Rahasia Kristal Mistis Penghalau Bakteri

0
25
Bakteri staphylococcus berbahaya tumbuh di permukaan kristal apatite kalsium fosfat yang tidak dimodifikasi dengan substansi anti-mikroba.(Sumber  foto/©: Fraunhofer IGB)

Jika jumlah asam amino di bawah 50 molekul disebut peptide,  dan  jika jumlahnya meningkat melebihi 50 molekul,  bahan itu masuk kategori protein. Apa manfaatnya?

Bakteri staphylococcus berbahaya tumbuh di permukaan kristal apatite kalsium fosfat yang tidak dimodifikasi dengan substansi anti-mikroba.(Sumber  foto/©: Fraunhofer IGB)

Tim ahli terus bekerja untuk mencari satu cara ampuh untuk membunuh kuman atau mengisolisasi sehingga tidak menyebar dalam tubuh manusia.

Di proyek yang dinamai Biocapabili–kependekan dari Bone Implants for Local-Infection Inhibition–tim internasional bereksperimen dengan substansi dan komponen bervariasi seperti bahan perak, tembaga, dan ion seng serta enzim dan peptida yang mampu membusukkan bakteri atau kuman. Peneliti di Perancis sukses menggabungkan ion logam ke kristal apatite.

Advertisement

Kristal apatite adalah batu yang secara mistis dianggap dapat menstimulasi pemikiran dan gagasan. Benda ini digunakan ketika orang bermeditasi untuk   meningkatkan kecerdasan, imajinasi, dan kesadaran intuitif dan psikis. Dengan kristal apatite ini orang percaya dapat membantunya  untuk lebih kuat  dan mampu mempertahankan konsentrasinya secara efektif, berpikir jernih, dan bermunikasi dengan lebih baik.

Nah, tim ahli menggunakan bubuk dari benda kristal apatite yang dapat melindungi tubuh terhadap bakteri.  Hal itu dibuktikan oleh ahli biologi di laboratoroum IGB di Stuttgart. Timahli bermama Iris Trick mengambil sampel bubuk dalam pelat mikrotiter, menginfeksinya dengan berbagai spesies bakteri–termasuk berbagai jenis staphylococcus yang merupakan patogen rumah sakit yang paling umum dan kemudian diinkubasi untuk beberapa hari. Hasil yang  dicapai jumlah bakteri berkurang hingga 90 persen di sekitar krital apatite.

Lapisan protein yang dikembangkan oleh tim Fraunhofer tampak efektif. “Kita dapat menggunakan peptida untuk melindungi granula dan pelet apatite terhadap bakteri.” Peptida ini juga diproduksi oleh tubuh manusia untuk melawan infeksi.

Sementara peptida merupakan molekul yang terbentuk dari dua atau lebih asam amino. Jika jumlah asam amino di bawah 50 molekul disebut peptida. Namun,  jika jumlahnya lebih dari 50 molekul  maka bahan itu disebut protein. Asam amino saling berikatan dengan ikatan peptida.

Lapisan baru tersebut lolos tes mikrobiologi dengan flying colors, sejak bakteri berbahaya tidak dapat bereproduksi di permukaan pelet. Hal ini menunjukkan bahwa pelapisan peptida memungkinkan untuk menghasilkan implan tulan antibakterial.

Dosis itu menghasilkan racun

“Sayangnya, keefektipan antibakterial tidak cukup dalam dunia kedokteran,” jelas Dr. Anke Burger-Kentischer, manajer grup untuk teknologi sel molekuler di Fraunhofer IGB di Stuttgart. “Sebelum sebuah produk dapat digunakan dalam praktik yang harus dibuktikan tidak akan membahayakan pasien.”

Baca juga :   Meminimalisasi Korban Serangan Jantung

Para peneliti mengambil langkah pertama, mengekspos kultur sel manusia ke sampel implan dalam pelat mikrotiter. “Dengan bantuan tes sitotoksisiti ini, kita dapat menentukan jumlah ion logam, enzim atau peptida dalam sel granula yang dapat diberikan,” simpul Burger-Kentischer.

Langkah selanjutnya dilakukan tes klinis oleh tim Franco-German berkolaborasi dengan pelaku industri. Pihak yang berminat telah melakukan kontak dan itu bukan suatu kejutan dalam opini Trick.

Sementara itu, Burger-Kentischer  menambahkan, jumlah kuman multi-resisten akan terus bertumbuh pada masa depan. Sebuah produk tak hanya mencegah infeksi juga mempercepat proses penyembuhan adalah lompatan yang baik di pasaran tentu saja berpengaruh terhadap industri farmasi untuk menignkatkan kesehatan—sekaligus memberdayakan kesehatan manusia. (Bahan diolah dari Implanted infection protection tulisan Monika Weiner, Fraunhofer)

Simak Proteksi Infeksi (1)

Cara Membekuk Kuman Paling Nyaman

 

IGB, 60 tahun

Interface adalah tempat yang sangat spesial. Di situ tak hanya merupakan lokasi kontak di mana sesuatu terjadi atau di mana tim ahli bertemu, tetapi merupakan sesuatu yang baru menjadi kenyataan. Untuk mengetahui lebih tentang ruang transisional berukuran atom, sebuah laboratorium penelitian kecil didirikan di Kirchheimbolanden daerah Palatinate Jerman pada tahun 1953.  Kirchheimbolanden  dijadikan sebagai tempat untuk mempelajari kimia dan fisika dari interface,

Pada tahun 1962, manajemen laboratorium bergabung dengan Fraunhofer-Gesellschaft dengan nama Fraunhofer Institute for Physics and Chemistry of Interfaces.  Tujuh tahun kemudian, tim peneliti pindah ke kampus Stuttgart University dan sangat terlibat dalam process engineering yang berdampak pada nama insitusi saat ini: Fraunhofer Institute for Interfacial Engineering and Biotechnology IGB.

Pada tahun 1981, Fraunhofer IGB bergabung dengan kampus Fraunhofer di Stuttgart Vaihingen. Lembaga itu merupakan rumah bagi tim penelitian interdisipliner yang mengerjakan topik kedokteran, farmasi, kimia, teknologi lingkungan, dan energi.

Advertisement

Tulis Opini Anda