BISNIS DIRGANTARA

Pesawat N-219 Terbang Perdana Tahun 2015

0
40

PT Dirgantara Indonesia mampu membuat dan memroduksi berbagai jenis pesawat  seperti  N-219, N-295, CN-235 MPA, helikopter NBell 412 EP, serta pesawat N-212 versi sipil  dan militer—siap dipasarkan ke pasar internasional.

140519-02a

Kementerian Perindustrian  optimis   industri kedirgantaraan nasional bakal kembali bergairah seperti pada tahun 1990-an ketika Prof.Dr. B.J. Habibie mengemudikan PT Dirgantara Indonesia. Pesanan atas pesawat N-219 yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia semakin banyak. Direktur Industri Maritim, Kedirgantaraan, dan Alat Pertahanan Kementerian perindustrian, Hasbi As-siddiq mengungkapkan, pada tahap awal, pesawat N-219 sudah mampu menyerap sekitar 40 persen tingkat kandungan dalam negeri.

Advertisement

Pada awal produksi dan pemasaran pesawat N-219 ditargetkan memiliki tingkat kandungan dalam negeri  sebesar 40 persen dan akan terus ditingkatkan hingga 60 persen pada 2019, demikian  Hasbi dalam seminar Kesiapan Industri Komponen dalam Negeri untuk Mendukung Kemandirian Industri Kedirgantaraan Nasional di Jakarta belum lama ini.

Menurut Hasbi, sejak awal program pengembangan pesawat N-219 diarahkan memenuhi kebutuhan nasional akan moda transportasi udara yang dapat menghubungkan wilayah terpencil dan perbatasan, serta wilayah di sekitar pusat pertumbuhan kota. Selanjutnya, pengembangan pesawat N-219 juga ditujukan untuk menumbuhkan industri penerbangan nasional.

Sementara itu, manajer Program N-219  PT Dirgantara Indonesia, Budi Sampurno, berharap Kemenperin bisa mengembangkan industri pendukung atau komponen di dalam negeri guna menaikkan TKDN untuk produk-produk pesawat buatan lokal seperti N-219.
“Kemenperin    harus mengembangkan industri pendukung dan menciptakan cluster industri untuk mendukung peningkatan tingkat kandungan dalam negeri alam produksi pesawat N-219,” katanya.

Menurut Budi, dukungan industri komponen nasional sebagai supplier program N-219 sangat penting. Karena sejak awal masuk ke pasar, pesawat N-219 ditargetkan mempunyai kandungan lokal atau tingkat kandungan dalam negeri minimal 40 persen dan akan ditingkatkan menjadi 60 persen dalam waktu lima tahun.

“Industri komponen di Indonesia sebenarnya punya potensi cukup besar untuk dikembangkan agar bisa mendukung industri kedirgantaraan nasional,” jelas Budi.

Ia menjelaskan, industri pendukung yang harus dikem-bangkan untuk mencapai tingkat kandungan dalam negeri 40 persen pada produksi N-219 pada tahun 2016, antara lain acrylic /glass, plastik, karet, baja untuk tools, dan jig dari segi industri hulu.

Sementara itu, dari industri supplier yang perlu dikembangkan adalah jendela kabin pesawat, landing gear, dan bagian interior pesawat, seperti kursi, dapur, dan toilet.

Penelitian dan pengembangan

Sementara itu, Pusat Teknologi Penerbangan Lapan sedang  melaksanakan penelitian, pengembangan, serta disain  pesawat N-219. Dukungan dan komitmen dari pemerintah telah didapat melalui persetujuan DPR atas alokasi sejumlah dana untuk pengembangan N-219.

Mulai tahun 2014 ini mulai proses pembuatan N-219 dan target untuk terbang perdana pesawat tersebut pada 2015. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Lapan Bambang S Tejasukmana ketika membuka seminar Teknologi Penerbangan 2013.

Menurut Bambang, pesawat N-219 diharapkan tidak hanya lulus uji first flight, tetapi juga berhasil membawa penumpang serta mendapat sertifikasi sebagai pesawat yang bisa membawa 19 penumpang, dan yang paling penting bisa menghubungkan antarpulau di Indonesia.

Berdasarkan pengalaman pada saat pembuatan pesawat N-250, menurut Bambang, Lapan mengerjakan N-219 dengan sangat teliti dan memerhatikan faktor risiko dalam pengembangan N-219. Untuk itu, Lapan membutuhkan peran dari konsultan teknologi penerbangan, tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga dari luar negeri.

Baca juga :   Habibie Rancang R-80 dengan Software Dassault Systems

Selain N-219, Lapan juga mengembangkan pesawat dengan 2 penumpang yang bisa menjalankan fungsi surveillance selama 8 jam secara autonomous. Pesawat ini disebut Lapan Surveillance Aircraft (LSA) dan merupakan hasil kerjasama dengan TU Berlin, Jerman.

Sementara itu, dalam demo pemanfaatan pesawat LSA pada 2014 diharapkan pesawat tersebut bisa tandem dengan kapal laut milik TNI AL dalam memantau wilayah Indonesia. Sejauh ini, kerja sama Lapan dengan TNI AL sudah terjalin sangat baik. Lebih jauh, pesawat LSA mampu berperan optimal dalam memenuhi kebutuhan sektor pengawasan wilayah teritori Indonesia, pemantauan perbatasan maupun permintaan secara spesifik untuk pemantauan zona potensi penangkapan Ikan (ZPPI).

Dengan adanya pengembangan dua pesawat tersebut, Lapan terus berupaya meningkatkan kapasitas dan kapabilitas SDM. Salah satunya dengan Seminar Teknologi Penerbangan yang mengambil tema sistem komunikasi, navigasi, dan pemantauan penerbangan terintegrasi yang andal.

Para pekerja membuat pesawat N-219 di lokasi pabrik PT Digantara Indonesia,  Bandung. (Sumber foto: http://static.republika.co.id/)
Para pekerja membuat pesawat N-219 di lokasi pabrik PT Digantara Indonesia, Bandung. (Sumber foto: http://static.republika.co.id/)

“Saat ini rintisan pesawat N-219 sudah dilakukan dan ditargetkan pada 2016 sudah diproduksi dan perizinannya keluar, sehingga 2017 kami bisa masuk pasaran internasional,” ungkap Asisten Direktur Bidang Jaminan Mutu dan Humas PT Dirgantara Indonesia, Sony Saleh Ibrahim di Bandung.

Seperti yang diketahui, Pesawat N-219 adalah pesawat baling-baling berukuran kecil, dan menurut Sony, cocok untuk penerbangan perintis.

“Pesawat itu masuk pesawat kecil, namun N-219 memiliki kapasitas penumpang lebih banyak dari pesawat sejenisnya yang ada saat ini,” jelasnya.

“Pesawat ini akan mampu mendarat di landasan pacu pendek dan juga di daerah pegunungan,” lanjut Sony. Sony yakin pesawat N-219 bisa primadona dalam penerbangan perintis dan jarak pendek.

N-219 bisa bersaing dengan keunggulan dari sisi kualitas dan juga harga yang jauh lebih ekonomis. Harganya di kisaran empat juta dolar AS hingga 4,5 juta dolar AS, keunggulan lainnya daya angkut lebih besar.

Sony juga mengatakan bahwa PT Dirgantara Indonesia berharap bisa memenuhi 20 persen kebutuhan pesawat kecil dunia yang selama tahun 2012 saja sekitar 800 unit. Perusahaannya, lanjut Sony, berencana menyasar pasar Asia dan Afrika.

Selain itu, PT Dirgantara Indonesia  juga memfokuskan produksi dan pemasaran pesawat N-295, CN-235 MPA, helikopter NBell 412 EP, serta pesawat N-212 baik versi sipil maupun militer.

Seperti yang dijelaskan oleh Sony, saat ini terdapat sekitar 60 persen pesawat produk PT Dirgantara Indonesia  merupakan pesanan dari pemerintah. Demikian laporan dari Antara. (Sumber: tender-indonesia, Antara, Republika, //abarky.blogspot.com,  dan lain-lain)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda