TENAGA SURYA

Sengatan Matahari Berkat bagi Kita

0
7
Pembangkit listrik tenaga panas matahari (surya) di areal padang gurun seluas satu kilometer persegi mampu memasok sekitar 250 juta kilowatt-jam listrik per tahun untuk 100.000 rumah tangga. (Foto/© : DLR)

Semakin banyak negara beralih ke energi terbarukan. Negara-negara Barat yang industrinya lebih maju sedang giat-giatnya berinvestasi di bidang pembangkit listrik tenaga panas matahari/surya. Hasil studi Bank Dunia menyimpulkan, negara-negara yang kurang maju di bidang penelitian tenaga listrik surya akan mendapatkan keuntungan dari perubahan itu. Bagaimana Indonesia memanfaatkan  tenaga panas surya menjadi listrik yang potensinya 10 kali lipat dari Jerman?

Pembangkit listrik tenaga panas matahari (surya) di areal padang gurun seluas satu kilometer persegi mampu memasok sekitar 250 juta kilowatt-jam listrik per tahun untuk 100.000 rumah tangga. (Foto/© : DLR)

Kita sering mengeluh jika sinar matahari demikian terik. Panasnya menyengat kulit. Berbeda dengan pendapat para ahli, semakin banyak sinar matahari justru semakin baik. Negara-negara yang banyak mendapatkan sinar matahari merupakan lokasi  yang sempurna untuk pembangkit listrik tenaga panas matahari/surya. Tenaga surya dapat dihimpun menjadi suatu pembangkit listrik dengan menggunakan cermin-cermin raksasa yang memantulkan sinar matahari ke tabung-tabung penerima yang berisi minyak, uap atau garam cair. Medium pengalihan panas menyerap energi dan mengantarnya ke turbin—di mana panas digunakan untuk menghasilkan listrik.

Puluhan pembangkit listrik tenaga panas matahari telah dibangun di Amerika Serikat (AS) dan Spanyol. Di Eropa pembangkit listrik berbentuk parabola disukai karena tabung penerima yang berisi cairan diposisikan tepat di atas cermin parabola. AS sedang membangun menara pembangkit listrik tenaga panas matahari yang dilengkapi sejumlah cermin yang memfokuskan sinar matahari ke puncak sebuah menara sinar matahari di tengah rangkaian.

Advertisement

Membuka ratusan ribu lapangan kerja

“Jika matahari semakin cerah dan langut tidak berawan hal itu semakin baik itu untuk menghasilkan listrik,” kata Christoph Kost dari Institut Fraunhofer untuk Solar Energy Systems ISE di Freiburg, Jerman. “Negara-negara di Afrika Utara dan Timur Tengah akan menjadi lokasi yang ideal untuk mengoperasikan pembangkit listrik tenaga panas matahari meski teknologi pemanfaatan tenaga surya belum begitu dikenal di kawasan ini.”

Ini bisa segera berubah: bekerja sama dengan sekelompok peneliti dari Institut Fraunhofer (Systems and Innovation Research ISI).  Kost dan timnya mendalami negara-negara yang belum begitu maju industrinya dapat memetik manfaat listrik yang dihasilkan tenaga matahari. Jika demikian, bagaimana mereka bisa mengimplementasikan teknologi ? Sebagai bagian dari kajian yang diprakarsai oleh Bank Dunia, peneliti dan mitra industri menganalisis situasi di Aljazair, Mesir, Yordania, Maroko, dan Tunisia.

Perusahaan tersebut dibiayai oleh dana teknologi bersih Bank Dunia. Pakar keuangan IMF ingin mengetahui apakah investasi di pembangkit listrik tenaga panas matahari di Timur Tengah dan Afrika Utara akan menguntungkan ekonomi setempat di negara-negara tersebut—hasil dari penelitian membesarkan hati.

“Pembangunan pembangkit listrik tenaga panas matahari akan menghasilkan win-win solution,” kata Kost yang ditambahkan koleganya Dr. Mario Ragwitz ahli dari Fraunhofer ISI,  “Teknologi pembangkit listrik dan komponen spesialis dapat dipasok oleh perusahaan-perusahaan di Eropa, yang akan membuka pasar baru bagi mereka. Negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara bisa memproduksi dan menyediakan sendiri sejumlah komponen dan melaksanakan tugas membangun dan mengoperasikan pembangkit tersebut.”

Negara-negara yang akan diuntungkan tidak hanya dari listrik hijau (tanpa limbah)  yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga panas matahari baru. Keuntungan juga diperoleh dari efek samping positif secara ekonomi: para peneliti ISE memperkirakan bahwa implementasi teknologi pembangkit listrik tenaga panas matahari di kawasan peneltian dapat menciptakan sekitar 60.000 hingga 80.000 lapangan kerja. Syaratnya, perusahaan-perusahaan lokal harus berkomitmen untuk berinvestasi pada teknologi tenaga surya, membangun fasilitas produksi, dan memberikan pelatihan yang diperlukan bagi para karyawan utamanya tehnisi.

Hasil kajian tersebut telah diserahkan kepada Bank Dunia, yang akan mendukung pembangkit listrik baru dengan pinjaman berbunga rendah. Maroko saat ini masih dalam tahap perencanaan untuk satu stasiun pembangkit listrik tenaga panas matahari, dan sudah ada banyak kontak antara perusahaan-perusahaan Eropa dan Maroko yang bekerja sama untuk membentuk rantai pasokan untuk komponen-komponen yang diperlukan.

Potensi tenaga surya di Indonesia

Indonesia pun memiliki potensi pembangkit listrik dengan tenaga surya. Wilayah nusantara  yang luas dan intensitas sinar matahari yang tinggi, semestinya Indonesia mendapatkan pasokan listrik dari tenaga surya yang jumlahnya jauh lebih besar  dibandingkan dengan potensi negara-negara yang disinggung di atas.

Deputi Managing Director German-Indonesian Chamber of Industry and Commerce (Ekonid) (Principal Advisor Deutsche Gessellschaft fur Internationale Zusammenarbeit Indonesia),  Rudolf Rauch menjelaskan, Jerman dengan intensitas matahari yang tidak terlalu tinggi, bisa membangkitkan listrik 25 ribu megawatt. Ia memuji bahwa Indonesia memiliki potensi 6 hingga 10 kali lebih besar dari Jerman.

Baca juga :   Penerapan Teknologi Muthahir di Seoul

Rudolf mengakui bahwa pengembangan pembangkit listrik tenaga surya membutuhkan investasi yang besar, contohnya pembangunan pembangkit surya berkapasitas 7.500 megawatt di Jerman membutuhkan 50 miliar Euro setara Rp 606,5 triliun.

Pemanfaatan tenaga surya di Indonesia (Sumber foto: http://statik.tempo.co/)

Menurut Rudolf biaya pembangunan pembangkit tenaga surya di Indonesia bisa lebih murah karena paparan sinar matahari 50 persen lebih banyak ketimbang Eropa. Pembangunan pembangkit berkapasitas 10 ribu megawatt misalnya, diperkirakan memerlukan investasi 10 miliar Euro (Rp121,3 triliun). Sementara itu, subsidi listrik mencapai 20 miliar Euro atau Rp242,6 triliun di Indonesia.

Rudolf berpendapat bahwa investasi tahap awal besar, namun biaya operasional pembangkit listrik tenaga surya relatif rendah untuk jangka panjang. Setrum yang dihasilkan pembangkit surya lebih menghemat biaya produksi industri.

Deputi bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto mengakui bahwa Indonesia memiliki potensi energi surya cukup besar. Namun, sebagai negara kepulauan, seringkali banyak awan, sehingga potensi setiap daerah tidak sama. Potensi yang sangat besar ada di daerah seperti Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana curah hujannya termasuk rendah.

Menurutnya, tenaga surya cocok digunakan untuk daerah terpencil, pulau-pulau kecil, atau juga pedesaan yang belum mempunyai jaringan listrik dari PLN. Rasio elektrifikasi di Indonesia masih sekitar 67 persen, yang berarti 33 persen rumah tangga belum menikmati listrik yang sebagian daerah-daerah itu terpencil.

Menurut Unggul, rencana pembangunan industri sel surya dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia harus diawali dengan penetapan standar komponen atau produk tersebut agar konsumen tidak rugi—dari segi biaya dan efisiensi listrik yang dihasilkan.

Unggul menjelaskan, perlu standardisasi komponen produk, pengujian besaran watt dari modul yang dijual di pasar, efisiensi sel surya, dan lain-lain yang akan memengaruhi luas lahan dan biaya konstruksi.

Unggul menjelaskan bahwa kontribusi energi surya di Indonesia masih sangat kecil. Target pemerintah pada 2025 sekitar 0,2-0,3 persen dan perlu 65 megawatt. Sementara, saat ini pembangunannya masih di bawah 10 megawatt per tahun. Oleh karena itu, untuk memenuhinya, PLTS perlu ditingkatkan, terutama di daerah-daerah terpencil yang kebutuhan listriknya masih belum terpenuhi.

China menghibahkan 1.000 unit solar panel

Sementara itu, China atau pemerintah Republik Rakyat Tiongkok menghibahkan 1.000 unit solar panel kepada Indonesia yang diterima secara simbolis oleh Plh Sesmenko Kesra Sugihartatmo di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pemerintah memanfaatkan hibah itu di daerah-daerah terpencil, terluar, terdepan yang masih sangat membutuhkan pasokan listrik.

“Teknologi ini diharapkan dapat mendukung terciptanya infrastruktur sosial yang ramah lingkungan,” kata Menko Kesra, Agung Laksono, usai menerima dan menyaksikan hibah itu di kantornya.

Director of Xuzhu Economic and Technological Development Zone Management Committe, Ding Wei, menjelaskan, surya panel ini sudah diterapkan di daerah-daerah terpencil di Tiongkok. Model ini juga telah digunakan di daerah pedalaman dan pegunungan.

“Hubungan antara Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok telah terjalin cukup lama dengan tujuan utama mencapai perbaikan-perbaikan dalam menyejahterakan masyarakat bagi kedua negara,” katanya.

Surya panel ini bisa dipasang di mana saja di lokasi yang tidak ada pasokan listrik umum. Misalnya di padang rumput, operasi di tempat terbuka, kehutanan, dan tempat-tempat lain. Pencahayaan surya ini portabel dan nyaman, indah dan praktis, tanpa polusi dan umurnya panjang.

“Beban sistem ini adalah dua lampu energi penghematan LED 4 watt yang diirekomendasikan untuk menggunakan 4 jam sehari. Setelah baterai penuh, di bawah kondisi cuaca yang sinar matahari kurang, sistem dapat menyediakan 4-5 hari, pencahayaan 4 jam sehari,” tutur Ding Wei.

Oleh karena itu, sepantasnya kita mensyukuri sengatan dan terik matahari yang berlimpah dan merupakan berkat bagi kita di Indonesia. Dan tentu saja kita harus menggunakan  otak agar mampu mengolah dan menjadikannya sebagai sumber tenaga listrik. (Diolah dari tulisan Monika Weiner; www.fraunhofer.de/magazine, ANTARA, TEMPO,dan BISNIS INDONESIA)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda