mmINDUSTRI.co.id

Inovasi Ilmuwan Muda untuk Pencegahan Alzheimer

Cara pencegahan Alzheimer belum ditemukan. 10 ilmuwan muda tingkat doktoral Uni Eropa meneliti penyakit demensia atau lupa ingatan itu  melalui proyek CombiDiag. Di Indonesia jumlah penderita AIzheimer terus bertambah.

10 ilmuwan muda bekerja di proyek CombiDiag untuk mencari Solusi yang ampuh digunakan sebagai pencegahan Alzheimer atau dimensia atau menurunnya daya ingat terutama yang menimpa orang lansia.   (Foto/@: Fraunhofer IBMT)

Penuli.cis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer IBMT (sumber): Hingga kini para imuwan belum menemukan cara pencegahan Alzheimer. Para peneliti di bidang medis dan ilmu pengetahuan lainnya baru dapat mengurai gejala dan menghindari, namun belum menemukan obat yang ampuh.

Di Indonesia data tahun 2016, disarikan dari lamn yankes.kemkes.go.id dan alzi.or.id diperkirakan terdapat 1,2 juta orang denderita demensia seperti Alzheimer. Angka itu bakal meningkat menjadi 2 juta orang penderita pada tahun 2030 dan 4 juta pada tahun 2050.



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Bagaimana Pemerintah Indonesia mengatasi Alzheimer? Dilansir dari medcom.id, Kementerian Sosial yang bermitra dengan Alzheimer Indonesia, berupaya MelayanI orang berusia lanjut lebih baik untuk memperkecil dampak risiko demensia.

Program pemerintah antara lain menyebarkan informasi untuk meningkatan kesadaran masyarakat, pengurangan risiko, diagnosis, pengobatan, dan dukungan untuk pengasuhan. Pemerintah dan mitranya membuat program Asistensi Rehabilitasi Sosial yang berfokus pada pelayanan kepada para lansia atau lanjut usia, dan Masyarakat yang berisiko terkena demensia.

Risiko Alzheimer yang tampak adalah penderita yang mengalami gangguan ingatan, masalah orientasi, dan kesulitan bicara atau berkomunikasi dengan orang di sekitarnya merupakan tanda-tanda timbulnya demensia Alzheimer.

Pencegahan Alzheimer belum ditemukan meski para ikmuwan berusaha memperlambat perkembangannya dengan pengobatan dan tindakan pelayanan yang pro-aktif.

Salah satu cara yang dilakukan oleh para ilmuwan di Uni Eropa yang dikoordinir oleh para peneliti Fraunhofer IBMT di Jerman. Mereka mendirikan proyek yang dinamai CombiDiag singkatan dari Combined Early Diagnosis of Dementia sebuah jaringan doktoral yang didanai oleh Marie Skłodowska-Curie dari Horizon Europe.

Proyek CombiDiag bertujuan untuk melatih sepuluh mahasiswa tingkat doktoral di bidang penanda perifer multimodal dan penggunaan kombinatorialnya untuk diagnosis penyakit Alzheimer (AD) tahap awal.

Protokol diagnostik kombinatorial difungsikan sebagai alat penting untuk skrining dan identifikasi pasien secara akurat pada tahap awal terjadinya serangan Alzheimer, sebelum terjadi kerusakan ireversibel dan gejala terkait.

Tujuan dari proyek CombiDiag adalah untuk mengembangkan tindakan dan perawatan yang mengubah penyakit.

Fraunhofer IBMT menyumbangkan keahliannya dalam pengembangan elektroda cetak untuk aplikasi biosensor dan mikrofluida untuk proyek tersebut.

“Demensia adalah penyakit serius pada usia lanjut dan tantangan bagi masyarakat kita. Itulah sebabnya penelitian tentang penyakit ini juga termasuk dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan program Horizon Eropa Uni Eropa,” urai Prof. Dr. Stefan Teipel, peneliti Alzheimer di Klinik Kedokteran Psikosomatik dan Psikoterapi di Rostock (Jerman).

Ia mengoordinasikan program doktoral Eropa CombiDiag yang dibentuk untuk mendeteksi gejala yang terjadi pada tahap lebih awal, mengembangkan strategi pencegahan Alzheimer, dan diharapkan para ilmuwan muda menemukan obat baru.

Sepuluh ilmuwan muda dari berbagai negara terpilih bekerja di proyek CombiDiag. Mereka berasal dari Prancis, Denmark, Italia, Spanyol, Inggris, dan Jerman sebagai tempat untuk melakukan penelitian bersama di berbagai lokasi.

Ke-10 ilmuwan muda itu bekerja untuk  mengembangkan protokol diagnostik berbasis kecerdasan buatan  AI dan data untuk mendeteksi tahap awal penyakit Alzheimer.

Hasil studi berguna untuk pencegahan Alzheimer

Sebagai bagian dari program tersebut, jaringan komprehensif dibangun, dan sebuah studi akan diluncurkan untuk mengumpulkan beberapa biomarker—mencakup penelitian cairan tubuh (urin, darah, dan air liur) serta penanda digital untuk bicara, fungsi motorik, dan tidur.

Generasi muda peneliti yang baru itu mengikuti pelatihan intensif di bidang interdisipliner. Selama program doktoral tiga tahun, mereka akan menjalani program pelatihan yang terdiri dari kursus lokal dan jaringan, acara, dan sekolah musim panas, dan berpartisipasi dalam pertukaran intensif dengan mitra konsorsium.

Sembilan lembaga akademis dan delapan lembaga nonakademis di Eropa, AS, Kanada, dan Tiongkok terlibat dalam program ini.

“Melalui proyek CombiDiag para pakar akademis dan industri terkemuka dunia bertemu untuk mempromosikan keterampilan ilmiah mahasiswa doktoral serta pemikiran kreatif dan ekonomi mereka,” tutur Prof. Dr. Stefan Teipel.

Pada bulan Januari 2024, seorang ilmuwan muda memulai pekerjaan penelitiannya di proyek CombiDiag yang bertempat di Fraunhofer IBMT. Dia akan mengerjakan pengembangan perangkat lab-on-chip berbasis grafena cetak untuk mendeteksi biomarker cairan tubuh.

Fakta Proyek (nama lengkap): CombiDiag atau  Diagnostik Dini Kombinatorial Berbasis Biomarker Perifer untuk Demensia.

Kita kesulitan mendapatkan data jumlah para dokter spesialis pencegahan Alzheimer di Indonesia. Upaya yang dilakukan oleh para ilmuwan di Jerman, merupakan salah satu contoh yang layak dilakukan di Indonesia.

Populasi usia lanjut semakin meningkat, dan kita berharap agar hidup mereka lebih berkualitas: jangan membebani keluarga karena lupa ingatan atau demensia.

Untuk melengkapi informasi ini, silakan Simak video  https://www.youtube.com/watch?v=TW9QnZJm51o


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
Exit mobile version