INDUSTRI TELKOMUNIKASI

Modernisasi Jaringan Cakup Wilayah Nusantara

0
5

Separuh modernisasi jaringan milik PT Indosat Tbk di sebagian wilayah Jawa hampir selesai.  Proyek ini telah melan modal kerja sebesar Rp4 triliun dari alokasi modal Rp8 triliun tahun 2013.  Sementara PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menargetkan seluruh wilayah Indonesia akan terkoneksi melalui pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut terutama dengan penggelaran Maluku Cable System (MCS) sepanjang 6.000 km pada awal 2015.  Proyek apa yang sedang dikerjakan oleh PT Solusi Tunas Pratama dan PT Telkomsel?

130610-02a

Menurut Erik Meijer  Director & Chief Commercial Officer PT Indosat Tbk,  modernisasi jaringan di Jabodetabek dan Jawa Barat sudah selesai 50 persen,  sedangkan di Bali Selatan hampir selesai. Dengan demikian,  pada Lebaran 2013 hasil pembangunan akan dapat digunakan jaringan yang dimodernisasi  di wilayah itu.

Advertisement

Kegiatan modernisasi jaringan Indosat kini memasuki wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Erik menargetkan proses modernisasi jaringan di Jawa dan Bali bisa rampung awal tahun 2014. Tahap modernisasi jaringan Indosat terdiri atas dua bagian yakni, pertama adalah penggantian perangkat dan menaikkan kapasitas. Sedangkan yang kedua bertujuan untuk memindahkan jaringan ke frekuensi 900 MHz.  Kebutuhan dana modernisasi untuk satu BTS sekitar US$30.000.

Pada tahun 2013, Indosat menargetkan modernisasi  25.000 BTS dan sekitar 10.000 BTS yang dibangun di kawasan Jabodetabek harus tuntas.  Sisanya,  terbentang dari Padang (Sumatera Barat) hingga  Bandung (Jawa Barat),  Surabaya (Jawa Timur),  Semarang (Jawa Tengah) berbelok menuju Sukabumi (Jawa Barat), dan selanjutnya ke Bali.

130610-02b

Indosat juga menginvestasikan dana sebesar US$200-250 juta untuk meluncurkan satelit baru,  Palapa-E.  Satelit itu akan menggantikan satelit Palapa-C2 yang habis masa orbit pada 2014.   Pembayarannya bertahap selama dua tahun. Indosar membuka peluang bagi pihak lain dalam financing satelit baru dan beberapa pihak sudah menyampaikan minatnya seperti dijelaskan oleh Direktur Utama Indosat Alexander Rusli.

Untuk itu  Indosat bekerja sama dengan perusahaan teknologi luar angkasa di Amerika Serikat (AS) yakni Orbital Sciences Corporation  untuk meluncurkan satelit Palapa-E.  Kerja sama mencakup proses desain dan produksi.  Satelit Palapa-E akan mengorbit pada slot 150,5 bujur timut (BT) pada tahun 2016.

“Rencana peluncuran satelit yang akan ditempatkan di slot orbit 150,5 BT adalah untuk melayani keberlangsungan kebutuhan masyarakat atas layanan telekomunikasi serta mendukung pemerintah dalam mempertahankan aset negara terkait slot orbit 150,5 bujur timur (BT),” tutur Alex.

Saat ini,  Indosat mengoperasikan satelit Palapa-C2 di slot 150,5 BT dan satelit Palapa-D di slot 113 BT melalui stasiun Jatiluhur,  Jawa Barat.  Slot 150,5 BT ditempati oleh satelit Papala-C2 yang diluncurkan sejak 1996.  Sedangkan satelit Palapa-D yang menempati slot 113 BT diluncurkan pada 31 Agustus 2009.

Layanan satelit yang disediakan Indosat antara lain transponder lease sebagai layanan dasar untuk memenuhi kebutuhan konektivitas korporasi dan pemerintah seperti untuk jaringan KTP elektronik,  penyedia jasa internet,  dan lain-lain.

Telkom targetkan layani seluruh Indonesia tahun 2015 

130610-02c

Sementara itu, Direktur Utama PT Telkom Arief Yahya menuturkan pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL)—terutama Maluku Cable System (MCS)—merupakan  bagian dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) periode 2011-2015 khususnya untuk Koridor VI.

Pihak Telkom menargetkan total SKKL yang digelar dari Sabang hingga Papua sepanjang 75.000 km.  Hingga saat ini,  Telkom telah berhasil menggelar 68.000 km,  khususnya di Indonesia bagian Barat.  Sekarang ini Telkom sedang menyelesaikan 6.000 km  yaitu yang dinamakan Maluku Cable System.

Proyek MCS yang menelan investasi sekitar US$86,6 juta dan merupakan bagian dari program pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Sulawesi Maluku Papua Cable System (SMPCS).    MCS memiliki nilai yang cukup strategis dan keberadaannya sebagai backbone telekomunikasi akan menunjang percepatan pembangunan perekonomian dan kemajuan di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Telkom juga sedang menyelesaikan  infrastruktur serat optik Maluku Cable System (MCS) sepanjang 5.444 km.   MCS merupakan bagian dari program pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Sulawesi Maluku Papua Cable System (SMPCS).   Sedangkan SMPCS merupakan kelanjutan dari pembangunan Mega Proyek Palapa Ring dan menjadi salah satu program Telkom dalam mewujudkan Indonesia Digital Network (IDN).

Arief mengatakan pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut SMPCS mencakup penggelaran kabel laut sepanjang 5.444 km dan kabel darat sepanjang 655 km. Secara network design menurutnya,  SMPCS terdiri dari 3 jalur utama,  yaitu Manado – Ambon – Fakfak – Timika,  Manado – Sorong – Biak – Jayapura dan Ambon – Kendari. Sedangkan 13 cabang meliputi Jailolo,  Ternate,  Labuha, Sorong,  Mangole,  Sanana,  Namlea,  Masohi,  Banda Neira,  Bula,  Manokwari,  Sarmi dan Kaimana.

Baca juga :   Aeon Mall BSD City Operasikan Kamera NEC

130610-02d

Dengan mengoptimalkan teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM),  SMPCS mampu mendukung jaringan hingga kapasitas bandwidth 32×100 Gigabytes per fiber pair-nya, urai Arief.

Dia mengungkapkan untuk pembangunan SMPCS,  pihaknya menggandeng dua perusahaan asing,  Alcatel Submarine Network (ASN) dari Perancis dan NEC Corporation dari Jepang.   SMPCS merupakan bagian dari proyek jaringan infrastruktur Indonesia Digital Network (IDN) yang mampu menghubungkan seluruh Nusantara mulai dari Banda Aceh hingga Papua.

“IDN merupakan salah satu inisiatif kami dalam mendukung program pemerintah Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).  Melalui IDN,  Telkom siap membangun 15 juta homepass dan 1 juta wifi pada 2015 untuk mewujudkan salah satu pilar utama MP3EI yaitu konektivitas.”

Pemerintah pun akan segera membangun infrastruktur berupa jaringan fiber optik yang menyambungkan Manado Sulawesi Utara,  Ternate,  dan Papua.   Rencana pembangunan jaringan tersebut  ditandai dengan dilakukannya breaking down pada pertengahan Mei 2013. Dengan jaringan tersebut nantinya empat pula akan tersambung mulai dari  ujung utara di Manado hingga ujung timur di Kupang.

Selain itu sebanyak 5.748 kecamatan yang ada di Indonesia juga masuk dalam layanan internet kecamatan.  Layanan tersebut juga didukung oleh mobil operasional.  Sehingga melalui layanan internet kecamatan tersebut diharapkan anak-anak yang ada di desa bisa memiliki kesempatan untuk mengakses internet tidak kalah dengan anak-anak yang ada di kota.   Pemerintah juga memasang 1.000 wifi gratis di kabupaten dan kota di Indonesia—dalam upaya Indonesia conecting.

Demikian pula PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPT) sebuah  emiten infrastruktur telekomunikasi yang sedang giat-giatnya membangunan 1.000 tower hingga akhir 2013.  Nilai investasi proyek tersebut mencapai Rp1,5 triliun.

Presiden Direktur Solusi Tunas Pratama Nobel Tanihaha mengatakan,  pada kuartal pertama 2013,  perseroan telah membangun 200 tower dengan modal kerja Rp250 miliar.

Adapun wilayah pembangunan 60 persen berlokasi di wilayah Jakarta.  Rata-rata pembiayaan untuk satu tower sekitar Rp700 juta hingga Rp1,2 miliar. Dengan demikian  belanja modal (capital expenditure) tahun 2013 mencapai Rp1,5 triliun.

Selain pembangunan tower,  Nobel menyebutkan,  guna mendukung pengembangan usaha perseroan,  capex tahun ini sebagian kecil juga digunakan SUPT untuk pemasangan jaringan fiber optik.

130610-02e

Meski demikian,  hanya digunakan kurang dari 10% belanja modal perseroan tahun ini.  Perseroan telah memiliki jaringan fiber optik sepanjang 1.000 kilometer (km) yang berada di Jakarta,  Bandung,  dan submarine Batam-Singapura.

Pada 22 Maret 2013 manajemen perusahaan ini telah menandatangani perjanjian pinjaman sindikasi senilai US$300 juta dengan masa tempo lima tahun.  Dananya akan digunakan untuk melunasi seluruh pinjaman perseroan yang diperoleh pada 2011 untuk pengembangan usaha dan modal kerja.

Direktur Keuangan Solusi Tunas Pratama Juliawati Gunawan menuturkan perseroan membidik pertumbuhan pendapatan mencapai 50% atau sekitar Rp750 miliar dibandingkan pada tahun ini.  Sebagai tambahan,  SUPT sepanjang tahun 2012 memperoleh pendapatan sebesar Rp162,7 miliar.  Dia menyebutkan,  hingga akhir tahun,  perseroan mengharapkan dapat memiliki dan mengoperasikan sebanyak 3.500 menara.

Perusahaan Telkomsel pun akan menambah dua base transceiver station (BTS) di Pulau Enggano,  Kecamatan Enggano,  Kabupaten Bengkulu Utara,  Bengkulu.   Saat ini baru berdiri satu menara BTS dan jangkauan terbatas pada satu desa, seperti diuraikan oleh  Alfon Oktrinanda Manajer Telkomsel Cabang Bengkulu.

Alfon mengatakan saat ini Telkomsel merupakan satu-satunya penyedia layanan seluler yang memberi layanan di pulau terluar berjarak 106 mil dari Kota Bengkulu itu.

130610-02f

Satu menara BTS yang dibangun di Desa Malakoni,  ibu kota kecamatan pulau Enggano,  hanya mampu menyediakan layanan jaringan di satu desa tersebut.  Ketersediaan listrik menjadi kendala dalam layanan telekomunikasi di wilayah itu.

“Satu menara yang ada sekarang menggunakan solar cell,  jadi kalau cuaca memasuki musim hujan,  sinyalnya terganggu.

Pembangunan infrastruktur dan modernisasi jaringan—serta pembangunan optik baik melalui laut, darat dan udara tentunyan akan meningkatkan pertumbuhan industri telekomunikasi di Indonesia.  (Sumber: tender-indonesia.com dan beberapa sumber lain)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda