Teknologi dan Pengelolaan Sistem FarmCube

0
15
Dengan menggunakan server cloud—artinya secara fisik—petani tidak perlu memiliki server untuk menyimpan data pertanian—Korea Digital Co. Ltd perusahaan penyedia perangkat lunak di Korea Selatan, membantu sektor  pertanian khususnya yang menggunakan kubus atau tempat membudidayakan suatu jenis tanaman. Dengan menggunakan smartphone, tablet, atau Laptop, kita mudah mengelola pertanian. Misalnya ingin mengetahui keadaan cuaca, cukup melakukannya dengan alat SWS (smart weather system) yang dapat berhubungan dengan alat LoRa (alat pengatur udara, cahaya)—terkoneksi tanpa kabel. (Sumber foto: Korea Digital Co.Ltd)  

Jika tidak menguasai teknologi dan pengelolaan sistem farmcube, negara asing akan menjajah kita dari segi teknologi. Kita punya lahan namun karena keterbatasan ilmu pengetahuan, bibit, pupuk, dan teknologi—sepenuhnya akan kita beli kepada asing.

Dengan menggunakan server cloud—artinya secara fisik—petani tidak perlu memiliki server untuk menyimpan data pertanian—Korea Digital Co. Ltd perusahaan penyedia perangkat lunak di Korea Selatan, membantu sektor  pertanian khususnya yang menggunakan kubus atau tempat membudidayakan suatu jenis tanaman. Dengan menggunakan smartphone, tablet, atau Laptop, kita mudah mengelola pertanian. Misalnya ingin mengetahui keadaan cuaca, cukup melakukannya dengan alat SWS (smart weather system) yang dapat berhubungan dengan alat LoRa (alat pengatur udara, cahaya)—terkoneksi tanpa kabel. (Sumber foto: Korea Digital Co.Ltd)

Kenapa daging duren asal Bangkok lebih padat, besar, dan rasanya lebih enak/nikmat/gurih disbanding  duren lokal? Jawabannya tidak lepas dari penguasaan teknologi dan pengelolaan sistem farmcube. Demikian juga buah pisang dan buah-buahan lainnya—dikembangkan dan dibudidayakan dengan teknologi digital.

Selain meningkatkan kualitas tanaman itu sendiri, implemenasi atau penggunaan perangkat lunak maka dengan penguasaan teknologi dan pengelolaan sistem farmcube kita mampu meningkatkan produk atau komoditi pertanian yang tentu saja sebagian hasil panen disimpan di gudang. Dengan demikian, kelangkaan pangan dapat dihindari. Tengkulak tidak akan mempermainkan para petani dan pembeli (masyarakat).

Advertisement

Perusaaan asal Korea Selatan Korea Digital Co.Ltd yang telah mempunyai anak usaha di Indonesia, PT Kronesia—telah berhasil menyediakan 4 bagian perangkat lunak yang dapat dikembangkan dan digunakan di Indonesia. Meski Indonesia dijuluki negara agraris, kondisi pertanian kita jauh tertinggal jika dibanding dengan negara-negara lain seperti Thailand dan Taiwan.

Pertanian modern telah menggunakan teknologi seperti ciptaan Korea Digital yang menyediakan 4 jenis perangkat lunak yang dilengkapi program bisnis. Perusahaan Korea Digital bukanlah pelaku pertanian dengan memiliki lahan ratusan hektar tanah. Para petani justru membeli dan menggunakan perangkat lunak yang diciptakan oleh perusahaan Korea Digital.

Menurut Tristan Choi selalu asisten manager divisi Overseas sales team Korea Digital, keempat perangkat lunak yang disediakan perusahaannya meliputi pelatihan sensor, data logger, dan peralatan—ini masuk kategori ScienceCube.

Baca juga :   Milling Aksis Lima Presisi Transmisi Roda Gigi

Sedangkan sensor yang berkaitan dengan pengembangan industri, pemilik FarmCube dapat belajar untuk memahami manfaat CO2, O2, temperature, kelembaban, dan sebagainya sesuai kondisi dan kebutuhan suatu jenis tanaman—ini masuk kategori SenseCube.

Mendalami penguasaan teknologi dan pengelolaan sistem farmcube tentunya harus memahami sistem cuara secara otomatis diterapkan di pertanian, industri berbasis pertanian (dengan mengolah bahan baku hasil pertanian menjadi komoditi ekonomi misalnya tebu menjadi gula).

Bahkan pertanian yang dilakukan di tingkat perumahan sebagai home industry seperti budidaya sayuran untuk kebutuhan sendiri (rumah tangga). Perangkat lunak kategori AWSCube ini juga disiapkan agar cocok diimplementasikan untuk kebutuhan leisure (wisata) dan pendidikan.

Apakah sudah siap memasuki era teknologi dan pengelolaan sistem farmcube? Kita harus memberdayakan diri dengan penguasaan teknologi pertanian agar kita menjadi tuan di negara sendiri.

Jika lengah—artinya kita tidak mau belajar dan beradaptasi sesuai dengan era digital disruption—maka semua kebutuhan sektor pertanian sepenuhnya kita beli dari asing. Tentu kita tidak menghendaki yang demikian.

Simak Banyak Manfaat Digitalisasi Pertanian, Petani pun Hepi Main Ponsel  

 

Advertisement

Tulis Opini Anda