Proyek Urban BioeconomyLab merupakan solusi untuk memenuhi perkembangan kota masa depan dengan memanfaatkan potensi limbah menjadi bioekonomi sirkular.

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer IGB (sumber): Melalui inisiatif Urban BioeconomyLab, ahli Fraunhofer IGB menekankan pentingnya bioekonomi sirkular sebagai fondasi kota masa depan.
Pendekatan ini berfokus pada pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan untuk menciptakan sistem perkotaan yang lebih efisien, rendah limbah, dan ramah lingkungan.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Menurut rilis yang tayang di laman Fraunhofer IGB beberapa waktu lalu, tim ahli menyoroti bagaimana pergeseran menuju bioekonomi yang dapat mendukung transformasi kota menjadi lebih tangguh dan berkelanjutan.
Di mana pun manusia tinggal, mereka meninggalkan jejak—dalam bentuk limbah, air limbah, dan emisi.
Bioeconomy atau bioekonomi merupakan sistem ekonomi yang memanfaatkan sumber daya hayati seperti makhluk hidup, biomassa, mikroorganisme, dan proses biologi yang menghasilkan produk, energi, dan layanan yang berkelanjutan.
Tujuannya adalah mewujudkan ekonomi yang ramah lingkungan, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan menciptakan nilai tambah melalui inovasi bioteknologi.
Dikutip dari beberapa sumber, bahwa bioeconomy yang secara umum terdiri dari beberapa kategori seperti, bioenergi yang menghasilkan energi dari biomassa dalam bentuk biofuel (bioetanol, biodiesel), biogas, dan biomassa padat (wood pellet).
Selanjutnya, biomaterial dn bioproduk yang menghasilkan material berbahan hayati yang dapat menggantikan plastik atau bahan fosil seperti bioplastik, biopolymer, nano-cellulose, bahan bangunan berbasis biomassa.
Oleh karena tingkat urbanisasi yang tinggi di Jerman, limbah-limbah ini dihasilkan dalam jumlah yang sangat tinggi di lingkungan perkotaan. Hal ini menjadi alasan yang cukup untuk mencermati lebih dekat wilayah-wilayah metropolitan.
Para peneliti di Institut Fraunhofer untuk Rekayasa Antarmuka dan Bioteknologi (IGB) menyelidiki bagaimana pendekatan bioekonomi dapat diterapkan di perkotaan, dengan fokus pada daur ulang sumber daya dan ekonomi sirkular yang konsisten.
Dalam kerangka proyek “Lab Bioekonomi Perkotaan” atau Urban BioeconomyLab , para peneliti di Fraunhofer IGB mengembangkan tiga peta jalan regional berdasarkan metodologi yang dirancang khusus.
Penelitian ini telah diintegrasikan ke dalam strategi regional untuk bioekonomi perkotaan di Stuttgart, wilayah Rhine-Neckar, dan Karlsruhe di Jerman.
Metodologi ini didasarkan pada pengumpulan dan analisis data individual sehingga dapat disesuaikan dengan kota dan wilayah lain.
Model ekonomi dengan bahan baku terbarukan
Bagaimana ekonomi kita – dan dengan demikian masyarakat kita termasuk di Indonesia – dapat tetap berkelanjutan meskipun sumber daya semakin menipis dan menghadapi tantangan seperti krisis iklim?
Salah satu jawabannya terletak pada bioekonomi – sebuah model ekonomi yang mengandalkan bahan baku terbarukan dan ekonomi sirkular yang konsisten, yang menggabungkan bahan sisa yang sebelumnya terabaikan atau tidak terpakai sama sekali.
Idealnya, semua yang kita hasilkan harus didaur ulang. Akan tetapi, ekonomi sirkular ini tidak hanya terjadi di lokasi industri manufaktur – juga di pabrik dan fasilitas produksi lainnya.
Sebaliknya, kita juga harus berfokus pada tempat konsumsi terjadi. Dan itu terutama di kota-kota yang kita diami.
Menurut Statista, tingkat urbanisasi di Jerman terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir dan kini mencapai hampir 80 persen.
Ini berarti sebagian besar limbah, air limbah, dan emisi lainnya berasal dari wilayah perkotaan – belum lagi sebagian besar industri juga berlokasi di sekitar kota.
Pendekatan bioekonomi sirkular bertujuan untuk memanfaatkan aliran material perkotaan yang sebelumnya terabaikan ini secara ekonomis.
Ekonomi sirkular: Masa depan membutuhkan cara-cara baru untuk menciptakan nilai.
“Masa-masa ketika kita mampu bergantung sepenuhnya pada bahan bakar fosil, seringkali tanpa nilai tambah setelah penggunaannya, telah berakhir,” jelas Dr.-Ing. Ursula Schließmann.
Insinyur proses yang bergelar doktor ini adalah Wakil Direktur Fraunhofer IGB dan bertanggung jawab atas unit bisnis Perlindungan Lingkungan dan Iklim.
Dalam peran ini, Dr.-Ing. Ursula Schließmann memimpin proyek “urban BioeconomyLab”.
“Untuk terus hidup di lingkungan yang bersih dan sehat, kita harus mencapai transformasi biologis. Ini berarti mengganti bahan bakar fosil dengan sumber daya terbarukan dan sekunder serta mendaur ulang bahan sisa dan limbah – dan itulah inti dari bioekonomi,” tandas Dr.-Ing. Ursula Schließmann.
Tujuan tim peneliti adalah untuk mencapai ekonomi berkelanjutan dan netral iklim yang sekaligus membuka jalan bagi pertumbuhan lebih lanjut dan kemakmuran baru demikian Dr.-Ing. Ursula Schließmann.
Bagaimana bioekonomi berperan dalam membangun kota sirkular? Bagaimana potensi bahan baku yang dapat diolah menjadi bioekonomi yang berkelanjutan di Indonesia?
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form