INDEKS KOTA HIJAU

Teknologi Penata Kota yang Semrawut dan Jorok

0
38
Kota Guangzhou di China Selatan adalah suatu tempat para profesional bekerja dengan penghasilan tinggi. Untuk meningkatkan kualitas hidup, manajemen kita menerapkan teknologi mutakhir agar lingkungan nyaman, asri, dan penggunaan cahaya listrik lebih efisien. (Sumber foto: Pictures of the Future/SIEMENS)

Warga lebih tertarik hidup di kota besar ketimbang di pedesaan yang berhawa sejuk. Penghasilan lebih besar di kota, namun kualitas hidup justru lebih mengkhawatirkan karena polusi. Mari belajar pada Singapura dan Curitiba di Brasil yang sukses menerapkan teknologil.Kita tunggu terobosan Jokowi-Ahok di Jakarta.

Kota Guangzhou di China Selatan adalah suatu tempat para profesional bekerja dengan penghasilan tinggi. Untuk meningkatkan kualitas hidup, manajemen kita menerapkan teknologi mutakhir agar lingkungan nyaman, asri, dan penggunaan cahaya listrik lebih efisien. (Sumber foto: Pictures of the Future/SIEMENS)
Kota Guangzhou di China Selatan adalah suatu tempat para profesional bekerja dengan penghasilan tinggi. Untuk meningkatkan kualitas hidup, manajemen kita menerapkan teknologi mutakhir agar lingkungan nyaman, asri, dan penggunaan cahaya listrik lebih efisien. (Sumber foto: Pictures of the Future/SIEMENS)

Sebagian besar kota di Asia dinyatakan terlalu padat, jorok, dan semrawut. Namun, sekarang banyak dari kota di Asia yang menjadi pelopor di dalam merencanakan perkotaan yang modern.  Sebagaimana diperlihatkan oleh Asian Green City Index yang memberikan penghargaan ke Singapura suatu peringkat yang mengagumkan. Teknologi dari Siemens membantu meningkatkan keberhasilannya.

Kota Guangzhou adalah suatu tempat di mana orang senang untuk bekerja tetapi tidak untuk tinggal, demikianlah yang dinyatakan oleh masyarakat China tentang pusat industri paling penting di negeri tirai bambu itu. Ibukota  provinsi Guangdong itu berada di bagian selatan China, pada saat  keajaiban perekonomian China bertumbuh demikian pesat sejak 30 tahun silam. Kota ini terkenal karena tingkat gaji para profesional yang tinggi meski kualitas hidup masih memprihatinkan yang disembabkan dampak polusi.

Advertisement

Populasi Guangzhou lebi 7,9 juta jiwa menghadapi lalu lintas yang macet, sering terjadi kabut asap, dan kekurangan bahan bakar yang berulang di musim panas. Tidaklah mengejutkan bahwa Guangzhou tidak dipertimbangkan sebagai salah satu kota di  China yang akan bersinar.

Akan tetapi, seperti bunyi pepatah tua tersebut cenderung melekat bahkan setelah kenyataannya telah berubah sejak lama. Ketika Guangzhou menjadi tuan rumah bagi sekitar 9700 atlit peserta Asian Games pada November 2010.  Para tamunya, sama halnya dengan jutaan pemirsa televisi, terkejut melihat sebuah kota di mana penduduknya terlihat senang menghabiskan waktu setelah menyelesaikan pekerjaan sehari-hari mereka.

Suatu distrik yang baru telah tercipta di pusat kota setelah beberapa tahun saja, seperti sebuah daerah yang dicirikan dengan banyak pencakar langit yang megah, taman-taman, tempat pejalan kaki di tepi sungai, dan sejumlah fasilitas kebudayaan.

Selain itu, sebuah sistem rel kereta publik menawarkan ratusan dari ribuan tujuan selain yang bisa dijangkau oleh bus dan mobil. Ciri khas dari Guangzhou baru ini adalah West Tower setinggi 432 meter, yang menjulang megah berlapiskan baja hingga terlihat sebagai sebuah titik yang bercahaya di waktu malam.

Pemerintah Guangzhou tidak sedang menarik kelinci   dari dalam topi. Sebaliknya, pemerintah memfokuskan perencanaan kegiatannya pada kebutuhan warga kotanya dengan menggunakan teknologi paling mutakhir untuk kota-kota itu menjadi lebih ramah lingkungan dan hemat energi, sehingga lebih menyenangkan dan nyaman untuk ditinggali oleh warga.

Banyak jalan keluar yang pada awalnya dikerjakan dengan Siemens. Sebagai contoh, Siemens memberikan teknologi bagi sistem transmisi bolak-balik tegangan tinggi yang mensuplai listrik ke Guangzhou secara sangat efisien dari pembangkit listrik bertenaga air di provinsi Yunnan, yang terletak sejauh 1.400 kilometer.

Pasokan ini tidak hanya menstabilkan jaringan listrik tetapi juga menjaga lingkungan dengan mensuplai listrik ke Guangzhou dari sumber-sumber yang dapat diperbaharui. Siemens juga mensuplai sistem-sistem penanda jalur-jalur kereta bawah tanah kota dan rel kereta penghubung  antara Guangzhou dan tetangganya Foshan. West Tower yang berkilauan juga “direkayasa oleh Siemens.” Sebanyak lampu  10.000 LED yang menerangi bangunan tersebut diproduksi oleh Osram.

Apa yang telah terjadi di Guangzhou juga sedang terjadi di banyak kota besar Asia lainnya. Negara-negara di Asia sedang berkembang menuju transformasi efisien  yang paling besar di dunia pada saat ini. Kota-kota di Asia adalah pelakunya. Banyak kota besar di Asia menjadi pelopor pengembangan kota modren, yang dapat dilihat pada Asian Green City Index. Indeks itu  sejalan dengan yang dibuat oleh Economist Intelligence Unit (EIU) atas nama Siemens di Eropa dan Amerika Latin. Indeks tersebut memberikan data objektif yang membantu kota-kota mengembangkan kemapanan lingkungannya melalui suatu pendanaan untuk berbagi pengetahuan.

200 kota didiami lebih dari satu juta jiwa

Tantangan yang dihadapi oleh kota-kota Asia saat ini besar sekali. Selama lima tahun, populasi kota-kota tersebut telah tumbuh sekitar 100.000 setiap harinya. Para ahli meramalkan bahwa China akan mempunyai lebih dari 200 kota dengan jumlah penduduk  lebih dari satu juta pada tahun 2025.  Pada tahun 2011 jumlah kita ini adalah 90. Sebagai perbandingan, sebanyak 25 kota di Eropa yang populasinya melebihi satu juta.

 

Ciri kota Guangzhou  adalah West Tower(Sumber foto: Pictures of the Future/SIEMENS)
Ciri kota Guangzhou adalah West Tower(Sumber foto: Pictures of the Future/SIEMENS)

Maka, kemapanan hanyalah pilihan yang paling terakhir bagi para perencana perkotaan—merupakan suatu persyaratan minimal. Berdasarkan pada Asian Development Bank, kota-kota di Asia perlu membangun 20.000 unit apartemen yang baru dan 250 kilometer jalan yang baru setiap hari, belum termasuk infrastruktur lainnya untuk mengangkut penambahan enam juta liter air minum per hari, jika mereka ingin mengatur peningkatan kualitas  populasi.

Singapura telah mengerjakan sebuah pekerjaan yang sangat bagus untuk mengatasi tantangan ini. Singapura mencapai hasil yang terbaik pada Asian Green City Index, sedangkan Hong Kong, Osaka, Seoul, Taipei, Tokyo, dan Yokohama menerima peringkat di atas rata-rata.

“Analisis dari kota-kota di Asia sangat jelas memperlihatkan bahwa pendapatan yang lebih tinggi tidak serta-merta diterjemahkan ke dalam konsumsi sumber daya yang lebih tinggi juga,” kata Jan Friedrich, yang mengepalai tim riset untuk penelitian EIU. Meskipun benar bahwa konsumsi sumber daya meningkat dengan tajam menjadi suatu produk domestik kotor per kapita tahunan yang berkisar €15.000, namun terjadi penurunan lagi ketika pendapatan per kapita meningkat lebih tinggi.

Dari sekian banyak temuan positif dari riset tersebut di antaranya adalah kenyataan bahwa rata-rata emisi CO2 tahunan per kapita adalah sebesar 4,6 ton di 22 kota Asia yang diteliti, yang lebih rendah daripada di Eropa (yaitu 5,2 ton CO2 per kapita per tahun). Kota-kota di  Asia juga memroduksi 375 Kg sampah tahunan per kapita, jauh lebih sedikit dibandingkan kota-kota di Amerika Latin (465 Kg) dan Eropa (511 Kg).

Akan tetapi, kota-kota di Asia perlu mengejar ketertinggalan dalam hal polusi udara dan sumber-sumber energi yang dapat diperbaharui, yang terhitung hanya 11 persen dari total produksi listrik di Asia. Jumlah tersebut jauh di bawah persentase bagi Amerika Latin, yang terutama menggunakan energi hidroelektrik dengan pembagian sebesar 64 persen.

Warga negara Singapura sangat bangga bahwa negara kota mereka telah mampu membuat lompatan dari Dunia Ketiga menjadi Dunia Pertama dalam kurang dari seabad. Lompatan itu dimungkinkan oleh sebuah strategi yang melihat jauh ke depan dengan melibatkan investasi yang sistematis dalam hal pendidikan dan penelitian. Saat ini, Singapura adalah salah satu pemimpin dari pusat teknologi pemurnian air laut. Singapura juga mempunyai salah satu jaringan transportasi umum yang terbaik di dunia dan telah memperoleh reputasi sebagai pelopor di dalam pengembangan dan penggunaan sistem-sistem administrasi pemerintahan yang inovatif.

Salah satu dari inisiatif negara kota yang paling baru bagi pengembangan lingkungan hidup, perlindungan terhadap iklim, dan pengurangan konsumsi energi yang lebih jauh adalah sebuah regulasi yang menetapkan bahwa bangunan-bangunan baru harus memenuhi standar-standar yang lebih tinggi bagi efisiensi energi dan ramah lingkungan di masa depan.

Singapura mempunyai suatu proyek acuan untuk aturan ini  yang dinamai City Square Mall—suatu kompleks perbelanjaan yang memerlihatkan bahwa bangunan-bangunan yang luas juga bisa efisien. Pengendali dengan sensor yang canggih bagi pencahayaan, ventilasi, dan pendingin ruangan pada mal seluas 65.000 m2 mampu menghemat listrik hingga 11 juta Kwh setiap tahunnya, yang sama dengan listrik yang dikonsumsi  2.000 apartemen dengan empat kamar. Untuk memastikan bahwa setiap orang tahu kalau penghematan ini benar, layar-layar video di mal tersebut memperlihatkan gambaran konsumsi air dan listrik yang sesungguhnya, sebagaimana halnya dengan parameter yang lain.

Baca juga :   Jangan Sampai Pihak Asing Kuasai Kekayaan Kita
Sistem transportasi publik yang baik meningkatkan kualitas hidup di Gaungzhou, China (gambar kiri), Bangkok, Thailand (gambar tengah) dan di Tokyo, Jepang (gambar kanan).  (Sumber foto: Pictures of the Future/SIEMENS)
Sistem transportasi publik yang baik meningkatkan kualitas hidup di Gaungzhou, China (gambar kiri), Bangkok, Thailand (gambar tengah) dan di Tokyo, Jepang (gambar kanan). (Sumber foto: Pictures of the Future/SIEMENS)

Dampak dari proyek tersebut meluas jauh hingga ke luar Singapura. Hal tersebut dikarenakan bahwa gedung-gedung menggunakan 40 persen dari konsumsi energi global, yang berarti bahwa penghematan yang dicapai dengan teknologi-teknologi yang termutakhir mempunyai suatu dampak yang sangat besar. Potensi bagi pengembangan di sini sedang diperlihatkan oleh Siemens pada tujuh kantor dan pabriknya di India, di mana perusahaan menginvestasikan €1,7 juta selama dua tahun berikutnya untuk membuat bangunan yang paling mutakhir yang mengarah pada suatu peningkatan efisiensi terencana  hingga 15 persen. Modernisasi ini tidak hanya peduli lingkungan dan ramah terhadap cuaca, tetapi juga peka terhadap perekonomian, karena konsumsi energi yang lebih rendah akan memperbolehkan Siemens untuk mengembalikan investasinya selama kurang dari empat tahun.

Pemotongan penggunaan energi sebesar satu berbanding tiga

Siemens juga memodernisasikan bangunan-bangunannya sebagaimana halnya pada rantai pusat perbelanjaan terbesar Korea Selatan, Shinsegae, yang berpusat di Seoul. Pendingin ruangan yang lebih efisien, pasokan listrik, dan sistem pencahayaan yang memampukan Shinsegae memangkas konsumsi listrik sebesar satu berbanding tiga dan mengurangi biaya operasi sebesar 20 persen. Siemens telah menerapkan proyek-proyek yang sama di banyak kota Asia. Stadion renang Olimpiade untuk Olimpiade di Beijing dan paviliun China pada Pameran di Shanghai dilengkapi dengan teknologi gedung dari Siemens, sebagaimana halnya menara kembar Petronas di Kuala Lumpur, gedung pencakarlLangit Taipei 101, dan gedung tinggi yang bernama Pacific Place di Jakarta.

Sistem-sistem transportasi adalah konsumen energi terbesar kedua di kota-kota. Kepemilikan sebuah mobil menjadi sebuah mimpi bagi kelas menengah di Asia sebagaimana halnya bagi orang-orang di negara-negara industri yang sudah mapan. Namun, mimpi tersebut biasanya berubah menjadi suatu dampak  buruk kemacetan lalu-lintas di kota-kota besar di Asia, sehingga para perencana perkotaan membangun kereta-kereta  bawah tanah dan sistem-sistem rel penghubung yang menawarkan sebuah alternatif yang menarik selain mobil. Sebaliknya, semakin besar dan rumit sistemnya, maka semakin besar pula permintaan atas teknologi pengendalian yang diperlukan untuk mengkoordinasikannya dan memastikan jarak yang sangat singkat di antara kereta-kereta api.

Bangkok menawarkan sebuah contoh yang bagus mengenai kesuksesan di dalam area ini. Jumlah mobil di ibukota Thailand tersebut telah berlipat ganda sejak tahun 1990 dan sekarang totalnya mencapai lebiuh  5,5 juta. Pada akhir tahun 1990, perencana kota di Bangkok kemudian menawarkan kepada Siemens untuk mengembangkan sistem kereta api penumpang cepat yang pertama di kota itu, bernama Skytrain BTS. Rel sepanjang 23 kilometer tersebut mampu mengangkut 400.000 penumpang setiap hari dan berhasil mencapai pembangunan menjadi kereta api bawah tanah yang pertama, yang saat ini telah membawa 180.000 orang per hari.

Pada tahun 2010, Siemens melengkapi jalur kereta api yang ketiganya untuk Bangkok, yang menghubungkan Bandara Suwarnabhumi  baru dengan pusat kota. Hasilnya, lebih dari 600.000 orang yang sehari-harinya menggunakan bus, taksi atau mobil pribadi, sekarang beralih menggunakan kereta api Bangkok, sehingga memberikan kelancaran bagi jalan-jalan kota dan lingkungan.

Siemens telah mengerjakan proyek-proyek yang sama di banyak-kota di Asia. Jalur kereta api bandara di Kuala Lumpur menggunakan sistem-sistem pengendali Siemens, dan demikian pula dengan Jalur Barat di Hong Kong dan rel kereta bawah tanah yang baru di Beijing dan Nanjing.

Semua contoh tadi memerlihatkan bahwa dua unsur selalu menjadi syarat bagi perencanaan perkotaan dewasa ini, yaitu pada satu sisi ada kemauan politik dan wawasan jangka panjang dari para pembuat keputusan, di sisi yang lain—inovasi-inovasi teknis yang memungkinkan konstruksi menjadi ramah lingkungan, hemat energi, dan menjadi infrastruktur yang ekonomis. Kota-kota besar di Asia dapat memenuhi kedua-duanya.

Curitiba kota di Brasil yang bersih (Sumber foto: Pictures of the Future/SIEMENS)
Curitiba kota di Brasil yang bersih (Sumber foto: Pictures of the Future/SIEMENS)

Perjuangan terhadap iklim fokus ke kota-kota di Amerika Latin

Pada tahun 2007, untuk pertamakalinya di dalam sejarah, lebih banyak orang yang hidup di kota-kota  ketimbang di desa. Akan tetapi, di Amerika Latin, saat-saat yang menentukan ini telah dicapai pada tahun 1960-an. Saat ini, lebih dari 80 persen orang Amerika Latin hidup di area-area perkotaan. Index Kota Hijau Amerika Latin, sebuah penelitian yang setengahnya dilakukan oleh Siemens bersama dengan Economist Intelligence Unit (EIU), mengujikan tantangan-tantangan dan kesempatan-kesempatan yang berhubungann dengan pembangunan ini.

Penelitian tersebut dipresentasikan pada November 2010 di Mexico City. Penelitian ini mengujikan ketahanan lingkungan hidup dari 17 kota dengan populasi yang melebihi satu juta di delapan negara Amerika Latin. Temuan yang paling penting adalah kota-kota tanpa suatu strategi jangka panjang yang terintegrasi mendapatkan peringkat di bawah rata-rata.

Sebuah contoh positif yang mengesankan tentang ketahanan tersebut ditawarkan oleh kota Curitiba di Brasil, yang diberi nama kota Amerika Latin “terhijau”, yang melampaui kota-kota lainnya karena pendekatan jangka panjangnya. Selama lebih dari 40 tahun, Curitiba telah mencapai suatu strategi untuk pengaturan perencanaan lalu-lintas dan pertumbuhan perkotaan secara efektif.

“Kenyataan bahwa warga Curitiba secara aktif berpartisipasi  di dalam proses politik telah memainkan suatu peranan yang besar di dalam pencapaian-pencapaian kota,” kata Walikota Curitiba, Luciano Ducci, ketika dia sedang berada di Mexico City untuk menandatangani Pakta Mexico City bersama dengan 137 orang walikota lainnya dari seluruh dunia. Pakta tersebut mewajibkan para penandatangannya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca mereka sebagai bagian dari Pertemuan Iklim Walikota Dunia di Mexico City yang menjadi tolok ukur ideal dari kesepakatan tersebut, sebagai contohnya adalah perlindungan lingkungan hidup yang konsisten dari ibukota Mexico untuk yang menjadi acuan bagi pengaturan di seluruh dunia.

Pada hari penandatanganan pakta tersebut, Pedro Miranda, kepala proyek Siemens Satu yang mengkonsolidasikan kegiatan-kegiatan pembangunan perkotaan yang mapan pada Grup Siemens, mengatakan,

“Perjuangan menyelamatkan iklim di bumi pastilah terus berjalan dan menang di kota-kota dunia, karena kota-kotalah yang bertanggungjawab atas sekitar 80 persen pembuangan CO2 buatan manusia.”

Penerapan teknologi modern adalah suatu keharusann jika kita ingin akan mengurangi emisi CO2 dari kota-kota. Pengembangan ini bisa dilihat di Amerika Latin, di mana Siemens sedang memberikan teknologi-teknologi termutakhir untuk membantu Buenos Aires dan Lima sebagai contohnya, untuk mengembangkan jaringan rel mereka. Siemens juga mendukung pasokan energy nasional Brasil dengan instalasi dari suatu sistem pengaturan energi yang barubagi Rio de Janeiro, Brasilia, dan kota-kota lain yang akan menjadi komponen pertama pada sebuah jaringan pintar Brasil mas adepan.

Contoh-contoh ini mengilustrasikan bahwa produk-produk dan pelayanan-pelayanan dari Portofolio Lingkungan Hidup Siemens sedang digunakan tidak hanyadi negara-negara industri yang sangat berkembang tetapi juga di dalam sebuah kenaikan jumlah dari pasar yang sedang tumbuh di Amerika Latin. Kepentingan ekonomis dari negara-negara ini akan tumbuh secara pasti di dalam beberapa tahun mendatang, yang sejalan dengan pertumbuhan penduduk di kota-kota mereka.

Bagaimana dengan penataan kota Jakarta? Kita tunggu terobossan yang dilakukan oleh Jokowi-Ahok yang hasilnya sudah mulai kita rasakan meski belum mampu menghadang banjir dan  kesemrawutan arus lalulintas yang masih macet. (Bahan diolah dari tulisan Bernhard Bartsch dan Andreas Kleinschmidt, Pictures of the Future/SIEMENS)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda