Sensor Peringatan Serangan Asma

0
0

130723-10a

Sebuah sensor gas yang baru dari Siemens bisa memberitahukan hingga berjam-jam tentang waktu jika seseorang berada pada risiko untuk mengalami suatu serangan asma. Sistem tersebut menganalisis pernafasan seorang penderita asma dan mendaftarkan ketika penerimaan udara penggunanya sudah hampir mendekati bahaya. Sistem ini memungkinkan pasien tersebut untuk mengambil obat-obatan penangkal untuk dapat mencegah serangan asma. Sebuah unit tiruan memerlihatkan bahwa dengan sensor yang baru maka sensitivitasnya sebesar sistem yang lebih mahal dan sulit untuk dibongkar-pasang.

Sebelumnya, satu-satunya jalan untuk memprediksikan sebuah serangan asma adalah dengan melakukan pemeriksaan paru-paru dengan biaya mahal aga dapat mengukur pernafasan pasien untuk menentukan konsentrasi dari gas nitrogen monoksida (NO) yang dilepaskan pada penerimaan udara sebagai hasil dari kesesakan. Pasien tersebut berisiko mendapat serangan asma jika pernafasannya mengandung NO pada tingkat yang tinggi. Sensor buatan Siemens itu memperbolehkan para pasien untuk menganalisis NO di dalam pernafasan mereka sendiri. Sistem tersebut mengubah NO menjadi nitrogen dioksida dan kemudian memungkinkan udara untuk mengalir ke seberang sensor yang sesungguhnya. Hanya partikel-partikel itulah yang memberikan tanda bahwa sebuah serangan asma melekat pada permukaan sensor. Sensor ini menghasilkan sebuah voltase yang diukur oleh sebuah transistor yang terhubung ke tanah. Voltase tersebut secara langsung bergantung pada konsentrasi dari nitrogen monoksida di dalam pernafasan pasien. Dengan bergantung pada jumlah gas itu, maka pasien akan mengetahu idosis minim obat-obatan yang harus dikonsumsinya. (Sumber: Siemens)

Baca juga :   Kemasan Ramah Lingkungan
Advertisement

Tulis Opini Anda