PT PINDAD: Inovasi Produk Komersial Terus Jalan

0
23

Peralatan kapal jadi produk unggulan

PT Pindad (Persero) selalu diidentikkan dengan industri senjata. Hal itu tidak salah, karena memang fokus perusahaan ini adalah memproduksi senjata dan amunisi untuk kebutuhan militer. Tetapi selain produk militer, BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang berbasis di Bandung, Jawa Barat, ini sebenarnya juga membuat produk-produk komersial yang dipasarkan ke sektor industri bahkan sudah diekspor.

Berada di bawah naungan Direktorat Produk Komersial, pembuatan barang-barang komersial sudah dilakukan sejak tahun 1983. Berbasis pada fasilitas produksi yang cukup memadai dan didukung oleh kemampuan sumberdaya manusia, perusahaan pelat merah ini mampu membuat produk-produk yang padat teknologi dan yang belum tersentuh oleh sektor swasta.

Advertisement

Menurut General Manager Divisi Mesin Industri &Desain Ir D Bambang Mulyono MM, sebagian produk komersial yang dibuat oleh Pindad merupakan arahan langsung dari BJ Habibie, yang ketika itu selain menjabat sebagai Menristek juga sebagai Ketua Pengarah BUMN-BUMN industri strategis atau BUMNIS.

”Peralatan kapal laut, misalnya. Dulu misinya Pak Habibie adalah Pindad pun harus sebisa mungkin menunjang ke komponen dalam negeri yang mengarah ke kapal laut. Bisnis pengereman kereta api, ini juga salah satu dari pengarahan Pak Habibie bahwa kita pun harus membantu industri transportasi,” jelas Bambang mengenai latar belakang produksi sebagian produk-produk komersial tersebut.

Dalam perjalanannya, produk komersial ini mengalami perkembangan yang signifikan baik dari sisi produk maupun pendapatan. Dari sisi produk, misalnya, hingga sekarang sudah ada tiga divisi plus unit bisnis setingkat divisi yang ruang lingkupnya benar-benar menghasilkan barang komersial. Ketiga divisi tersebut adalah Rekayasa Industri yang bergerak di sektor industri agro bisnis dengan kompetensi di bidang engineering procurement dan construction. Divisi ini sudah membangun beberapa pabrik CPO (kelapa sawit), termasuk milik PT Astra Agro Lestari. Kemudian Divisi Tempa & Cor yang diarahkan pada produksi massal. Divisi membuat produk penambat rel kereta api (clip) yang disuplai kepada PT Kereta Api, dan casing pompa pesanan dari beberapa perusahaan swasta nasional. Divisi Mesin Industri&Desain membuat peralatan kapal laut (marine equipment) yang disuplai ke galangan-galangan kapal, kemudian atas dasar lisensi Knorr Jerman memproduksi sistem rem kereta api yang disuplai ke PT INKA dan PT Kerata Api. Divisi ini juga dilengkapi dengan departemen repair dan maintenance motor-motor listrik dan generator. Yang terakhir ini merupakan kelanjutan dari industri generator yang dulu pernah dikembangkan oleh Pindad namun terpaksa tutup akibat krisis moneter yang menimpa Indonesia beberapa tahun lalu. Selain itu, Divisi Mesin Industri ini juga telah berpengalaman membuat mesin pemotong kayu bahkan sudah pernah diekspor ke manca negara.

Sementara dari sisi pendapatan, grafik-nya terus mengalami kenaikan. Seperti dikatakan oleh Bambang, jika pada tahun-tahun sebelumnya pendapatan antara Direktorat Produk Militer dan Direktorat Produk Komersial cenderung didominasi oleh produk militer, tapi dalam beberapa tahun terakhir sudah mengarah pada posisi 60 persen dari produk militer dan 40 persen dari produk komersial. Bahkan tahun 2007, penda-patan tersebut ditargetkan harus ber- imbang, yaitu masing-masing 50 persen.

Menurut Bambang, guna mendukung perkembangan produk komersial, manajemen Pindad juga tidak menutup kemungkinan apabila ada unit bisnis atau departemen yang berkembang untuk dijadikan sebagai divisi tersendiri atau anak perusahaan.

