FGDEXPO (2)

Mampukah Mesin Tua Bersaing dengan Digital Printing?

0
99
Gambar kiri>kanan David Liu dan Xu dari dari Kunshan Hexin Precise Machinery, Xu dan Kevin Wang dari perusahaan Shanggong Blade, sedangkan gambar kanan adalah David Risely bagian ekspor Zhongshan Furey Printing Material yang teknologinya dari Inggeris dan dimanufaktur di provinsi Guangdong, China. (Foto:Rayendra L. Toruan)

Apa rahasia pisau buatan  Hexin Precise Machinery, mesin rol pemotong ciptaan  Hexin Precise Machinery, dan keistimewaan beragam cat produksi Furey Printing Material?

David-cs
Gambar kiri>kanan David Liu dan Xu dari dari Kunshan Hexin Precise Machinery, Xu dan Kevin Wang dari perusahaan Shanggong Blade, sedangkan gambar kanan adalah David Risely bagian ekspor Zhongshan Furey Printing Material yang teknologinya dari Inggeris dan dimanufaktur di provinsi Guangdong, China. (Foto:Rayendra L. Toruan)

Potensi bisnis di industri grafika demikian besar asalkan kita kreatif dan inovatif mengeksploitasi agar kita menjadi tuan di negeri sendiri, demikian Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf yang demikian senang dengan pameran industri grafika yang dikaitkan dengan kemasan. Penyelenggaraan Asian Games di Jakarta dan Palembang nanti, industri kreativitas sangat berperan. Sayangnya, ungkap Triawan, penyelenggara PGDexpo tidak mencantumkan logo Asian Games—sebagai wujud #KerjaBersama

Ia mencontohkan orang yang mendengarkan musik yang dapat mendengarkannya secara  online tetapi untuk melihat show secara langsung, penggemar musik butuh jasa industri grafika.Industri grafika dapat menunjang desain kemasan, bukan hanya brandingnya, bukan hanya namanya—termasuk tipografi, desain, dan materi-materi yang dibuat dengan mesin-mesin yang berteknologi tinggi.

Advertisement

Jika kita berbicara fashion, lanjut Triawan, kita tidak hanya memperhatikan produknya tetapi juga packagingnya. Seperti yang dilakukan artis-artis di Instagram, mereka berhati-hati ketika membuka packagingnya yang indah dan mempunyai nilai tambah. Tangan kirinya memegang kamera, tangan kanan mebahan kemasan pakaian yang didapatkan dengan kemasan apik dan unik, lalu berselfie untuk Instagram atau facebook, tutur Triawan yang cukup memahami arah industri kreatif di Indonesia.

Pemburu makanan pun (kuliner) gemar memamerkan hidangan (yang akan disantap) lewat media sosial. Tindakan atau lakon masyarakat yang gemar memfoto dan mempublikasikan hidangan kesukaannya tentu berdampak terhadap industri grafika. Bahkan makanan yang dikemas kadang lebih mahal packagingnya daripada harga makanan.

 

Kaitannya dengan industri 4.0

Oleh karena selera—dalam segala dimensi—masyarakat di Indonesia kian tinggi, penyelenggara FGDexpo 2017 menghadirkan inovasi terbaru dari berbagai kategori di industri grafika yang meliputi, printing dan digital printing equipment, packaging dan label production technology, promotion dan advertising equipment, book binding dan print finish, paper distributors dan converting equipment, services (advertising companies dan printers), premed equipment dan software.

Ketua FGDforum, Danton Sihombing menyatakan bahwa perindustrian dan manufaktur dunia memasuki ambang revolusi industri keempat (industri 4.0), dan teknologi yang bergerak demikian cepat dan saling terkoneksi. Kita tidak dapat mengelakan diri dari gelombang inovasi teknologi, globalisasi, dan pembauran budaya.

Baca juga :   BRI Siap Mendanai Proyek Kelistrikan

Oleh karena itu, imbuh Danton, connectivity menjadi mantra yang relevan untuk mencari solusi dalam lanskap digital driver saat ini dan hari-hari yang akan datang. Redaksi media ini berulang kali mengingatkan bahwa era digital driver bakal menenggelamkan berbagai sektor bisnis, jika tidak mampu beradaptadi terhadap perubahan.

Contohnya di Singapura, jasa atau pekerjaan di bidang asuransi (agen), perumahan, taxi driver, ritel, ban teller, dan jasa penyaji makanan dan minuman yang dilaksanakan secara konvensional sudah kaladuarasa atau mati—semua terlayani dengan konektisitas online.

Bahkan mesin-mesin cetak yang tidak dapat terkoneksi dengan digital, demikian Rudy Darmawan Mulaydi,  Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komputer DKI yang juga direktur Xandrina sebaiknya dijual secara kiloan untuk dijadikan bahan baku. Mesin-mesin milik penerbit besar yang tidak dapat berfungsi lagi (mungkin) bisa disumbangkan untuk dipajang di museum grafika nasional suatu hari.

Untuk itulah, kita harus kreatif menciptakan diversifikasi bisnis baru seperti diungkapkan oleh David Liu David Liu dan Xu dari dari Kunshan Hexin Precise Machinery,  Xu dan Kevin Wang dari perusahaan Shanggong Blade serta David Risely bagian ekspor Zhongshan Furey Printing Material yang mengikuti DGFexpo, termasuk Brenda Lee dari perusahaan Shenzhen vility Automation Machinery (Shenzhen city, China).

Kita akan membahas kecaggihan pisau canggih yang bekerja dengan digital buatan  Kunshan Hexin Precise Machinery, mesin rol pemotong ciptaan  Kunshan Hexin Precise Machinery, serta beragam cat yang ditawarkan oleh David Risely dari Zhongshan Furey Printing Material. Mereka demikian antusis mencari partner bisnis di Indonesia. Anda berminat?

Simak FGDexpo (3)
Penerbit Besar dapat Proyek, Bagaimana UKM dapat Bisnis?

 

Advertisement

Tulis Opini Anda