Kisah nyatanya bikin haru terungkap dari kerja sama Java Fresh-DBS Foundation yang megantarkan buah Indonesia menembus 25 negara. Buah hasil pmberdayaan ribuan petani dan perempuan desa—dikemas dengan inovasi rantai pasok dan teknologi pertanian berkelanjutan.

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
mmINDUSTRI.co.id – Java Fresh & DBS Foundation (sumber): Di balik ekspor buah Indonesia yang kini menembus 25 negara, ada kisah yang jarang terdengar tentang: perjuangan petani kecil, perempuan desa, hingga lansia yang akhirnya mendapatkan kesempatan hidup lebih layak.
Berkat dukungan DBS Foundation (milik Bank DBS) dan Java Fresh yang bukan sekadar membuka pasar global—tetapi membangun sistem pertanian inklusif yang mengubah kehidupan dari hulu ke hilir.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Dari Tasikmalaya hingga pasar internasional, inilah cerita bagaimana inovasi, pendampingan, dan keberpihakan mampu mengangkat martabat petani Indonesia ke panggung dunia.
Di sebuah desa di Puspahiang, Tasikmalaya, Jawa Barat, perubahan besar justru dimulai dari hal sederhana: memilah dan membersihkan buah. Bagi Ibu Edah, pekerjaan itu bukan sekadar rutinitas—melainkan pintu menuju kehidupan yang dulu terasa mustahil.
Hari ini, buah yang ia tangani ikut menempuh perjalanan ribuan kilometer, menembus pasar internasional. Ia mungkin tak pernah melihat label ekspornya. Namun dari tangannya, buah Indonesia sampai ke sana.
Fenomena ini menjadi bagian dari transformasi yang lebih besar. Indonesia, sebagai salah satu produsen buah terbesar di dunia, terus memperkuat posisinya di pasar global.
Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat, ekspor hortikultura mencapai US$645,48 juta pada 2020, dengan buah-buahan menyumbang US$389,9 juta—melonjak lebih dari 30 persen dibanding tahun sebelumnya.
Namun di balik angka yang impresif itu, ada persoalan lama yang belum sepenuhnya terselesaikan: petani kecil kerap tertinggal dalam rantai nilai. Akses pasar terbatas, standar ekspor yang kompleks, serta distribusi panjang membuat kesejahteraan di tingkat hulu tidak selalu ikut meningkat.
Di titik inilah Java Fresh mengambil peran pro-aktif. Didirikan pada 2014, perusahaan sosial berbasis pertanian ini membangun jembatan antara petani kecil dan pasar global. Bukan sekadar membeli dan menjual hasil panen, Java Fresh merancang sistem dari hulu ke hilir—mulai dari pendampingan petani hingga inovasi pascapanen.
Salah satu langkah kunci adalah menghadirkan fasilitas packing house berlokasi di dekat sentra produksi. Strategi ini tidak hanya meningkatkan kualitas buah sebelum ekspor, tetapi juga membuka lapangan kerja baru di desa itu.
Dampaknya terasa nyata bagi Ibu Edah, pekerjaan tetap berarti penghasilan stabil dan kesempatan menyekolahkan anak hingga jenjang S2—sebuah capaian yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Di tempat yang sama, Ibu Emin yang memiliki keterbatasan fisik sejak lahir, kini mampu mandiri secara ekonomi dan bahkan membeli tanah dari hasil kerjanya. Sementara Ibu Nani, yang mulai bekerja di usia 60 tahun, membuktikan bahwa produktivitas tidak mengenal batas usia.
Kisah ketiga Ibu diatas menunjukkan bahwa rantai pasok global tidak hanya soal logistik, tetapi juga tentang manusia di baliknya.
Transformasi diperkuat dengan dukungan DBS Foundation
Melalui program pemberdayaan, Java Fresh mengembangkan riset dan teknologi untuk meningkatkan kualitas dan daya tahan buah, termasuk uji coba pengiriman manggis ke China dengan menggunakan teknologi Controlled Atmosphere hingga 29 hari.
Inovasi ini menjadi krusial di tengah tantangan distribusi global dan perubahan iklim. Dengan umur simpan yang lebih panjang, risiko kerugian dapat ditekan, efisiensi meningkat, dan daya saing produk Indonesia semakin kuat.
Hasilnya mulai terlihat. Java Fresh mampu menjangkau pasar di 25 negara, memperluas operasional ke berbagai wilayah baru, serta memberdayakan lebih dari 3.000 petani dan ratusan pekerja perempuan di pedesaan.
Bagi DBS Foundation, pendekatan a la Java Fresh ini sejalan dengan komitmen untuk mendorong businesses for impact—model usaha yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga menciptakan dampak sosial berkelanjutan.
Lebih dari sekadar ekspor, apa yang terjadi hari ini mencerminkan arah baru sektor pertanian Indonesia: kolaboratif, inklusif, dan berbasis inovasi.
Ke depan, tantangannya bukan lagi sekadar meningkatkan volume ekspor, tetapi memastikan bahwa setiap pertumbuhan juga membawa pemerataan manfaat. Bahwa petani kecil tidak hanya menjadi produsen, tetapi bagian penting dari ekosistem yang bernilai tinggi.
Dan mungkin, seperti Ibu Edah, banyak nama yang tak pernah tercantum di label ekspor. Akan tetapi, justru dari tangan-tangan itulah, masa depan pertanian Indonesia sedang dibangun—perlahan, tapi pasti, dari desa ke dunia.
Sebagai bagian dari komitmen untuk mendukung pertumbuhan social enterprises dan Businesses for Impact (BFI), DBS Foundation terus memperkuat ekosistem usaha yang mampu menciptakan dampak sosial berkelanjutan.
Salah satu penerima dana hibah dari DBS Foundation yang bergerak di sektor pertanian adalah Java Fresh, menunjukkan bagaimana inovasi dan pendampingan yang tepat dapat membuka akses pasar global sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia.
“Java Fresh lahir dari pemahaman bahwa kekuatan sektor pertanian Indonesia bukan hanya pada kapasitas produksinya, tetapi pada bagaimana sistem yang tepat dapat membuka akses, meningkatkan nilai tambah,” tutur Margareta Astaman, Co-Founder & CEO Java Fresh.
Menurut Margareta Astaman pihaknya memberdayakan petani sebagai pelaku utama di dalam ekosistem pertanian. Ia ingin memastikan bahwa ketika buah Indonesia berhasil menembus pasar internasional, manfaat ekonominya juga kembali dirasakan oleh para petani dan komunitasnya.
Mayoritas mitra Java Fresh merupakan petani mikro dengan kepemilikan lahan kurang dari 0,5 hektar. Selama bertahun-tahun, mereka menghadapi tantangan serupa: produktivitas yang terbatas, akses pasar yang sempit, hingga standar ekspor yang sulit dipenuhi tanpa pendampingan yang memadai.
Kehadiran fasilitas packing house di dekat sentra produksi buah meningkatkan kualitas buah sebelum memasuki pasar global, dan membuka peluang kerja formal bagi masyarakat lokal, terutama perempuan desa yang sebelumnya memiliki pilihan ekonomi terbatas.
Di balik rantai pasok buah yang menembus pasar global, ada cerita tentang perempuan-perempuan yang menemukan kembali kemandirian dan harapan.
Memutus rantai, membangun masa depan
Keberhasilan membuka akses pasar global bagi petani tidak hanya tercermin dalam angka ekspor, tetapi juga dalam perubahan nyata di tingkat komunitas.
Contohnya, Ibu Edah yang kini berusia 40 tahun kesulitan mencari pekerjaan karena peluang kerja lebih banyak tersedia di kota besar, sementara jarak yang jauh dari Bandung membuatnya tak berani merantau.
Keterbatasan pilihan membuatnya menikah di usia belia dan menjalani kehidupan yang tak jauh berbeda dari banyak perempuan desa lainnya, dibayangi tekanan ekonomi dan minimnya kesempatan untuk mandiri.
Perubahan dialamnya ketika Java Fresh membangun packing house di dekat sentra produksi buah di wilayahnya. Kehadiran fasilitas ini membuka akses kerja bagi perempuan desa, termasuk bagi Ibu Edah.
Ia kemudian menjadi salah satu dari tujuh perempuan pertama yang bergabung sebagai tim pembersih buah dan akhirnya memiliki pekerjaan tetap.
Ibu Edah mendapatkan pelatihan dengan standar internasional, penghasilan yang lebih stabil, serta keterampilan baru yang meningkatkan rasa percaya dirinya sebagai tenaga kerja profesional.
“Dulu saya tidak punya banyak pilihan. Sekarang, kalau kita mau terus belajar dan mau bekerja, pelan-pelan kesempatan itu datang sendiri,” tutur Ibu Edah.
Bagaimana pengalaman Ibu Emin (56), salah satu pekerja Java Fresh? Di usia yang menginjak kepala lima, Ibu Emin bekerja dengan tekun. Sejak lahir, ia memiliki keterbatasan pada tangannya. Kondisi tersebut tak pernah menghentikannya untuk terus berusaha supaya mandiri.
Seperti banyak perempuan desa lainnya, Ibu Emin menikah di usia muda dan menjalani kehidupan sederhana sambil membesarkan dua anak. Titik balik hidupnya terjadi ketika ia bergabung dengan Java Fresh pada 2017.
“Buat saya ini bukan cuma soal dapat penghasilan. Tapi lebih ke bukti kalau saya juga bisa bekerja dengan baik dan bisa membantu ekonomi keluarga,” pendapat Ibu Emin.
Dari hasil kerjanya, Ibu Emin membeli sebidang tanah, sebuah pencapaian besar dari kerja keras bertahun-tahun. Kini, ia tengah menabung untuk memperbaiki rumahnya, langkah kecil yang mencerminkan kemandirian yang perlahan ia bangun.
Kisah perubahan serupa juga diungkapkan oleh Ibu Nani Suryani. Ia memulai pekerjaannya di Java Fresh pada usia 60 tahun, sebuah usia ketika banyak orang justru mulai menutup perjalanan kariernya.
“Sejak kerja di Java Fresh, saya mempunyai penghasilan sendiri. Sedikit-sedikit bisa saya tabung, sampai akhirnya bisa membeli perhiasan emas dan memperbaiki tempat tidur di rumah,” beber Ibu Nani dengan nada haru.
DBS Foundation dan Java Fresh ciptakan solusi nyata
Kisah Ibu Edah, Ibu Emin, dan Ibu Nani merepresentasikan perubahan yang ingin dibangun Java Fresh: menciptakan sistem pertanian yang berorientasi pada produksi, dan menghadirkan kesempatan ekonomi yang lebih adil bagi petani dan komunitas desa.
Upaya tersebut semakin berkembang setelah Java Fresh memperoleh dukungan dana hibah dari DBS Foundation Grant Program 2024. Pendanaan ini digunakan untuk memperkuat riset dan pengembangan (R&D), khususnya dalam memperpanjang umur simpan produk dan meningkatkan penanganan pascapanen di tengah tantangan perubahan iklim dan distribusi logistik.
“Sebagai purpose-driven bank, Bank DBS Indonesia berkomitmen untuk tumbuh bersama komunitas melalui pilar keberlanjutan Impact Beyond Banking dan kehadiran businesses for impact (BFI) seperti Java Fresh sebagai mitra menjadi sangat krusial dalam mewujudkan komitmen tersebut,” papar Mona Monika, Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia.
DBS Foundation Grant Program sendiri merupakan inisiatif DBS Foundation sejak 2014 untuk mendukung ratusan social enterprise dan Businesses For Impact (BFI) di Asia yang menghadirkan solusi bagi berbagai tantangan sosial, mulai dari akses air bersih, ketahanan pangan, pendidikan, inklusi keuangan, hingga ketenagakerjaan inklusif.
Transformasi yang dilakukan oleh Java Fresh menunjukkan bahwa keberhasilan ekspor dapat diukur dari angka, dan dampak nyata yang dirasakan petani dan komunitas desa. Model bisnis berbasis inklusivitas, teknologi pascapanen, serta kemitraan strategis seperti bersama DBS Foundation.
Ketika akses, inovasi, dan kolaborasi bertemu, pertanian bukan lagi sekadar sektor tradisional—melainkan motor pertumbuhan ekonomi inklusif yang mampu membawa Indonesia bersaing di pasar global, tanpa meninggalkan petani di belakang. #SalamSobatmmINDUSTRI
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form