INVESTASI

Swedia dan Belarus Garap Industri Heavy Equipment

1
34
Frederik Reinfeldt Perdana Menteri Swedia (ANTARA/REUTERS)

Delapan perusahaan dari Swedia akan menggelonrotkan US$500 juta untuk menggarap industri sektor peralatan berat, otomotif,  furnitur,  pertambangan,  dan energi terbarukan di Indonesia.  Sementara itu, Belarus juga berencana membangun industri alat berat dan ban berukuran besar—sesuai dengan komit Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko.

Frederik Reinfeldt Perdana Menteri Swedia (ANTARA/REUTERS)
Frederik Reinfeldt Perdana Menteri Swedia (ANTARA/REUTERS)

Menteri Perindustrian M. S. Hidayat yang baru berkunjung ke ke Swedia dan Belarus menyatakan bahwa industri alat berat (heavy equipment)   di Belarus termasuk salah satu industri yang terbesar di dunia dengan hasil produksi seperti traktor,  eskavator,  mining dump truck,  dan ban besar.  Hampir 70 produksi alat berat diekspor ke pasar dunia, dan sebagian ke Indonesia. Alat berat buatan Belarus itu digunakan oleh para pelaku tambang di Indonesia.
Sementara itu, delapan orang chief executive officer (CEO) menemui Presiden Susilo Bambang Yudhyono ketika mengunjungi Swedia. Ke-8 CEO itu menyatakan akan segera berinvestasi sektor alat berat.  Oleh karena itu, pemerintah akan segera membereskan berbagai regulasi yang dianggap menghambat arus masuk investasi asing ke Indonesia.

Realisasi investasi Swedia di Indonesia pada 2012 mencapai US$5,2 miliar yang terserap pada 11 proyek. Meski nilai inbestasi relatif kecil dibandingkan dengan penanaman modal asing negara-negara lain, namun jumlahnya meningkat pesat dibandingkan proyek tahun 2011 yang nilainya hanya US$1,05 miliar. Nilai perdagangan di antara kedua negara pada tahun 2012 mencapai US$1,46 miliar atau meningkat sekitar 28 persen dibandingkan nilai perdagangan tahun 2011.

Advertisement

Sedangkan Perdana Menteri Swedia Fredrik Reinfeldt mengatakan kenaikan 50 persen jumlah perusahaan Swedia yang berinvestasi di Indonesia dalam dua tahun terakhir menunjukkan ketertarikan besar pengusaha Swedia terhadap pasar Indonesia yang dinamis. Ia menyebut Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga yang memiliki pertumbuhan cukup fantastis yaitu enam persen per tahunnya.

Menurut dia, besaran nilai pertumbuhan itu membuka potensi perdagangan antara kedua negara apalagi mengingat pertumbuhan ekonomi di kawasan Eropa masih berada di kisaran satu persen.

130610-01b

Undang Swedia ke Indonesia

Sementara itu, Presiden Bambang Susilo Yudhoyono mengundang para pelaku bisnis Swedia untuk melakukan investasi di Indonesia. Pihaknya terbuka untuk membahas regulasi yang bermasalah agar rencana investasi pengusaha dari Swedia lebih lancar. Menurut Yudhoyono dalam lawatan Perdana Menteri Reinfeldt ke Jakarta, November 2012, kedua negara telah sepakat untuk meningkatkan kerja sama di lima bidang utama yaitu investasi, perdagangan, pendidikan, lingkungan hidup dan perubahan iklim, serta pariwisata.

Baca juga :   Produksi dan Ekspor Meningkat

Lebih lanjut SBY mengemukakan bahwa Indonesia berniat untuk belajar lebih banyak dari pengalaman Swedia dalam upaya menjaga lingkungan hidup.Swedia konsep penanganan lingkungan hidup yang diakui dunia. Indonesia berharap dapat belajar dari pengalaman Swedia. Keberhasilan Swedia menekan penggunakan bahan bakar fosil hingga 50 persen dan menggantinya dengan energi terbarukan.

Pada kesempatan itu kedua kepala pemerintahan juga menyaksikan penandatangan nota kesepahaman Kerjasama di bidang Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan melalui Konsep Kota Hijau dan Kota Simbiosis yang dilakukan oleh Menlu Marty Natalegawa dan Menteri Perdagangan Swedia Ewa Bjorling.

Swedia merupakan mitra penting Indonesia dengan nilai perdagangan bilateral tertinggi di antara negara-negara Skandinavia. Dalam lima tahun terakhir perdagangan kedua negara menunjukkan kecenderungan peningkatan positif dan mencapai 6,91 persen.

130610-01c

Sementara itu, Menperin mengatakan Belarus memiliki kepentingan untuk membangun sebagian industri alat beratnya di tanah air karena mulai 2015 pemerintah melarang ekspor karet,  salah satu bahan baku utama industri ban dan alat berat.
Selama ini Belarus gunakan karet untuk produksi,  lalu hasilnya dijual ke seluruh dunia terutama ban.

Hidayat  menjanjikan fasilitas pajak serta akses pasar domestik dan regional bagi industri alat berat Belarus.  Selain itu,  pemerintah juga menjamin pasokan bahan baku dan mencarikan mitra lokal bagi perusahaan dari negara tersebut.  (Sumber: tender-Indonesia.com dan ANTARA)

Advertisement

1 KOMENTAR

  1. KEBIJAKAN TIDAK MENG EKSPOR BAHAN MENTAH HARUS TERUS DILAKUKAN DEMI KEMANDIRIAN BANGSA DAN MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA BARU YANG BESAR, KARENA INDONESIA SELAMA INI MENGANDALKAN EKSPOR BAHAN MENTAH DAN DENGAN NILAI JUAL RENDAH, SAYA YAKIN ATURAN INI AKAN MEMBUAHKAN HASIL MENJADIKAN INDONESIA YANG MAJU DAN MAKMUR.

Tulis Opini Anda