Rabu , 3 September 2014
Facts Ticker
Better promote your products & services in BAHASA
Our ONLINE EXPO promotes you the WHOLE YEAR
McKinsey report: Indonesia today, 16th-largest economy in the world
PT MEDIA MANUFAKTUR INDONESIA (owner of mmINDUSTRI.co.id) does not have any local/foreign affiliations or any representatives except those within the procedure.
You are here: Home » Industrialisasi » Neraca Perdagangan dengan ASEAN Diperkirakan Surplus US$ 4,5 Miliar

Neraca Perdagangan dengan ASEAN Diperkirakan Surplus US$ 4,5 Miliar

Pemerintah optimistis neraca perdagangan non-minyak dan gas (migas) antara Indonesia dengan negara-negara anggota ASEAN lain pada 2011 bisa mencapai US$4 miliar-US$4,5 miliar. Badan Pusat Statistik mencatat pada periode Januari-September 2011, surplus neraca perdagangan non-migas Indonesia-ASEAN pada periode Januari-September US$2,67 miliar, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$1,72 miliar.

Edy Putra Irawady, Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Perdagangan dan Perindustrian, mengatakan potensi surplus perdagangan non-migas Indonesia-ASEAN dilihat berdasarkan tren pertumbuhan sektor industri dari dalam negeri.

Surplus perdagangan non-migas Indonesia-ASEAN sempat mengalami defisit US$1,5 miliar pada 2008. Menurut Edy, ekspor Indonesia ke negara-negara ASEAN diperkirakan akan terus meningkat dan impor turun. “Kecuali dengan Thailand dan Singapura, Indonesia berpotensi masih mengalami defisit karena impor bahan baku otomotif dan elektronik sangat tinggi,” kata Edy.

Faktor lain yang menyebabkan surplus atau defisit neraca perdagangan adalah kesepakatan kerja sama perdagangan bebas sesama negara ASEAN. Selain itu, pemerintah menilai potensi pertumbuhan industri nasional masih besar.

Sejumlah sektor industri dalam negeri masih berpeluang dikembangkan dan mendorong nilai ekspor. Industri tersebut antara lain turunan minyak atsiri, turunan strearin, produk herbal, produk kultur seperti batik, tenun, rajutan, dan produk makanan olahan. Pemerintah juga menyakini industri komponen otomotif, pupuk urea, mesin dan peralatan pertanian, farmasi serta komestik masih berpeluang besar untuk dikembangkan.

Purbaya Yudhi Sadewa, Kepala Ekonom Danareksa Research Institute, mengatakan di tengah kondisi ekonomi ekonomi global saat ini, kebijakan pemerintah menjadikan ASEAN sebagai bagian dari negara yang menjadi sasaran diversifikasi pasar ekspor merupakan keputusan yang baik. “Tetapi saat ekonomi global menurun seperti sekarang, daya beli di negara-negara ASEAN juga berpotensi turun karena ekspor juga terganggu,” kata Purbaya.

Oleh karena itu, perlambatan pertumbuhan ekspor akibat perlambatan ekonomi di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang, belum dapat dapat ditutup pasar ekspor di ASEAN. Namun, potensi peningkatan nilai ekspor Indonesia ke ASEAN masih besar.

Dibandingkan negara-negara anggota ASEAN, Indonesia masih memiliki kelebihan dari sisi kepemilikan bahan baku khususnya yang berasal dari alam yaitu batu bara, gas, minyak kelapa sawit mentah (CPO), karet, dan hutan. “Ke depan kita harus mengembangkan barang ekspor, jangan hanya bahan baku,” kata Purbaya.

Haryo Aswicahyono, Peneliti Senior Bidang Ekonomi Center for Strategic and International Studies, mengatakan ekspor Indonesia termasuk ke ASEAN masih mengandalkan bahan mentah. Agar nilai ekspor Indonesia dapat lebih besar pemerintah harus mampu mendorong pertumbuhan industri yang berbasis produk jadi.

“Indonesia kaya sumber daya alam seperti produk pertambangan dan pertanian. Ini yang seharusnya dikembangkan,” kata Haryo. Untuk itu, pemerintah harus mampu memberikan dukungan dengan menyediakan iklim investasi terutama menghilangkan ekonomi biaya tinggi dan menyediakan infrastruktur yang memadai.

Haryo mengatakan pemerintah harus mampu menjadikan ASEAN sebagai pasar ekspor karena selama ini negara-negara ASEAN masih menjadi basis produksi barang-barang yang juga diekspor ke Amerika, Eropa, dan Jepang. (Indonesia Finance Today)

Komentar Anda

Scroll To Top