TEKNOLOGI KEAMANAN (2)

Radar Bergelombang Milimeter Deteksi Peledak

0
2
Kecanggihan teknologi informasi mampu “menggemgam” dunia. (Sumber foto: http://weiliwang90.files.wordpress.com/)

Jangan sampai orang-orang takut saat melewati gerbang pemeriksaan. Sedang dikembangkan sistem peringatan dini untukbahan nuklir, biologi,dan kimiaberbahaya yang berbasis padatelepon seluler serta pengembangankartu chip plug-in.

Kecanggihan teknologi informasi mampu “menggemgam” dunia. (Sumber foto: http://weiliwang90.files.wordpress.com/)
Kecanggihan teknologi informasi mampu “menggemgam” dunia. (Sumber foto: http://weiliwang90.files.wordpress.com/)

Deteksi yang dibutuhkan terhadap bahan peledak merupakan tantangan besar. Fraunhofer Institute for Applied Solid State Physics IAF dan for Non-Destructive Testing IZFP bekerja sama dengan Fraunhofer Institute for Telecommunications, Heinrich-Hertz-Institut, HHI dan FGAN Research Institute for High Frequency Physics and Radar Techniques FHR untuk mengembangkan radar inovatif dengan gelombang milimeter yang dapat mendeteksi senjata dan bahan peledak pada tubuh manusia.

Para peneliti harus meningkatkan efisiensi dari teknologi  dan lebih mengutamakan untuk mengambil faktor manusia sebagai pusat perhatian. “Pemeriksaan tidak harus memakan waktu terlalu lama dan radiasi tidak boleh berbahaya, atau orang-orang akan takut untuk melewati gerbang pemeriksaannya,” jelas Klaus Thoma.

Advertisement

Enam Institut Fraunhofer lainnya bekerja pada sebuah konsep sistem peringatan dini untuk bahan nuklir, biologi dan kimia berbahaya, yang berbasis pada telepon seluler. Tujuan mereka adalah untuk mengembangkan kartu chip plug-in atau tampilan yang sesuai dengan sensor eksternal untuk ponsel yang dijual di pasaran, yang akan memungkinkan polisi, petugas pemadam kebakaran atau petugas bea cukai untuk mengukur jenis-jenis radiasi atau zat berbahaya tertentu di wilayah yang luas, bila diperlukan.

“Jika data ini dikumpulkan melalui jaringan selular dan dianalisis di lokasi pusat, gambaran yang dapat diandalkan tentang situasinya dapat dikompilasi dengan sangat cepat,” jelas Klaus Thoma tentang tujuan dari proyek penelitian ini. Untuk lebih berhasil, konsep itu memerlukan sensor yang sangat maju serta pengumpulan data dan analisis yang handal di wilayah yang luas.

Organ-organ politik menempatkannya pada struktur organisasi

Hanya ada tiga dari banyak proyek keamanan yang sedang dikerjakan oleh para peneliti Fraunhofer ini. Lima belas Fraunhofer Institute di antaranya adalah peserta pada konferensi tentang ‘Penelitian Keamanan di Jerman’, di mana industri tersebut memaparkan proyek-proyek dan topik penelitiannya.\

Sistem teknologi informsi yang mampu mendeteksi sinyal gangguan keamanan. (Sumber foto:  http://www.gigroup.co.in/)
Sistem teknologi informsi yang mampu mendeteksi sinyal gangguan keamanan. (Sumber foto: http://www.gigroup.co.in/)

Organ-organ politik saat ini telah menempatkannya pada struktur organisasi mereka. Wabah penyakit yang muncul di dalam sistem Jerman terutama disebabkan oleh banjir Elbe pada musim panas 2002. Sesuai dengan Undang-Undang Dasar Jerman, pemerintah federal bertanggung jawab untuk perlindungan sipil jika negara sedang diserang, sedangkan kontrol bencana adalah masalah untuk Länder, yang sangat membutuhkan koordinasi yang lebih baik.

Baca juga :   Gangguan Bukan hanya dari Teroris

Sejak Mei 2004, akhirnya diciptakanlah Kantor Federal untuk Perlindungan Sipil dan Penanggulangan Bencana yang baru, yang bertindak sebagai pusat layanan manajemen krisis untuk Länder juga, dan bertanggung-jawab untuk membangun kapasitas penelitian di dalammeningkatkan pencegahan bencana.

Langkah-langkah pertama menuju kebijakan riset keamanan Eropa telah dicapai pada 2004. Pada tahun 2004 dan 2005, Uni Eropa menginvestasikan sekitar 15 juta euro untuk mendukung teknologi keamanan yang baru. Seiring dengan lembaga penelitian dan perusahaan di Inggris dan Prancis, Jerman adalah penerima manfaatyang terbesar.

Negara-negara di Uni Eropa sangat mendukung penelitian keamanan melalui beberapa proyek kerja sama. Pada saat yang sama, European Security Research Advisory Board ESRAB telah menyusun kerangka umum untuk program riset keamanan Uni Eropa pertama, yang diluncurkan pada tahun 2007. Anggaran penelitian satu miliar euro per tahun telah dibahas dan ditentukan. Di antara anggota ESRAB adalah Profesor Klaus Thoma. Dia tidak hanya mewakili Fraunhofer-Gesellschaft, tetapi juga Republik Federal Jerman atas prakarsa kementerian-kementerian federal yang mengurusi tentang interior, pertahanan dan penelitian.

Prioritas dari negara anggota Uni Eropa sangat bervariasi dan saling mempercayai tentang isu-isu yang berhubungan dengan keamanan yang baru mulai muncul. Thoma mengharapkan dimulainya program penelitian untuk keamanan bersama di Uni Eropa, yang menjadi jalan menanjak meskipun kemajuan-kemajuan telah dicapai. Meskipun peran utama dari Fraunhofer-Gesellschaft tidak terbantahkan di seluruh Eropa, ia percaya bahwa di masa depan, kontrak masih lebih mungkin untuk datang dari pemerintah federal dan Länder, serta dari industri di Jerman.

Tujuan utamanya adalah untuk memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap serangan teroris, bencana alam, kecelakaan besar dan kejahatan terorganisir, dengan menerapkan teknologi keamanan yang baru. Tetapi, teknologi tinggi yang modern sekalipun tidak akan dapat menjamin keamanan secara mutlak.  (Diolah dari Better security tulisan Doris Banzhaf, Fraunhofer)

Simak artikel terkait dengan topik TEKNOLOGI KEAMAN (1)
Gangguan Bukan hanya dari Teroris

Advertisement

Tulis Opini Anda