BISNIS (1)

Operasikan Mesin dengan Teknologi Industri 4.0

0
25
mesin otomatisasi yang berfungsi untuk pembuatan produk elektronik seperti ponsel. (Foto: Rayendra L. Toruan)

Pabrik ponsel oppo beroperasi di Indonesia dan bakal diikuti oleh perusahaan-perusahaan lainnya dari China. Perusahaan dari Taiwan pun tak mau kalah.

Kiri ke kanan Michael Goh General Manager Evolution Marketing & Engineering Sdn Bhd, Ooi Weng San Overseas Service Sales MagicRay, Sun Zhang Deputy General Manager MagicRay dan David He Vice President MagicRay. (Foto: Rayendra L. Toruan)

 

mesin otomatisasi yang berfungsi untuk pembuatan produk elektronik seperti ponsel. (Foto: Rayendra L. Toruan)

Setiap pameran peralatan industri skala internasional yang dilaksanakan di Jakarta dan Surabaya, perusahaan dari China dan Taiwan selalu mendominasi. Hampir seluruh area di hall pameran ditempati peserta dari China dan Taiwan. Hampir tidak ada peserta dari Negara Eropa. Sedangkan perusahaan lokal pada umumnya mewakili perusahaan asing juga dari China dan Taiwan.  Apakah keadaan itu diperhatikan oleh stakeholder untuk dijadikan sebagai bahan evaluasi guna pengembangan sektor industri di Indonesia.

Advertisement

Perusahaan dari China dan Taiwan itu bukan hanya menggelar mesin dan alat industri lainnya. Mereka juga menjual output yakni produk yang dihasilkan oleh mesin buatan mereka.  Banyak produsen lampu yang lagi tren yakni LED mengecer selama pameran. Pajak penjualan (mungkin) gratis—termasuk pajak penjualan mesin-mesin yang tidak dipungut.

Para pejabat terkait dan asosiasi-asosiasi pun selalu memberikan data atau setidak-tidaknya menggambarkan kondisi dan perkembangan sektor industri di Indonesia. Perusahaan-perusahaan (asing) pun memanfaatkan data atau informasi dari para pejabat dan  asosasi (Indonesia) itu menjadi peluang bisnis.

Ujung-ujungnya, Indonesia hanya menjadi pasar. Artinya, hampir seluruh sektor industri di Indonesia menggunakan peralatan dan teknologi industri buatan asing. Kita jarang mendengarkan rencana transfer atau alih teknologi dari perusahaan asing ke Indonesia yang dilakukan secara siginfikan dan teratur. Pameran biasanya berlangsung 3-4 hari. Penyelenggara pameran untung besar, termasuk dari hasil penjualan katalog/direktori yang juga dijual kepada wartawan.

Kalau ada semacam alih teknologi hanya dilakukan secara B-to-B antarkedua perusahaan yakni penjual dan pembeli. Dan perusahaan asing pada umumnya enggan membeberkan rahasia teknologi paling rumit kepada perusahaan lokal. Sebaliknya, perusahaan lokal pun lebih suka “tidak mau capek-capek” mempelajari hal-hal yang rumit dari peralatan industri yang dibeli. Akibatnya, Indonesia selalu bergantung pada perusahaan asing baik untuk pengadaan spare parts mesin atau penyediaan tenaga ahli.

Upah buruh yang masih relatif murah di Indonesia merupakan salah satu faktor daya tarik bagi perusahaan asing. Contohnya perusaaan pembuat ponsel oppo yang memindahkan pabriknya dari China ke Indonesia. Kita (mungkin) bangga karena investasi dari China masuk ke Indonesia.

Pembuat sensor dan chip

Akan tetapi, hampir seluruh produk oppo (milik perusahaan China) justru diserap pasar dalam negeri. Artinya, masyarakat Indonesia-lah yang membesarkan pabrik oppo itu. Kita menjadi pembeli utama dan rahasia teknologinya tetap dipegang oleh pemiliknya. Orang-orang kita hanya berfungsi sebagai  buruh dan pedagang untuk menjual ponsel.

Peran industri pendukung seperti perusahaan penyedia bahan baku dan teknologi semisal pembuat sensor dan chip? Kita jangan terlalu berharap peran perusahaan lokal. Buktinya, begitu oppo pindah dan sejumlah perusahaan ponsel lainnya berencana pindah ke Indonesia, perusahaan-perusahaan pendukung lainnya telah mengantisipasi agar kebutuhan perusahaan-perusahaan ponsel itu disuplai oleh perusahaan-perusahaan—juga asal dari China dan Taiwan—bukan dari Indonesia. Cara berpikir mereka jauh lebih dahulu dari kita.

Contohnya Shenzhen MagicRay Technology Co.Ltd., perusahaan otomasi dari provinsi Shenzhen, China, yang menawarkan mesin Solder-320 berfungsi sebagai robot otomatis soldir untuk pembuatan produk elektronik—baik pengelasan banyak titik, pengelasan satu titik/lokasi, pengelasan yang memanjang (tarik)—dalam produk elektronik itu sendiri misalnya pada ponsel yang nantinya berguna untuk sensor sinyal yang masuk ke perangkat keras dalam ponsel.

Baca juga :   Hemat Energi Manufaktur Otomotif, Begini Caranya

Menurut Vice President Coorperate Shenzhen MagicRay Technology, David Hu, perusahaannya menawarkan jasa (teknologi) kepada para pelaku industri smart manufacturing yakni industri 4.0 seperti pabrik pembuat ponsel. David yang bermitra dengan Michael Goh General Manager Evolution Marketing & Engineering Sdn Bhd (Malaysia) menggarap potensi pasar yang demikian besar di Indonesia. Mereka pun memajang beberapa mesin pada pameran yang berlangsung di Kemayoran, Jakarta.

David, Michael, Oo Weng San Overseas Services Engineer MagicRay, Sun Zhang Deputy General Manager MagicRay, dan Alen Sun Senior Manager MagicRay merupakan satu tim untuk menggarap potensi pasar di Indonesia. David mengakui, bahwa kebanyakan pabrik di Indonesia masih menggunakan teknologi tingkat industri 3.0.

Akan tetapi, kata David, jika sektor industri di Indonesia masih menggunakan teknologi  industri 3.0 maka inefisiensi tak dapat dihindari. Michael mengakui sukar mengubah mind set para pelaku industri. Namun, persaingan global yang demikian ketat memaksa para pelaku industri harus berubah dan segera meninggalkan pola lama dalam berbisnis—terutama pada penggunaan mesin dan alat industri.

Salah satu mesin otomasinya mampu mengggantikan 4 orang tenaga kerja dan kualitas produknya pun sama, ongkos produksi pun menurun dan mempunyai nilai tambah bagi para pelaku indistri. MagicRay menawarkan beberapa produk yang telah bersertifikat ISO, antara lain, produk seri TD7000 yang bekerja berbasiskan teknologi 2D AOI  dan merupakan bagian dari teknologi era 3D, seriV5000 dengan presisi dan kecepatran yang tinggi, seri V8 dan mesin lainnya peralatan industri di Jakarta.

David He menambahkan, teknologi soldering AOI solution berguna untuk membantu para pelaku manufaktur agar lebih efisien. Jika  bisnis di Indonesia demikian berkembang, pihaknya berencana mendirikan pabrik di Indonesia. “Penduduk Indonesia membutukan  produk berkualitas dunia,” kata David He. Sementara Michael Goh bakal sering datang ke Indonesia.

“Banyak proyek infrastruktur yang sedang dibangun di Indonesia membutuhkan teknologi buatan MagicRay,” imbuh Michael. Selain sektor otomotif, produk dan teknologi MagicRay bermanfaat pada sektor industri lainnya seperti elektronik, pabrikasi, dan lain-lainnya.

Untuk menampilkan seorang wanita agar wajahnya tampak lebih menarik, ujar Oo Weng San, kami menggunakan analisis alogaritma. “Jadi, kami bisa mengikuti tren teknologi versi industri 4.0,” imbuh Sun Zhang. Letak provinsi Shenzhen terlerak di selatan China, tentu lebih dekat ke Indonesia. Hayo, silakan berbinis dengan MagicRay.

Advertisement

Tulis Opini Anda