INDUSTRI LOGAM

Nusantara Kian Memikat Mata Tiongkok

0
42
Industri logam dasar bertumbih signifikan dan prospeknya cukup bagus. (Sumber foto: http://www.tubasmedia.com/)

Bahan baku industri logam dasar masih impor sementara kebutuhan besi dan baja demikian besar. Pembangunan infrastruktur dan industrialisasi di berbagai daerah terus meningkat. Apakah para investor lokal sudah siap bertarung dengan pebisnis dari Tiongkok.

Industri logam dasar bertumbih signifikan dan prospeknya cukup bagus. (Sumber foto: http://www.tubasmedia.com/)
Industri logam dasar bertumbih signifikan dan prospeknya cukup bagus. (Sumber foto: http://www.tubasmedia.com/)

Kendati pertumbuhan industri logam dasar sedang melambat, pemerintah memperkirakan pertumbuhan investasi industri logam dasar di dalam negeri tahun 2014 bisa mencapai 50 persen dibandingkan dengan realisasi investasi tahun 2013.

Direktur Industri Material Logam Dasar Ditjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Budi Irmawan menuturkan pihaknya menerima usulan investasi di bidang industri logam. Dibanding tahun 2013, jumlahnya meningkat lebih dari 50 persen—investor yang berminat membangun industri logam dasar pada tahun 2014.

Advertisement

Berdasarkan catatan Kemenperin, realisasi investasi sektor industri logam dasar tahun lalu mencapai US$8 miliar.m Bila ada peningkatan pertumbuhan investasi sebanyak 50 persen , artinya investasi yang bisa direalisasikan selama tahun 2014 bisa menyentuh angka US$12 miliar. Budi memperkirakanm investor yang berminat pada sektor industrri logam dasar naik hingga 50 persen meski yang baru direalisasikan sekitar US$1,7 miliar. Beberapa investor yang menyatakan minat tetapi belum dipastikan akan segera berkomitmen membangun industri logam dasar di Indonesia.

Sebagian besar investasi di bidang industri besi dan baja, pengolahan nikel, bauksit, dan juga industri pengolahan hilir. Investor tembaga kurang banyak peminat karena secara bisnis keuntungan yang didapat relatif kecil. Pada industri hilir banyak perusahaan yang mau ekspansi. Pasokan bahan baku cukup prospek dan mudah mendapatkannya—setelah program penghiliran di hulu berjalan. Peusahaan yang merealisasikan programnya adalah PT Gunung Gahapi Sakti (anak usaha grup Gunung Garuda) dengan investasi US$100 juta di tambang yang berlokasi di Sumatera Utara. Gunung Gahapi telah menandatangani surat kerja sama dengan manajemenn Nanjing Steel persuahaan baja dari Tiongkok.

Menyusul Resteel Industry perusahaan patungan dengan perusahaan besar dari Tiongkok masing-masing PT Shanxi Haixin Iron and Steel Group bekerja sama dengan gup PT Trinusa. Perusahaan-perusahan itu telah melakukan ground breaking pada Mei 2014 dengan membangun pabrik baja dengan investasi US$500 juta.

Sementeara itu, PT Bintan Alumina Indonesia menggelontorkan dana US$1 miliar untuk memproduksi SGA dengan kapasitas 1 juta ton/tahun dan akan terus meningkat hingga 2,1 juta ton saat beroperasi pada 2018. Bintan Alumina Indonesia melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) dengan pembangunan smelter bauksit menjadi alumina menjelang September 2014. Ivestasinya diperkirakan US$1,7 miliar.
Meski investasi bertumbuh hingga 50 persen, namun hal itu belum bisa mendongkrak pertumbuhan industri logam di Indonesia. Realisasi pertumbuhan industri tahun 2013 mencapai 13 persen, sementara tahun 2014, pertumbuhannya diperkirakan hanya sekitar 10 persen hingga -11 persen .

Berdasarkan pengamatan, Kementerian Perindustrian berupaya mendukung program pengembangan industri logam berbasis sumber daya lokal karena prospek industri logam nasional di masa mendatang sangat baik dilihat dari sisi demand yang direspons dengan meningkatkan suplai melalui optimalisasi utilisasi maupun investasi baru.
Sebagai salah satu industri yang menunjang produksi barang modal dengan logam sebagai bahan bakunya, industri logam memiliki peranan yang cukup signifikan dalam pengembangan industri nasional.

Peningkatan pertumbuhan industri logam disebabkan oleh realisasi beberapa proyek-proyek pada industri material logam seperti yajng dilakukan oleh PT Krakatau Posco, PT Delta Prima Steel, PT Indobaja Dayatama, dan PT Molten Alumunium Indonesia.

Baca juga :   Kita Masih Kekurangan Produk Baja

Untuk menekan penggunaan jumlah produk impor dan mendorong tumbuhnya industri dalam negeri, kementerian industri berupaya maksimal dengan pelbagai pihak agar industri nasional mampu bersaing dengan industri luar negeri, khususnya material dasar logam.

Salah satu contohnya dengan pemberlakuan tarif bea masuk produk-produk impor melalui skema kerja sama internasional yang relatif rendah, sedangkan non-tarif measure untuk produk logam perlu dikembangkan secara optimal. Pemerintah melalui program peningkatan penggunaan produk dalam negeri diharapkan dapat memberikan dukungan agar mampu menjadi pemicu penggunaan logam dalam negeri. Hal itu bisa dicapai, jika pemerintah mewajibkan instansi pemerintah untuk memaksimalkan penggunaan hasil produk dalam negeri dalam kegiatan pengadaan barang atau jasa yang dibiayai oleh APBN atau APBD.

Kurangi ketergantungan pada impor

Sementara itu, dalam kesempatan lain, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan penguatan struktur industri logam dan integrasi antara industri hulu dan hilir dari China yang mendirikan pabrik besi-baja dan alumunium dengan total nilai investasi US$8,6 miliar. Dari investasi ini diharapkan dapat memperkuat struktur industri logam serta mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Menperin menegaskan akan berkomitmen dan memfasilitasi hal-hal yang mampu mendorong kelancaran proyek dua pabrik ini yang rencananya akan dimulai pada 2015 dan 2016 dengan nilai investasi US$1,5 miliar. Pabrik besi-baja dari investor China, Oriental Mining and Mineral Resources dan Ruo long Investement itu akan memroduksi pasir besi dan bisa digunakan sebagai bahan baku peleburan baja.

Pabrik tersebut akan mengadopsi teknologi yang telah diterapkan di dunia dan bisa memroduksi bahan baku untuk pengecoran besi, dan campuran untuk ferroalloy/powder metalurgy. Hidayat berharap pembangunan pabrik direct reduced iron bisa menjadi jembatan untuk teknologi pengolahan besi-baja yang lebih maju, karena teknologi yang digunakan adalah non-cooking coal yang banyak terdapat di Indonesia.

Sedangkan pabrik pemurnian alumina yang akan dibangun oleh Beijing Shuang Zhong Li Investment Management dengan nilai investasi US$7,1 miliar, yang bertujuan untuk memasok produksi baik dalam dan luar negeri. Kalau produksi alumina nanti dibutuhkan untuk dalam dan luar negeri termasuk inalum. Dengan demikian, keran impor bisa distop.

Pabrik besi-baja dan alumunium tersebut akan dibangun masing-masing dalam empat dan tiga tahap. Pabrik besi-baja berkapasitas produksi enam juta ton per tahun. Sedangkan investasi pabrik pemurnian alumina sebesar US$7,1 miliar, memiliki kapasitas total 1,8 juta ton. Oleh karena itu, dibutuhkan koordinasi antara instansi baik pusat dan daerah untuk memastikan rencana investasi tersebut berjalan tepat waktu

Partner Managing Director PT Global Resources Capital (Hongkong) Limited Lizhi Zao mengatakan pihaknya setuju menaati peraruran perindustrian yang ditetapkan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Pihak Global Resources Capital akan menggunakan kemampuan ekonomi dan finansial nya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menyediakan lapangan kerja. (Diolah dari tender-indonesia.com, Okezone, Harian Ekonomi Neraca, dan sumber-sumger lain).

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda