PEMELIHARAAN RUTIN

Perangkat Lunak Pengaman Jembatan

0
15
Jembatan harus diperiksa kondisnya secara rutin untuk mengantisipasi kerusakan.(Foto:Nicole Werner/buchcover.com)

Jembatan harus dipelihara secara berkala, rutin, dan rinci agar kekuatan, struktur, daya dukung, kondisi teknis,  dan fungsinya tetap terjaga sesuai standar. Pemeliharaan itu dilaksanakan dengan peralatan teknologi yang salah satunya dengan menggunakan software. Masalahnya bentuk dan bahan baku konstruksi jembatan berbeda-beda seperti jembatan Ampera (Palembang), Surumadu (Jawa Timur), dan jembatan Tenggarong (Kalimantan Timur) yang ambruk tahun 2011.

Jembatan harus diperiksa kondisnya secara rutin untuk mengantisipasi kerusakan.(Foto:Nicole Werner/buchcover.com)

Ingat jembatan Tenggarong di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yang ambruk pada tahun 2011 meski usianya belum 10 tahun?  Komisi V DPR RI  menilai Kementerian Pekerjaan Umum dianggap lalai tidak melakukan perawatan secara baik atas jembatan. Setelah jembatan itu ambruk dilakukan audit meliputi teknis, disain, gambar, pelaksanaan konstruksi meski hasilnya belum kita ketahui,

Pakar konstruksi Davy Sukamta menilai penyebab keruntuhan jembatan Kutai Kartanegara bukan akibat kerusakan tali-tali penyangga jembatan. Kelemahannya terletak pada cara penyambung tali gantungan ke jembatan. Kalau sambungannya lepas maka jembatan di bawahnya sekokoh apa pun akan runtuh.

Advertisement

Davy tidak mau berspekulasi tentang penyebab ambruknya jembatan itu apakah akibat kesalahan rancangan atau buruknya perawatan? Sebab, katanya,  sistem jembatan gantung itu sangat jarang dilakukan. Oleh karena itu, pada saat pembangun jembatan harus ekstra hati-hati, dan perawatan jembatan pun memiliki prosedur yang ketat.

Tiap tali menahan beban yang idealnya beratnya sama. Kalau ketegangan cukup maka bebannya bisa ditahan, kalau kendur maka beban tidak bisa ditahan. Jadi, setiap waktu tali-tali jembatan ini harus dicek dan dikuatkan kembali. Konstruksi  jembatan gantung berbeda dengan jembatan yang terbut dari kerangka baja, beton, dan sebagainya..

“Jembatan itu ambruk pasti ada sesuatu yang salah,” tegas Davy. Tragedi ambruknya jembatan Kutai Kartanegara mengakibatkan 18 orang meninggal dunia dan 39 orang mengalami luka. Bagaimana merawat jembatan yang jumlahnya puluhan ratusan ribu mungkin jutaan di Indonesia?

Program pendeteksi yang salah atau menyimpang pada konstruksi

Kita  dapat belajar bagaimana Jerman merawat dan memelihara jembatan yang jumlahnya di 120.000 buah. Secara rutin dan kondisten, kondisi semua jembatan diawasi yang bertujuan untuk memastikan pengendara mobil, pesepeda, dan pejalan kaki dapat melewati jembatan-jembatan dengan aman. Sebuah program pengolah gambar baru bisa secara otomatis mendeteksi hal yang salah atau penyimpangan pada material atau konstruksi sebuah jembatan.

Sungai membentang, ngarai yang dalam, jalan raya, dan jembatan merupakan bagian tak terpisahkan dari jaringan lalu lintas. Akan tetapi, kondisi jembatan di Jerman mengkhawatirkan. Dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh klub otomobil Jerman ADAC, satu dari sepuluh dari lima puluh jembatan yang diperiksa dinyatakan tidak lolos tes. Empat jembatan di antaranya dinilai buruk dan satu bahkan dinilai sangat buruk.

Kondisi cuaca dan suhu yang berubah-ubah, volume lalu lintas yang meningkat, dan penyingkiran es dengan garam menambah beban tekanan pada bahan-bahan jembatan sehingga dengan cepat menimbulkan kerusakan seperti retakan, pengelupasan beton dan timbulnya lubang akibat karat. Apabila teknisi jembatan tidak menyadari hal semacam itu sesuai dengan waktunya, konsekuensinya bagi pengendara mobil, pesepeda, dan pejalan kaki bisa menjadi bencana.

Baca juga :   Keperkasaan Facom Potong Bodi Pesawat

Merupakan prosedur yang tetap agar jembatan-jembatan diperiksa kerusakannya yang dilihat oleh seorang inspektur langsung di lokasi jembatan. Keretakan, misalnya, disegel dengan pita perekat yang mengembang karena retakan melebar. Namun, langkah-langkah pemeriksaan semacam itu tidak diperlukan lagi pada masa mendatang berkat sebuah program perangkat lunak pengolah gambar baru yang dikembangkan oleh para peneliti di Institut Fraunhofer untuk Industrial Mathematics ITWM di Kaiserslautern bekerja sama dengan  Infracom dari Italia.

“Perangkat lunak ini secara otomatis memeriksa foto-foto jembatan, memindai karakteristik dan penyimpangan tertentu seperti penyimpangan warna yang kuat,” jelas ilmuwan ITWM Markus Rauhut. “Tidak seperti manusia, perangkat ini tidak pernah melewatkan setiap kelainan-cacat terkecil sekalipun akan diidentifikasi dan ditandai.”

Perangkat lunak dapat menangani semua penyimpangan di jembatan

Tantangan penggunaan perangkat lunak itu adalah tidak ada jembatan yang sama persis dengan jembatan lain. Setiap jembatan memiliki bentuk yang berbeda, terbuat dari bahan berbeda, struktur permukaan bervariasi, dan warna yang bergantung pada bahan dan tingkat kelembaban, atau kotoran.

Perangkat lunak tersebut harus bisa menangani semua penyimpangan itu. Untuk tujuan tersebut, para peneliti mengekstrak metrik dari foto seperti bentuk memanjang yang menjadi karakteristik dari retakan, penyimpangan warna khas yang terjadi di tempat-tempat lembab, dan struktur material, yang berbeda pada jembatan beton jika dibandingkan dengan jembatan baja.

Pemerintah melakukan audit dan investigasi seluruh jembatan berbentang panjang di Indonesia sejak ambruknya jembatan Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. (Sumber foto: http://wscdn.bbc.co.uk)

Metrik ini disimpan dalam database. Ketika para peneliti meng-upload foto ke dalam sistem, perangkat lunak membandingkan karakteristik foto baru dengan foto-foto yang sudah tersimpan sebelumnya. Jika mendeteksi suatu penyimpangan, sistem kemudian menandai setiap tempat pada foto.

Inspektur jembatan kemudian bisa melakukan asesmen seberapa serius kerusakan dan tindakan apa yang perlu dilakukan. Semakin cepat kerusakan terdeteksi dan dikategorikan dengan jelas, maka biayanya lebih murah dan lebih mudah memperbaikinya. Para teknisi telah berhasil menggunakan perangkat lunak baru itu untuk memeriksa jembatan di Italia selama sekitar enam bulan terakhir. (Diolah dari berbagai sumber dan tulisan Linda Huhn; www.fraunhofer.de/magazine)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda