GEOTHERMAL

Tiga Perusahaan Olah Sumber Panas Bumi di Sumatera

0
282
Di kawasan Gunung Rajabasa, Lampung seluas 19.520 hektar terdapat potensi panas bumi yang dapat diolah menjadi sumber energi, tentu saja jangan merusak status 5.189 hektar wilayah hutan lindung.

Perusahaan Chevron Geothermal & Power proaktif mengincar sejumlah cadangan panas bumi yang ada di Indonesia. Perusahaan  ini ingin mengembangkan  sumber energi alternatif menjadi pembangkit listrik. Saat ini saja,  perusahaan sedang melakukan survei pendahuluan terhadap cadangan panas bumi di Lampung dan Aceh.

130408-02a

Paul E Mustakim,  General Manager Policy,  Government and Public Affair Chevron Geothermal & Power Operations mengatakan pihaknya siap membantu pemerintah Indonesia untuk mengembangkan panas bumi sebagai energi alternatif.

Advertisement

“Di Lampung,  kami sedang melakukan survei 3G (Geologic,  Geophysic dan Geochemistry),  sementara di Aceh kami baru saja melakukan survei pendahuluan untuk mengetahui cadangan panas buminya,” katanya.

Paul meyakini kedua wilayah yang digarap Chevron itu memiliki cadangan panas bumi yang layak untuk dikembangkan untuk pembangkit listrik berskala besar.

Sayangnya,  Paul enggan berapa cadangan pasti panas bumi di kedua wilayah itu,  karena masih harus mengkoordinasikannya dengan pihak pemerintah.

Pengerjaan dua wilayah kerja pertambangan panas bumi itu menurutnya,  masih belum membutuhkan investasi besar,  karena belum masuk tahap eksplorasi.

“Anggaran untuk tahun ini memang tidak terlalu besar,  karena hanya untuk survei awal.  Melakukan survei 3G membutuhkan sekitar Rp50 miliar,  kalau survei pendahuluan itu lebih rendah.  Jadi, sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Proses pengembangan panas bumi di dalam negeri,  lanjut Paul,  masih memerlukan waktu yang lama.  Hal itu disebabkan proses perizinan dan tahapan pengembangan yang membutuhkan waktu sekitar 8 tahun hingga cadangan panas bumi itu dapat di produksi.

Saat ini sendiri,  memiliki dua wilayah kerja pertambangan panas bumi yang saat ini telah berproduksi di Salak dan Darajat.  WKP panas bumi di Salak memiliki cadangan sebesar 337 megawatt,  sedangkan di Darajat memiliki cadangan sebesar 270 megawatt.

Bangun listrik panas bumi senilai Rp6 triliun  

Di kawasan Gunung Rajabasa, Lampung seluas 19.520 hektar terdapat potensi panas bumi yang dapat diolah menjadi sumber energi, tentu saja jangan merusak status 5.189 hektar  wilayah hutan lindung.
Di kawasan Gunung Rajabasa, Lampung seluas 19.520 hektar terdapat potensi panas bumi yang dapat diolah menjadi sumber energi, tentu saja jangan merusak status 5.189 hektar wilayah hutan lindung.

Sementara itu, Kementerian ESDM berharap Supreme Energy berhasil merampungkan proyek pembangkit listrik panas bumi (PLTP) meskipun belum mendapatkan izin pinjam hutan dari Kementerian Kehutanan.

Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM Tisnaldi berharap Supreme Energy diharapkan tetap bisa menyelesaikan proyek PLTP Rajabasa kapasitas 110 MW.

Contohnya area PLTP Rajabasa seluas 19.520 hektar sebesar 5.189 hektarnya masuk dalam wilayah hutan lindung.  Namun,  Supreme Energy tetap bisa menggarap wilayah ini melalui pengajuan izin pinjam pakai hutan dari Kementerian Kehutanan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang kehutanan.

Pihak Supreme Energy belum mendapat izin dari Kementerian Kehutanan meski telah mengajukan izin sejak 2011 dan mengantongi rekomendasi dari pemerintah daerah setempat.

Presiden Direktur PT Supreme Energy Supramu Santosa menyatakan,  pihaknya telah memenuhi semua persyaratan teknis dan administrasi.  Dia berharap izin pinjam pakai segera keluar sehingga bisa melakukan pemboran sumur eksplorasi perdana.

“Meskipun telah menyiapkan investasi untuk proyek tersebut,  namun kegiatan eksplorasi pertama di WKP itu masih terkendala.  Saat ini,  kami masih menunggu keluarnya izin pinjam pakai kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan,” kata Supramu.

130408-02c

Hal ini berdampak pada jadwal operasi pembangkit panas bumi ini mundur menjadi 2017.  Awalnya,  Supreme merencanakan PLTP Rajabasa rampung pada 2016 menyusul ditekennya jaminan kelayakan usaha untuk PLN atas proyek tersebut diteken bersamaan dengan perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement).

Baca juga :   Mobil Toyota Buatan Indonesia Makin Mendunia

Supreme juga telah mengeluarkan dana US$638 juta atau sekitar Rp6 triliun untuk proyek ini.  Rencananya,  Supreme akan melakukan pemboran 4 hingga 5 sumur eksplorasi dan dilanjutkan dengan pemboran 20 sumur pengembangan.  Kapasitas PLTP Rajabasa direncanakan mencapai 2 x 110 megawatt (MW) dengan harga listrik US$9,5 per kilowatt hour (kWh).

Sarulla Operations butuh  US$1 miliar 

130408-02d

Sedangkan Sarulla Operations Ltd (SOL) memperoleh pinjaman sekitar US$1 miliar dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dan Asian Development Bank (ADB) yang digunakan untuk membiayai proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Sarulla di Tapanuli Utara,  Sumatera Utara.

Ibnu Nurzaman,  Head of Corporate Counsel PT Medco Power Indonesia mengatakan proyek pengembangan panas bumi sebesar 330 megawatt tersebut membutuhkan investasi US$1,4 miliar.  Sekitar 70 % pendanaan atau  US$1 miliar diperoleh dari pinjaman dari JBIC dan ADB.

Pengembangan Sarulla pertama kali dilakukan oleh Unocoal saat melakukan eksplorasi pada 1997.  Setelah dihentikan karena krisis moneter,  proyek PLTP Sarulla kembali dijalankan pada tahun  2002—setelah Keputusan Presiden No. 9/1997 dicabut dan Unocoal menjualnya kepada PLN pada tahun 2003.

Setelah mengalami beberapa kali pergantian pemegang konsesi,  pada 2006 proyek Sarulla jatuh kepada konsorsium SOL yang beranggotakan Medco,  Ormat,  Itochu, dan Kyushu.  Akan tetapi proyek tersebut tidak dapat langsung dilaksanakan,  karena terkendala persoalan jaminan untuk pinjaman dan pajak pengalihan aset.

Ibnu mengungkapkan setelah pihaknya melakukan penandatanganan joint operation contract (JOC) dan energy sales contract (ESC),  konsorsium akan melakukan financial closing selama 12 bulan.  Setelah itu,  konsorsium akan mulai melakukan pengerjaan proyek tahap pertama sebesar 108 megawatt yang ditargetkan dapat beroperasi secara komersil pada 2016.

Chief Operating Officer Power,  Mining and Downstream Medco Energy Budi Basuki mengatakan pinjaman dari JBIC dan ADB memiliki tenor 20 tahun.  Sementara ESC dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) akan berlaku selama 30 tahun.

Budi menyebutkan pihaknya memiliki waktu 2 tahun setelah financial closing untuk melakukan konstruksi PLTP tahap awal dengan kapasitas 108 megawatt.  Setelah itu,  konsorsium akan membangun PLTP tahap kedua dengan kapasitas 104 megawatt dan ditargetkan beroperasi secara komersial pada 2017,  kemudian tahap ketiga akan dibangun pembangkit 104 megawatt dan ditargetkan beroperasi secara komersil pada 2018.   (Sumber: tender-indonesia.com)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda