PERAN SWASTA

Potensi Bisnis Infrastruktur Gas dan LNG US$48 Miliar

1
37
Salah satu gelaran peserta Gas Indonesia. Peralatan ini merupakan alat penyaringan gas alam sampai bisa digunakan. (Foto: Rayendra L. Toruan)

Pemerintah meningkatkan pembangunan infrastruktur di kawasan timur Indonesia dengan mengembangkan pipa gas virtual untuk mendistribusikan gas dari dan ke wilayah terpencil.

 

Salah satu gelaran peserta Gas Indonesia. Peralatan ini merupakan alat penyaringan gas alam sampai bisa digunakan. (Foto: Rayendra L. Toruan)

Meski Indonesia hanya peringkat ke-10 dunia yang memiliki cadangan gas alam (LNG), namun untuk  tingkat Asia Pasifik, negara ini mempunyai cadangan gas 3 besar setelah  Australia dan Republik Rakyat Tiongkok—dengan kontribusi untuk 1,5 persen dari total cadangan gas dunia (BP Statistical Review of World Energy, 2015).

Advertisement

Pusat-pusat produksi gas yang berlokasi di lepas pantai berlokasi di Arun, Aceh (Sumatra), Bontang (Kalimantan Timur), Tangguh (Papua), dan Pulau Natuna. Dalam beberapa tahun terakhir ini, Indonesia menghadapi peningkatan permintaan pasar gas di dalam negeri setara dengan peningkatan kebutuhan sektor industri dan kelistrikan.

Oleh karena itu, sejak tahun 2011, penggunaan LNG untuk pasar dalam negeri Indonesia terus meningkat dan jumlahnya melampaui volume gas alam cair yang diekspor ke luar negeri. Dengan semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, demikian Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, IGN Wiratmadja Puja, kebutuhan gas di dalam negeri  terus meningkat. Ia memperkirakan suplai gas dari dalam negeri akan sepenuhnya memenuhi kebutuhan Indonesia sendiri pada tahun 2035.

Untuk itu Indonesia perlu membangun banyak infrastruktur agar mampu mendukung kebutuhan LNG yang terus meningkat, tambah IGN Wiratmaja ketika meresmikan Gas Indonesia Summit and Exhibition (GIS) 2017 di Jakarta Convention Center belum lama ini. Pameran dan konvensi itu diselenggarakan oleh dmg events perusahaan event organizer yang menghususkan pamerannya di bidang energi di seantero dunia. Dmg events yang bermarkas (utama) di London (Inggeris) mengelola GIS melalui kantornya di Singapura.

dmg events berhasil mengikutsertakan 40 perusahaan yang kebanyakan berasal dari luar negeri. Seperti kita ketahui bahwa gas alam merupakan komponen vital bagi kepetingan energi dunia. Gas yang digaku dari lam itu merupakan sumber utama untuk produksi—sebagai bahan bakar mau pun amonia (amonia merupakan komponen vital untuk produksi pupuk) dan kelistrikan.

 

Kebijakan yang menarik bagi investor

Gas alam merupakan bahan bakar fosil yang berasal dari sisa-sisa tanaman, hewan, dan mikroorganisme yang berada dalam kandungan tanah selama jutaan tahun. Uniknya, gas alam adalah salah satu sumber energi yang paling bersih—memiliki intensitas karbon yang rendah—yang paling bermanfaat dari semua sumber energi.

Menurut Kementerian Industri, gas alam merupakan salah satu sumber energi dan bahan baku bagi industri manufaktur  yang kebutuhannya mencapai lebih dari 2280 mmscfd—termasuk sektor kelistrikan yang paling dominan membutuhkannya di dalam negeri.

Baca juga :   Go Global dan Produk Baru Pelindung Mesin

“PLN (BUMN kelistrikan) memerlukan gas dalam volume besar terutama untuk mendukung seluruh pembangkit listrik yang berkekuatan 35.000 MW. Kami juga menjadikan hal itu sebagai prioritas karena menyangkut hajat hidup masyarakat,” tandas Wiratmaja.

Beberapa tahun mendatang, lanjut Wiratmaja akan lebih banyak industri yang menggunakan LNG seperti industri petrokimia. Dengan meningkatnya kebutuhan gas di pasar domestik, Indonesia memerlukan infrastruktur terutama untuk mendistribusikan LNG ke seluruh pelosok negeri.

Pemerintah RI juga bermaksud meningkatkan prioritas dalam membangun infrastruktur di kawasan timur Indonesia dengan mengembangkan pipa gas virtual untuk mendistribusikan gas dari dan ke wilayah terpencil. Untuk membangun infrastruktur tersebut, pemerintah memerlukan dana tak kurang dari US$48 miliar yang diharapkan ddigelontorkan oleh investor dalam dan terutama luar negeri.

Untuk mendukung pembangunan infrastruktur industri LNG, pemerintah telah meluncurkan sejumlah refomasi kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan cadangan migas, membuat iklim investasi yang kondusif, dan memberikan kepastian usaha di sektor hulu dan hilir migas. Misalnya, regulasi di bidang cost recovery dan pajak penerimaan untuk usaha migas.

Sementara itu, Kementerian Keuangan memberikan insentif dalam perpajakan dan penerimaan nonpajak berdasarkan hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu, melalui GIS 2017, para pebisnis berusaha mendapatkan informasi yang memungkinkan mereka ikut berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur gas dan LNG di Indonesia.

Seperti diutarakan oleh Danny Prasetya Direktur Komersial PT Perusahaan Gas Negara, yang berharap konperensi yang diikutinya  memberikan jawaban untuk empat isu penting yakni  mempercepat pembangunan infrastruktur, menciptakan kebijakan dan sinergi antar para pemangku kepentingan, menentukan kebijakan harga gas, dan menciptakan model manajemen industri gas yang mendukung ekosistem.

Sementara itu, Gerard Leeuwenburgh Vice President Asia dmg events, berharap para peserta konperensi dapat menggunakan forum ini untuk kepentingan pembangunan infrastruktur industri gas di Indonesia.

Ikuti berita teknologi canggih dan peluang bisnis yang dibahas selama konvensi dan pameran

Advertisement

1 KOMENTAR

Tulis Opini Anda