”Misalnya peralatan kapal laut (salah satu departemen di bawah Divisi Mesin Industri), seandainya memungkinkan pada tahun 2009 ditargetkan dengan omset Rp 50 miliar, bisa saja dengan pengkajian yang lebih dalam menjadi divisi tersendiri atau menjadi anak perusahaan. Termasuk yang generator (juga salah satu departemen di bawah Divisi Mesin Industri), kalau kita terlibat dalam program 10.000 MW (Program pemerintah untuk percepatan pembangunan pembangkit-pembangkit tenaga listrik untuk lima tahun ke depan-Red), dan kita harus bangun lagi produksi generator, itu bisa saja jadi divisi atau anak perusahaan,” jelasnya.

Peralatan maritim, produk unggulan

Salah satu kompetensi yang jadi unggulan Pindad adalah membuat peralatan-peralatan kapal laut  (marine equipment), seperti deck machinery dan steering gears. Bisnis ini, kata Manager Peralatan Laut Rochim Irawadhy, dimulai pada tahun 80-an bekerjasama dengan Hatlapa, sebuah perusahaan terkemuka di bidang deck machinery dengan spesialisasi di bidang low pressure dari Jerman. Namun, sejak tahun 90-an, kerja sama tersebut kemudian terhenti.

Kendati tanpa kerja sama dengan pihak luar, namun berkat pengalaman yang sudah ada, Pindad terus bergerak sendiri. Bahkan setelah kerja sama tersebut terhenti, perusahaan ini malah menjadi lebih fleksibel karena bisa menggarap peralatan kapal yang high pressure dari sebelumnya low pressure. Kompetensi ini kemudian ternyata jadi salah satu keunggulan dari Pindad.

Dengan spesialisasi baru tersebut, Pindad bukan saja mampu menghadapi  kompetitor-kompetitor besar yang berasal dari Singapura, Korea, Jepang, China, dan Jerman, tetapi cenderung kelebihan order.

”Sekarang ini, pasar perkapalan sudah mulai ramai lagi. Apalagi Otda (otonomi daerah), sehingga masing-masing (Pemerintah Daerah) membuat kapal sendiri. Jadi sekarang ini agak kewalahan sebetulnya memenuhi demand,” ujar Rohim.

Lebih jauh Rohim mengungkapkan bahwa order-order tersebut datang dari berbagai galangan kapal di seluruh Indonesia yang jumlahnya di atas 200-an, termasuk di antaranya PT IKI, PT PAL, PT Bayu Bahari, PT Daya Radar Utama, PT Caraka Jaya, PT Destini, PT Benua raya,  PT Dumas Shipyard, PT Ben Sentosa, PT Adiluhung, dan galangan lainnya.

Baca juga :   Cara Kerja Mesin Miling Maksimal, Lebih Hemat Energi

Menurut Rohim, yang sekarang sedang menggarap pembuatan windlass, mooring winch dan steering gear untuk tanker berkekuatan 6.500 DWT pesanan PT Destini, dan peralatan deck machinery untuk kapal tanker berkekuatan 17.500 DWT, banyaknya pesanan yang datang kepada pihaknya karena metoda produksi yang mengikuti kebutuhan customer.

”Kita berbeda dengan kompetitor lain, karena kompetitor lain produksinya bisa massal, tapi kita sesuai dengan permin-taan. Dia belinya seperti apa, jadi kita buatkan. Kita mengacu toh jika membuat kapal nggak cepat, jadi kita ada waktu untuk membuat (sesuai dengan pesanan),” jelasnya.

Yang juga menjadi kelebihan Pindad, kata Rohim, adalah keberanian mene-rima pembuatan produk kendati produk tersebut belum pernah dibuat sebelumnya. ”Yang selama ini tidak pernah buat, tapi dikasih kesempatan, seperti mem-buat shell door (pintu di kapal), kita buat. Kami juga mengerjakan crane, membuat accomodation ladder (tangga kapal dari bahan aluminium yang sekaligus berfungsi sebagai pagar dan biasanya digunakan pada kapal penumpang). Selama kita masih bisa, ya kita bikin. Sehingga dulu banyak produk yang biasanya dibeli di luar negeri, sekarang diproduksi di dalam negeri,” ungkapnya.

Nilai tambah lainnya adalah dukung-an purna jual. ”Keunggulan Pindad yang jelas adalah on-call. After sales service. Di mana-mana terutama kapal yang berlayar di Indonesia kalau ada masalah, bisa langsung datang. Tapi kalau (supplier) dari luar, agak susah,” ujarnya.

Menurut Rohim, hampir seluruh produk deck machinery sudah bisa dibuat oleh Pindad kecuali komponen standar, seperti electric motor, yang memang sudah banyak di pasar sehingga tak perlu dibuat lagi. Peralatan-peralatan tersebut di antaranya adalah mooring winch, wind-lass, topping winch, cargo winch, sliwing winch, capstan, anchor capstan, electric anchor windlass, combined anchor/ mooring winch, dan cargo. Selain itu, ada juga steering gears, crane, shell door, dan accomodation ladder.

Peralatan-peralatan ini, kata Rohim, adalah untuk berbagai jenis kapal, mulai dari tanker, ferry, roro, tongkang hingga kapal latih. Sedangkan pembuatannya disesuaikan dengan keinginan pemesan, apakah berdasarkan kelas Biro Klasifi-kasi Indonesia (BKI), Germanischer Lloyd (GL), ataupun Lloyd Register (LR).

Bisnis peralatan kapal laut cukup prospektif mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dan membutuhkan banyak kapal sebagai alat transportasi. Keterlibatan Pindad sebagai salah satu pemain di industri ini, kata Rochim, cukup positif karena selama ini bisnis tersebut lebih banyak dikuasai oleh pemain-pemain asing.

”Sebagai contoh Batam. Di sana banyak galangan kapal, namun hampir semua dikuasai oleh Singapura,” ujarnya. Karena itu, tambahnya, pihaknya sekarang tengah menjajaki kemungkinan membuat perwakilan di Batam agar  bisa juga ikut bermain.

Inovasi terus berjalan

Di samping meme-lihara produk–produk yang sudah ada, PT Pindad juga terus  melakukan pengem-bangan produk baru. Salah satu dari hasil pengembangan tersebut adalah kendaraan fungsi khusus yang berada di bawah unit pengembangan kendaraan fungsi khusus.

Menurut Manager Marketing Pramadya, unit ini sudah membuat panser. ”Yang masih produk komersial tapi produknya kebetulan untuk militer, ya panser. Kita sudah membuat berbagai jenis, mulai dari 4×4 untuk tipe polisi dan tentara, panser watercanon, panser 6×6 dengan dua tipe,” katanya.

Bahkan, ujar Pramadya, Pindad juga mampu membuat panser yang sama seperti yang pernah dibeli oleh TNI dari Perancis untuk digunakan pasukan perdamaian Indonesia yang dikirim ke Libanon tahun lalu. ”Kita membuat semacam itu, tapi desain sendiri. Dan satu unit sudah dikirim ke TNI tahun lalu,” ungkapnya.

Selain kendaraan militer, Pindad juga mengembangkan kendaraan khusus untuk lahan gambut atau rawa, yang disebut Manggala Agni. Menurut Pramadya, kendaraan ini adalah hasil modifi- kasi dari kendaraan penjelajah di medan bersalju dari Rusia. Prototipnya sudah diujicoba di lahan berawa dan bergambut di daerah Jambi, dan hasilnya cukup memuaskan. ”(Kendaraan tipe) ini sama sekali belum ada di Indonesia. Belum ada yang memikirkan. Kita buat karena ternyata ada kebutuhan. Untuk lahan-lahan berawa, selama ini banyak yang kesulitan. Tapi ke depan kalau ada pihak yang berkepentingan terhadap perke-buan atau untuk pembukaan lahan baru, sudah ada produk yang pas,” ujarnya.

Mooring winch.

Windlass

Steering gear tipe Teleram.

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda