MNC Membangun Sirkuit Formula 1, Plenary Hall & Pelabuhan Kapal Pesiar di Nusa Tenggara

0
11

Sebaiknya para investor jangan menumpuk di Jawa utamanya di Jakarta. Liriklah potensi daerah-daerah seperti Nusa Tenggara Barat (NTB) dam Nusa Tenggara Timur (NTT). Setidaknya tujuh sektor unggulan di kedua provinsi itu menjanjikan peluang bisnis yang dapat mengalirkan keuntungan ke pundi-pundi para investor.

Bekerja sama dengan Bank Mandiri, pemerintah daerah NTB dan NTT menawarkan peluang bisnis kepada 200 pengusaha belum lama ini. Melalui acara yang bertajuk Nusa Tenggara Invesment Day terungkap bahwa total investasi yang dibutuhkan untuk menggali potensi bisnis dan ekonomi NTB, NTT dan Bali diperkirakan mencapai Rp121,6 triliun.

Sektor-sektor unggulan itu meliputi  pengembangan pariwisata di Lombok Tengah, sektor pertanian dan pengolahan rumput laut di Lombok Timur,  pertanian dan pengolahan jagung di Dompu, dan perternakan dan penggemukan sapi di Sumbawa.

Advertisement

 Provinsi NTT menawarkan daerah Timor Tengah Selatan sebagai lokasi peternakan dan penggemukan sapi, Sumbawa Barat Daya cocok untuk pertanian dan pengolahan jagung, dan Kabupaten Nagekeo untuk pengembangan industri garam. Gubernur NTT Frans Lebu Raya berterus terang bahwa sarana infrastruktur merupakan kendala untuk  investasi di kawasan Nusa Tenggara. Banyak sumberdaya alam yang belum tersentuh dan dimanfaatkan secara maksimal. Kedua provinsi ini juga mengandung potensi tambang yang sebagian besar belum digali.

Akan tetapi, suatu kendala justru merupakan peluang bisnis bagi investor yang dapat mengembangkan infrastruktur—merupakan prioritas—misalnya pelabuhan, jalan raya,  proyek pembangkit listrik, dan proyek  kelautan. NTB dan NTT merupakan salah satu dari 6 koridor ekonomi yang dijadikan Pintu Gerbang Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional dalam Masterplan Percapatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) periode 2011-2025.

Sinergi industri-perbankan

Para pelaku industri dan perbankan dapat melakukan sinergi untuk mendukung pertumbuhan kawasan, terutama daerah Indonesia Timur. Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini menyampaikan peran bank untuk mendorong pertumbuhan perekonomian kawasan Nusatenggara. Kredit yang disalurkan Bank Mandiri terus meningkat terus meningkat.

Contohnya, penyaluran kredit Bank Mandiri di NTB dan NTT hingga September 2011 mencapai Rp880 miliar yang pertumbuhannya mencapai 96,5% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010.  Lebih dari 50% kredit ditujukan pada kredit modal kerja dengan pertumbuhan di atas 117%, yang mengindikasikan peningkatan aktivitas usaha di kedua provinsi itu.

Sukses Bank Mandiri di kedua provinsi itu mengikuti keberhasilannya ketika  mengikuti  Papua & Papua Barat Investment Day  tahun 2009. Waktu itu, Bank Mandiri  menyalurkan kredit sebesar 72% dengan portofolio sebesar Rp1,8 triliun.

Baca juga :   Masterplan P3EI (Bali)

Upaya para pejabat dari dua provinsi itu membuahkan hasil. Dari 200 investor yang menghadiri Nusa Tenggara Invesment Day, 11 pemodal papan atas berkomitmen untuk menggelontorkan investasi ke kawasan Nusa Tenggara. Sektor yang mereka bidik meliputi perkebunan, industri garam, pariwisata, peternakan, dan infrastruktur.

Para pemodal yang akan mengibarkan bendera usaha di kawasan Nusa Tenggara antara lain, grup Astra Internasional, Sungai Budi, Sampoerna Agro, Medco (milik Arifin Panigoro), Wonokoyo, dan ICON—anak  perusahaan PLN yang akan membangun jaringan, jasa dan konten telekomunikasi.

Kemudian diikuti oleh PT Japfa Comfeed Indonesia  Tbk, PT Bisi Internasional Tbk, PT Charon Phokpand Indonesia Tbk, PT Santos Jaya Abadi,  grup Djarum, dan Chairperson Central Cakra Murdaya/grup Berca Group (milik Murdaya Widyawimarta Poo). Salah satu investor akan mengembangkan lahan 30.000 hektare untuk perkebunan. Sedangkan grup Djarum akan mengembangkan perkebunan di daerah Sumba Barat Daya.

Proyek kawasan wisata Mandalika Lombok yang membutuhkan Rp27 triliun akan digarap oleh enam investor dan telah menandatangani nota kerjasama pembangunan wisata yang disaksikan Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Selain Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Gobel Internasional (milik Rachmat Gobel) mendapatkan konsesi lahan seluas 350 hektare untuk membangun fasilitas ramah lingkungan dan pengelolahan air minum dan limbah di kawasan wisata Mandalika.

Gobel Internasional juga akan membangun resor dan hotel berbintang. Sedangkan grup MNC (milik Hary Tanoesoedibjo)–melalui anak usaha PT Global Land Develompment—mengeloa konsesi lahan seluas 400 hektar.

MNC akan membangun theme park yaitu taman hiburan terintegrasi seperti disneyland, underwater park dan techno park. MNC juga akan membangun sirkuit balap Formula Satu (F1), plenary hall untuk penyelenggaraan konser dan pelabuhan laut untuk kapal pesiar dan kapal laut.

PT Canvas Develovment (anak usaha grup Rajawali) yang telah mengoperasikan hotel bintang lima, akan menambah pundi-pundi penghasil uang dengan membangun resor, hotel berbintang (baru), dan villa di areal seluas 100 hektar. (Diolah dari berbagai sumber)

Advertisement

Tulis Opini Anda