DAMPAK DISRUPTION (2)

Optimalkan Kinerja Otak

0
29
Otak manusia (gambar kiri) memiliki kurang lebih 100 juta miliar sel otak yang saling berhubungan satu sama lainnya. Manusia hanya menggunakan rata-rata 1 persen kemampuan otaknya dan orang jenius tidak lebih dari 4 persen. (Sumber foto: http://sioji.blogspot.co.id/). Cara melatih kinerja otak (gambar kanan) yang terdiri dari dua bagian: kanan dan kiri—keduanya saling berkolaborasi secara kognitif. Kedua belahan otak tidak sama kuat, ada kalanya seseorang lebih kuat pada otak kirinya sedangkan orang lain yang lebih menonjol peran otak kanannya. (Sumber foto: http://forum.viva.co.id/)

Tiga cara untuk melatih otak agar tahan banting menghadapi dampak disruption. Era disruptif ini, kita tidak mungkin lagi melakukan business as usual.

Otak manusia (gambar kiri) memiliki kurang lebih 100 juta miliar sel otak yang saling berhubungan satu sama lainnya. Manusia hanya menggunakan rata-rata 1 persen kemampuan otaknya dan orang jenius tidak lebih dari 4 persen. (Sumber foto: http://sioji.blogspot.co.id/). Cara melatih kinerja otak (gambar kanan) yang terdiri dari dua bagian: kanan dan kiri—keduanya saling berkolaborasi secara kognitif. Kedua belahan otak tidak sama kuat, ada kalanya seseorang lebih kuat pada otak kirinya sedangkan orang lain yang lebih menonjol peran otak kanannya. (Sumber foto: http://forum.viva.co.id/)

Jangan mengabaikan disruption. Kita harus ekstra hati-hati. Pengabaian bisa berbahaya dan menyebabkan kejatuhan. Kasus yang paling nyata adalah tutupnya rangkaian outlet penyewaan video di Amerika Serikat, Blockbuster yang mengabaikan kehadiran Netflix. Pada tahun 2000 ketika Blockbuster menjadi raksasa yang nyaris tanpa lawan di industri penyewaan video, CEO (chief executive officer) Blockbuster menolak tawaran Netflix yang masih bayi untuk membeli saham Netflix. Tanda-tanda perubahan akibat teknologi internet diabaikan, karena arogansi merasa sebagai market leader.

Hanya dalam waktu beberapa tahun saja, pasar Blockbuster mulai tergerus dan pendapatan terus merosot. Era internet membuat Netflix menemukan momentum untuk melejit. Tanpa disadari, industri penyewaan video sudah ter-disruptoleh industri penyewaan film online yang dirintis oleh Netflix.

Advertisement

Bukan saja lebih praktis karena tidak perlu datang secara fisik ke outlet, sistem pricing-nya pun berbeda. Netflix menawarkan paket berlangganan per bulan berapa pun film yang ditonton. Jauh berbeda dengan sistem Blockbuster yang menyewakan per keping VCD.
Lantas apa yang dilakukan oleh manajemen Blockbuster menghadapi penurunan drastis bisnis?

Sayangnya, para pengambil keputusan saat itu terjebak dalam kepanikan. Ketika penguasaan pasar Netflix sudah mengakibatkan tergerusnya pendapatan dan pasar Blockbuster, respons yang dilakukan pihak manajemen Blockbuster adalah menghapus denda keterlambatan sewa.

Tindakan banting harga dan potong laba ini dilakukan sebagai respons untuk fight dalam kondisi stres dan panik. Ini akibat otak para eksekutif Blockbuster merasa tidak mampu menghadapi rangkaian perubahan besar dengan kompetensi yang dimiliki.

Ketika otak kita tidak menemukan simpanan memori keunggulan atau kekuatan yang memadai untuk menghadapi perubahan drastis, di saat itulah logika kita langsung menjadi terkunci.

Riset neurosains menunjukkan, pemikiran ketika berada dalam kondisi panik didominasi pengaruh adrenalin dan kortisol. Dominasi kedua kimia otak ini membuat kita tidak mampu menghasilkan keputusan yang jernih. Tindakan untuk menghapus denda keterlambatan yang tidak menyentuh akar perubahan adalah sebuah contoh nyata keputusan fatal yang diambil dalam kondisi otak panik.

Melatih otak adaptif merespons disruption

Kondisi pasar yang sudah bergeser ke arah penyewaan film secara online. Pasar sudah terbiasa dengan sistem bucket price ala Netflix yang jauh berbeda dengan bisnis model Blockbuster. Oleh karena korteks prefrontal para eksekutif Blockbuster sudah tidak mampu bekerja optimal dirundung panik, mereka tidak mampu menghasilkan ide transformasi yang menyentuh akar perubahan ini.

Yang terpikir hanya bertahan hidup dengan memotong margin. Yang lebih parah lagi, tindakan tersebut justru menggerus laba operasional Blockbuster yang dengan model bisnisnya sangat bergantung pada besarnya margin dari denda keterlambatan tersebut. Akibatnya, hanya dalam jangka waktu 10 tahun sejak mementahkan penawaran saham Netflix, tepat pada 2010,

Blockbuster terpaksa ditutup karena bangkrut. Sebuah harga yang mahal untuk membayar pengabaian eksekutif puncak terhadap gelombang perubahan ketika saat pertama perubahan terjadi dan kepanikan yang tak terkontrol dalam pengambilan keputusan manakala disruption sudah merajalela.

Untungnya Tuhan menganugerahi otak kita plastis, mudah beradaptasi terhadap perubahan. Neuroplastisitas yang akhir-akhir ini semakin banyak terbukti di kalangan ahli neurosains merupakan modal besar kita para pelaku bisnis untuk terampil menghadapi disruption. Dengan tingkat kecepatan digital disruption seperti saat ini, bukan lagi mereka yang besar dan kuat yang akan menang, melainkan mereka yang cepat beradaptasi terhadap perubahan.

Kesuksesan pada dasarnya adalah kesempatan yang bertemu kesiapan. Kesempatan saya istilahkan momentum, dan kesiapan saya istilahkan muscle (otot). Disruption adalah sebuah momentum. Kita hanya akan mampu menangkap peluang dari momentum manakala kita melatih muscle. Melatih muscle (otot) dalam menghadapi era disruptif berarti melatih otak untuk tahan banting menghadapi perubahan.

Baca juga :   Bagaimana Tim Dokter Membedah Hati dengan Bantuan 3D?

Setidaknya terdapat tiga cara untuk melatih otak agar tahan banting menghadapi disruption. Pertama, melatih change agility, terbuka terhadap perubahan apapun, baik perubahan eksternal maupun internal. Begitu kita membuka diri terhadap berbagai bentuk perubahan, kita sesungguhnya sedang melatih amygdala di sistem limbik kita agar tidak terlalu mudah meneriakkan sinyal bahaya. Novelty (hal baru) tidak kita anggap sebagai musuh, tapi kita sikapi dengan penuh rasa ingin tahu.

Memang otak kita mencintai pola. Pola-pola ini disimpan di dalam basal ganglia sebagai cara otak kita menghemat energi, membuat kita bisa fokus pada hal-hal penting. Dengan melatih change agility, kita pun membentuk pola baru, yakni pola mekanisme kerja otak yang mampu beradaptasi dengan cepat dalam menyikapi setiap perubahan.

Kedua, melatih diri untuk fokus.

Kedua, disruption juga membawa distraction pada otak kita. Terlalu banyak hal baru yang menarik membuat kita bingung mulai dari mana, akhirnya tidak ada yang selesai. Kematangan konteks prefrontal kita perlu dilatih. Dengan begitu kita mampu untuk memilah mana aspek yang harus difokuskan terlebih dahulu, apa saja yang harus diprioritaskan, mana yang kita akan tangani secara serius, apa saja tahapan dan langkah untuk menanganinya, dan seterusnya.

Dengan kemampuan mengendalikan fokus, maka kita akan semakin mudah mencapai tahap flow yang sangat optimal untuk mencapai kinerja puncak. Disruption justru menjadi tantangan yang menarik, karena otak kita mampu untuk tetap fokus pada peluang. Peluang untuk menorehkan prestasi baru di lahan yang lebih luas. Bukan justru perhatian kita terpecah tanpa solusi.

Ketiga, membangun growth mindset, yaitu paradigma yang berfokus pada perkembangan kemajuan (progress) bukan semata-mata hasil kinerja (result). Era disruptif ini kita tidak mungkin lagi melakukan business as usual. Karena itu pengukuran kinerja berlandaskan cara kerja lama tidak mungkin dipertahankan.

Karena perubahan begitu cepat, maka akan lebih memberdayakan manakala kemajuan diukur dari progress perkembangannya. Kemajuan apa yang berhasil diwujudkan, bukan semata hasil akhir yang bisa saja kelak tidak relevan lagi.

Manakala ketiga karakteristik itu sudah terbangun di dalam diri pemimpin di seluruh jenjang organisasi, inilah yang disebut agile organization. Pendampingan para eksekutif dan manajer oleh coach yang memahami bagaimana mengoptimalkan kinerja otak manusia menjadi sangat kritikal. Apalagi, setiap keputusan yang lahir dari tangan seorang pemimpin adalah hasil dari kerja otaknya, sehingga bagaimana mekanisme otak pemimpinnya begitu pula hasil kinerja organisasinya.

Oleh karena itu, optimalkanlah kinerja otak agar lebih siap menghadapi gelombang disruption dan mampu mengatasinya.  (Atas seizin  Lyra Puspa, Ir, MM, *PCC, ECPC, CPPC, MGSCC, CFP, AEPP, tulisan ini redaksi posting dengan sedikit edit. Penulis adalah kandidat PhD Applied Neuroscience in Psychology pada Canterbury University, UK. President & Master Coach Vanaya Coaching Institute. Ketua Asosiasi Sinergi Terapan Neurosains Indonesia).

Simak dampak DISRUPTION (1)
Siapkah Para CEO Menghadapi Disruption?

Advertisement

Tulis Opini Anda