TEKNOLOGI VINIKULTUR (1)

Pengawetan Wine dan Pengurangan Alergi

0
6

Buah anggur diperas dan diolah menjadi wine selama berabad-abad. Meski demikian, tradisi tua itu masih memiliki celah untuk dikembangkan. Dengan menggunakan teknologi canggih, peneliti telah mengembangkan proses pengawetan wine rendah sulfur.

Anggur atau wine hasil penelitian terbaru dengan penggunaan teknologi vinikultur. (Sumber foto/@: panthermedia)
Anggur atau wine hasil penelitian terbaru dengan penggunaan teknologi vinikultur. (Sumber foto/@: panthermedia)

Kita akui bahwa Eropa merupakan puncak peradaban dalam hal wine yang.telah berakar budaya selama ratusan abad. Selama ribuan tahun, wilayah-wilayah yang tersebar di seluruh Eropa telah memproduksi wine. Contoh sederhana adalah wine merek Bordeaux yang terkemuka di Prancis. Demikian pula produk Rieslings yang dibuat di Rhenish Hesse dan Trollinger. Aroma buahnya berasal dari Baden-Württemberg.

Mengembangkan tanaman anggur dan memproduksi buah anggur menjadi wine merupakan sauatu seni yang praktis dan telah berlangsung selama berabad-abad. Banyak ahli tanaman dan produsen anggur di di Eropa—seperti di Prancis dan Italia—dan mereka tetap mengoptimalkan pembuatan wine yang berkualitas dunia dengan penggunaan teknologi canggih—termasuk pemanfaatan perangkat lunak semacam Microworks.

Advertisement

Salah satu lembaga yang terus mengembangkan kualitas anggur—baik saat dikembangkan di ladang atau perkebunan anggur dan saat diproduksi—adalah Fraunhofer. Lembaga yang berpusat di Jerman ini menangani beberapa proyek kolaborasi yang bertujuan mewujudkan optimalisasi produksi wine. Perhatikan bagan berikut ini yang menggambarkan penanganan anggur sedemikian terorganiser dengan rapi.

Dengan perangkat lunak Microworks  memungkinkan produksi dan pemasaran wine  lebih berkualitas, efektif,  dan efisien. (Sumber bagan/@: http://legacy.winesoftware.com)
Dengan perangkat lunak Microworks memungkinkan produksi dan pemasaran wine lebih berkualitas, efektif, dan efisien. (Sumber bagan/@: http://legacy.winesoftware.com)

Para ahli mencari alternatif penggunaan sulfur sebagai pengawet. Penambahan sulfur tidak hanya menghambat pertumbuhan yeast dan jamur yang merusak wine, tetapi juga melindungi warna alami dan aroma wine dari oksidasi. Harap maklum, meminum wine yang memiliki kandungan sulfit, dapat memicu reaksi alergi yang tentu saja mengganggu kesehatan.

Proyek PreserveWine-Demo

Di seluruh Eropa telah diberlakukan penurunan ambang batas kadar sulfur yang diperbolehkan dalam wine. Namun, hingga saat ini belum ada alternatif yang memungkinkan untuk menggantikan sulfur. Proyek PreserveWine-Demo yang didanai oleh Uni Eropa mengadakan konsorsium internasional. Kerja sama itu bertujuan mencari metode fisik alternatif pengawetan wine yang rendah sulfur.

Baca juga :   Menggairahkan Pelaku Industri Otomotif

Metode ini berbasis pada proses pasteurisasi dingin—pertama kali dikembangkan oleh Dresden anak perusahaan Edecto—yang bergerak di bidang pengawetan jus buah. Para peneliti di Fraunhofer Institute for Interfacial Engineering and Biotechnology IGB di Stuttgart (Jerman) telah mengadaptasi sistem tersebut untuk pengawetan wine dan membangun rancangan awal, demonstrator skala kecil di tempat mereka.

Ana Lucía Vásquez-Caicedo dan tim di IGB mendisain ulang sistem single-chamber original milik Dresden, kemudian mengubahnya menjadi sebuah flow device yang bisa memproses wine secara kontinyu. Hal ini berarti wine dalam jumlah yang banyak dapat diproses dalam waktu yang singkat–sebuah keharusan pada aplikasi komersial.

Dalam sistem IGB, wine dicampur dengan gas kimia inert seperti nitrogen atau argon sebelum dikenai tekanan 500 bar–sekitar 200 kali rata-rata tekanan dari ban mobil. Pada kondisi ini, sebagian besar gas larut dalam wine serta menginfiltrasi bakteri dan yeast yang ada. (Diolah dari High-tech viniculture tulisan Tim Schröder, Fraunhofer 1/15)

Simak artikel selanjutnya dengan topik TEKNOLOGI VINIKULTUR (2)
Pemuaian Gas dan Pengaktifkan Mikroorganis

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda