gerobak bekas mie ayam yang ia desain ulang sendiri.
Digitalisasi berbeda bentuk bagi setiap pelaku UMKM
Ia menjaga usaha tetap berjalan di tengah perubahan kebiasaan pelanggan membutuhkan cara baru.
Bagi Amin, adaptasi digital dimulai dari kebutuhan yang paling dekat dengan operasional harian cara melayani mahasiswa dan alumni yang semakin terbiasa bertransaksi secara nontunai.
Di tengah jam ramai kantin, pembayaran digital membantu proses transaksi berjalan lebih ringkas, mengurangi kendala uang kembalian, serta membuat pemasukan harian lebih mudah dicek kembali.
Sementara bagi Lukman, digitalisasi hadir dalam bentuk yang lebih luas seiring dengan perkembangan usaha Roti Kukus Okurokus.
Sejak awal, ia cukup terbuka dengan pemanfaatan teknologi seperti cara melayani pesan-antar, membuka opsi pembayaran digital, dan menggunakan catatan transaksi untuk membantu memantau alur pembayaran dengan mitra maupun vendor di berbagai Lokasi yang berbeda.
Bagi Lukman, teknologi bukan sekadar mengikuti tren, tetapi bagian dari cara menjaga ritme usaha agar tetap tertata ketika bisnis mulai melibatkan lebih banyak pihak.
Kisah bisnis Amin dan Lukman menunjukkan bahwa digitalisasi bagi pelaku UMKM tak selalu harus dimaknai sebagai perubahan besar-besaran atau dilakukan dengan cara yang sama.
Bagi usaha kecil, implemantasi digital bisa dimulai dari kebutuhan sederhana yang paling sering terjadi setiap hari, seperti menerima pembayaran, mencatat pemasukan, atau memantau arus kas.
Dari hal-hal mendasar inilah pelaku usaha dapat membangun kebiasaan pengelolaan keuangan yang lebih rapi dan berkelanjutan.
“Sejak awal, fitur DANA Bisnis kami rancang agar pemilik usaha di berbagai skala bisa lebih terbantu dalam menjalankan operasional mereka,” ungkap Olavina Harahap, Direktur Komunikasi DANA Indonesia salah satu anak usaha grup PT Dana Digital.
Apalagi, sekitar 40 persen dari jumlah UMKM yang ikut DANA Bisnis adalah pemilik usaha yang berasal dari kota-kota sekunder dan cenderung belum sepenuhnya memahami transaksi digital.
Ketika hal-hal mendasar ini mulai tertata, pelaku usaha memiliki dasar yang lebih kuat untuk mengambil keputusan, menjaga keberlanjutan bisnis, dan secara bertahap mengakses solusi finansial lain yang relevan, baik untuk kebutuhan pribadi maupun usahanya demikian Olavina Harahap.
Pada akhirnya, dari kantin kampus hingga gerobak roti kukus, kisah Amin dan Lukman memperlihatkan bahwa usaha kecil tidak pernah benar-benar kecil bagi orang yang menjalaninya.
Di balik setiap transaksi, ada keluarga yang dijaga, keputusan harian yang harus diambil, dan harapan agar usaha tetap tumbuh dari hari ke hari.
Kisah Es Campur Pak Teguh dan Roti Kukus Okurokus memperlihatkan bahwa digitalisasi bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan dasar untuk menjaga keberlanjutan usaha.
Pelaku UMKM perlu mulai mengadopsi sistem pembayaran digital, pencatatan transaksi, dan pengelolaan arus kas yang lebih tertata agar operasional usaha semakin efisien dan mampu mengikuti perubahan perilaku konsumen.
Bagi perusahaan teknologi finansial, keberhasilan digitalisasi UMKM juga menunjukkan pentingnya menghadirkan solusi yang sederhana, mudah dipahami, dan relevan dengan kebutuhan harian pelaku usaha kecil, terutama di kota-kota sekunder.
Pendekatan edukatif dan pendampingan berkelanjutan menjadi faktor penting dalam memperluas inklusi keuangan digital nasional.
Sementara itu, pemerintah dan pemangku kepentingan industri perlu memperkuat kolaborasi untuk mempercepat literasi digital UMKM melalui pelatihan, akses pembiayaan, hingga pendampingan teknologi yang aplikatif.
Langkah ini penting agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi nasional yang lebih adaptif dan kompetitif.
Digitalisasi terbukti dapat membuka peluang pertumbuhan bagi UMKM tradisional seperti usaha es campur dan roti kukus di atas.
Dengan memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan operasional sehari-hari, pelaku usaha mampu meningkatkan efisiensi, memperluas jangkauan transaksi, serta membangun fondasi bisnis yang lebih berkelanjutan.
Kisah Amin dan Lukman menjadi bukti bahwa transformasi digital dapat dimulai dari langkah sederhana, namun berdampak besar bagi masa depan usaha keluarga di Indonesia.
Penggunaan teknologi itu menjadi bagian dari budaya yang meningkatkan kualitas hidup. Bagaimana menurut Anda? #SalamSobatmmINDUSTRI
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form