INDUSTRI MANUFAKTUR

Produksi dan Ekspor Meningkat

0
28

Pertumbuhan industri manufaktur tahun 2013 tidak sampai 6,5 persen, namun ekspor produk meningkat yang mencapai US$120 miliar tahun 2014. Amerika Serikat membutuhkan makanan hasil olahan dari laut dan perikanan.

140103-01a

Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) memprediksi nilai ekspor produk manufaktur menembus US$120 miliar atau Rp1.440 triliun pada 2014,  naik 9 persen dari estimasi tahun 2013  yang sebesar US$110 miliar.  Kenaikan itu didorong tren perbaikan ekonomi negara-negara tujuan ekspor utama seperti Amerika Serikat (AS),  Eropa Barat,  Jepang,  sejumlah negara di Amerika Selatan, dan Timur Tengah.

Advertisement

Sementara itu, Chris Lytle Direktur Eksekutif Otoritas Pelabuhan Oakland di kota Oakland, AS, menyatakan kepada sejumlah wartawan Asia Pasifik, bahwa potensi ekonomi Indonesia dan negara-negara lainnya di Asia akan terus berkembang. Oleh karena itu, sejumlah otoritas pelabuhan di AS membenahi diri untuk menyambut  barang-barang dari Indonesia dan Asia. Mengamati potensi ekonomi itu, Chris mengunjungi Indonesia beberapa waktu lalu, termasuk Presiden Pucci Foods perusahaan pemroses, distributor, dan perdagangan produk-produk makanan laut dan perikanan, Chris H. Lam yang mengunjungi Medan, Semarang, dan Makassar pada Oktober 2013, menyatakan sedangi menjajagi impor produk  makanan laut karena 90 persen konsumsi seafood di AS diimpor dari Asia. Lam mengharapkan pasokan produk makanan laut terus meningkat dari Indonesia.

Salah satu produsen ikan kaleng  yang bahan bakunya adalah ikan cakalang (tongkol) adalah PT Samudera Mandiri Sentosa di Bitung, Sulawesi Utara. Perusahaan ini mengeksp or 200 hingga 250 kontainer ikan kaleng ke AS setiap bulannya. Oleh karena itu, Indonesia harus lebih proaktif mencari terobosan-terobosan untuk meningkatkan volume perdagangan ke AS tanpa harus didikte oleh pihak asing—seperti sektor tambang yang 80 persen dikuasai oleh korporasi AS.

Relaksasi aturan kemudahan impor tujuan ekspor (KITE) yang belum lama ini dirilis pemerintah juga diperkirakan mampu mengerek kenaikan nilai ekspor.  Dalam kebijakan itu,  impor bahan baku pemegang fasilitas KITE dibebaskan dari pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PpnBM).  Pemerintah juga memberikan kemudahan di bidang perizinan dan pelayanan fasilitas KITE.

Ekspor produk manufaktur tahun 2014 ditopang lima produk andalan,  yakni elektronik,  tekstil dan produk tekstil (TPT),  sepatu,  kayu olahan dan furnitur,  serta otomotif, demikian  Ketua Umum GPEI Benny Soetrisno.

Benny menilai,  sebelum stimulus itu diluncurkan,  KITE dimatikan oleh Kementerian Keuangan.  Padahal,  KITE bisa dimanfaatkan oleh eksportir manufaktur,  karena proses restitusi pajak selama ini membutuhkan waktu hingga satu tahun.  Oleh karena itu,  eksportir akan memilih KITE yang proses administrasinya lebih memudahkan eksportir.

Mayora anggarkan US$75 Juta

140103-01b

Untuk menghadapi bisnis tahun depan, PT Mayora Indah Tbk. menganggarkan belanja modal (capital expenditure) senilai US$75 juta atau sekitar Rp825 miliar untuk meningkatkan kapasitas produksi,  terutama segmen produk biskuit dan kopi.

Yuni Gunawan  Sekretaris Perusahaan Mayora,  mengatakan peningkatan kapasitas produksi tahun 2014 merupakan langkah strategis yang ditempuh untuk memperbesar pangsa pasar.  Apalagi,  beberapa merek dagang baru mulai diterima dengan baik oleh masyarakat.

Pembiayaan pengembangan kapasitas itu akan diperoleh dari kas internal dan sebagian lagi pinjaman sindikasi perbankan.  Mayora masih mengantongi fasilitas pinjaman dari Bank of Tokyo-Mitsubishi yang belum dicairkan senilai Rp 300 miliar.

Mayora menargetkan proyek pembangunan pabrik di Balaraja yang diproyeksikan menghabiskan dana sekitar Rp450 miliar segera rampung dan memperkuat kapasitas produksi biskuit.

Penambahan pabrik baru itu di targetkan mengatrol 30 persen dari total kapasitas produksi terpasang sekitar 590.000 ton dari sembilan pabrik yang telah beroperasi.

Tahun 2014,  perseroan juga berencana mengoptimalkan lahan di Balaraja untuk membangun pabrik baru.  Penambahan pabrik dilakukan karena utilisasi pabrik di Jatake II kini telah terhitung tinggi sekitar 70 persen hingga 75 persen.  Pengembangan pabrik perlu dilakukan akibat pesatnya pertumbuhan penjualan yang rata-rata naik 30 persen-50 persen dalam 5 tahun terakhir.

Tahun 2013,  total penjualan dari sejumlah segmen usaha diproyeksi mencapai Rp12 triliun atau tumbuh 14 persen dari realisasi 2012 senilai Rp10,5 triliun.  Sekitar 65 persen pendapatan perseroan akan ditopang dari kenaikan penjualan untuk distribusi di pasar lokal sebesar Rp7,8 triliun,  dan sisanya dikapalkan ke negara tujuan ekspor.

Pan Brothers siapkan dana USD 60 Juta

140103-01c

Demikian juga PT Pan Brothers Tbk   emiten manufaktur tekstil dan garmen,  menyiapkan dana sebesar US$ 60 juta untuk pembangunan tujuh pabrik.
Dana tersebut berasal penawaran umum terbatas (rights issue) yang direncanakan sebesar Rp1,01 triliun.  Corporate Secretary Pan Brother Iswar Deni mengatakan,  perseroan berencana membangun empat pabrik komersial yang bisa beroperasi pada pertengahan tahun 2014.  Sementara,  dua pabrik baru komersial yang dapat beroperasi pada pertengahan tahun 2015 dan satu pabrik baru komersial yang sudah bisa beroperasi di pertengahan tahun 2016.

Baca juga :   Siemens adakan lomba karya tulis tentang teknologi ramah lingkungan bagi wartawan tingkat ASEAN

Tujuan pembangunan tujuh pabrik itu untuk penambahan kapasitas produksi yang tahun 2013  menghasilkan 42 juta potong pakaian per tahun. Dengan menambahkan tujuh pabrik maka perusahaan dapat  memperoleh 30 juta potong pakaian, dan bagus untuk kinerja bisnis, demikian kata Iswar.

Penambahan kapasitas produksi tersebut,  secara bertahap perseroan juga membidik peningkatan angka penjualan hingga 30 persen.  Pembangunan pabrik beroperasi secara bertahap,  sehingga peningkatan pendapatan baru bisa dirasakan perseroan setelah tujuh pabrik tersebut secara keseluruhan dapat beroperasi.

Pada kuartal III/2013 pendapatan hasil penjualan Pan Brothers tercatat sebesar US$ 264,14 juta atau setara Rp3,16 triliun.  Jumlah itu setara 81,23 persen dari target pendapatan hingga akhir tahun 2013 sebesar US$ 325 juta atau setara Rp3,89 triliun.  Sementara itu,  laba bersih hingga September 2013 telah mencapai US$ 8,46 juta,  naik 34,92 persen dibandingkan laba bersih pada periode sama tahun 2012 sebesar US$ 6,27 juta.

Selain fokus mengembangkan industri manufaktur tekstil dan garmen,  kata Iswar,  perseroan juga menargetkan kontribusi pendapatan hingga lima tahun mendatang sebesar 15 persen dari bisnis ritel yang baru ditapakinya pada akhir tahun 2013.  Pihaknya meyakini bisnis ritel garmen akan tumbuh pesat.

Semen Indonesia membangun 2 pabrik

PT Semen Indonesia  Tbk berencana membangun 2 pabrik baru pada 2014 di Rembang Jawa Tengah dan Padang Sumatera Barat.   Sektretaris Perusahaan Semen Indonesia Agung Wiharto mengatakan ekspansi pabrik tersebut merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan pertumbuhan penjualan pada 2016 seiring dengan terselesaikannya proyek pembangunan pabrik. Ground breaking di Rembang dan Padang akan dilakukan tahun depan.

Dia menjelaskan pengembangan pabrik semen di Rembang dan Padang masing-masing memiliki kapasitas produksi 3 juta ton/tahun.  Saat ini Semen Indonesia memiliki total kapasitas produksi 14 juta ton/tahun,  setelah penambahan kapasitas produksi pabrik di Tuban 1,5 juta ton/tahun.  Pada 2013,  penjualan Semen Indonesia Group bertumbuh 14 persen,  atau lebih tinggi dari pertumbuhan industri semen secara nasional 5,8 persen.   Prediksi kami tahun 2014 bisa tumbuh 6 persen secara nasional.

Terkait pelemahan rupiah,  menurut Agung tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap nilai produksi Semen Indonesia lantaran bahan baku semen 100 persen dipasok dari dalam negeri, dan dari segi biaya produksi hanya 5 persen yang menggunakan unsur impor yakni biaya maintenance atau perawatan mesin pabrik.

Bahan baku semen tersebut di antaranya batu kapur 80 persen,  tanah liat 15 persen dan sisanya berupa gypsum dan tambahan bahan lain.

Sepanjang 2013,  Semen Indonesia hanya menaikan harga produk sebesar 3 persen atau tiga kali kenaikan masing-masing 1 persen.  Namun,  kata Agung,  penaikan harga tersebut bukan disebabkan oleh lemahnya nilai tukar rupiah,  tetapi akibat kenaikan tarif listrik dan biaya transportasi.

Bosowa ekspansi dengan Rp16 triliun   

Perusahaan Bosowa Corporation juga berencana menginvestasikan dana sekitar Rp16 triliun selama 2014-2017.  Dana itu digunakan untuk membangun pabrik semen baru,  pembangkit listrik tenaga uap (PLTU),  terminal LPG, dan perbaikan sejumlah dealer mobil.

“Tahun ini,  investasi kami mencapai Rp 2,5 triliun.  Mulai tahun 2014n,  kami akan investasi Rp3-4 triliun per tahun hingga 2017, demikian  Chief Executive Officer (CEO) Bosowa Erwin Aksa.

140103-01d

Dia menyatakan,  Bosowa akan membangun PLTU Jeneponto II berkapasitas 1×300 megawatt (MW) tahun depan senilai Rp 3 triliun.  Kelompok usaha terkemuka nasional itu juga akan memulai konstruksi pembangunan pabrik semen di  Cilegon,  Banten,  berkapasitas 1,5 juta ton per tahun,  pada Februari tahun 2014.

Menurut Erwin,  rencana pembangunan pabrik itu digodok sejak dua tahun lalu.  Hal itu meliputi pengurusan pembebasan lahan,  perizinan dan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal),  serta pendanaan investasi.   (Sumber: tender-indonesia.com dan lain-lain)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda