Mesin Pengolah Sagu Senilai Rp50 miliar di Papua

0
24

Pemerintah menyediakan Rp50 miliar untuk mendanai pembangunan pabrik pengolahan sagu di bumi Cenderawasih. Sagu kaya akan karbohidrat. Jepang pun butuh sagu sebagai dasar produksi glukosa, sirup berfluktuosa tinggi, dan sorbitol. Malaysia telah membuat perkebunan sagu. Turunan sagu menghasilkanm polimer terbaik sebagai bahan  baku plastik yang mudah terurai atau hancur sehingga ramah lingkungan.

Sagu merupakan salah satu jenis komoditi tanaman pangan yang dapat dipergunakan sebagai sumber karbohidrat yang cukup potensial di Indonesia wilayah timur. Kita akui bahwa orang yang meminati sagu masih terbatas dan mungkin berkurang karena lebih menyukai pangan jenis lain seperti beras, jagung, kentang, dan terigu. Sisa-sisa pohon sagu masih dapat kita jumpai di tepi jalan utama sepanjang  jalan Kabupaten Jayapura kemudian ke daerah Sentani–Depapre dan Genyem.

Akan tetapi, stok beras nasional kurang memadai dan pemerintah terpaksa mengimpornya dari beberapa negara tengga seperti Thailand. Oleh karena itu, memosisikan sagu sebagai bahan makan pokok jangan hanya untuk suku-suku asli di Jayapura yang menghidangkan makanan khas papeda—bubur dari tepung sagu—ketika  berlangsung acara adat. Kita mengapresiasi niat Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan yang menugaskan Perhutani dan PT Inhutani untuk mendirikan pabrik pengolahan sagu sebagai salah satu bahan makanan. Pendirian pabrik pengolahan sagu itu memang diusulkan oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Papua.

Advertisement

“Ini merupakan respons BUMN untuk ikut proyek yang didorong pemerintah untuk melayani rakyat Papua dengan baik,” tutur Dahlan kepada wartawan seraya menambahkan, kelebihan produksi sagu akan dipasok ke Indonesia wilayah barat yang diangkut kapal logistik yang sering kosong setelah mengantarkan barang ke Papua.

Restoran hidangkan makanan dan kue dari sagu

Sebenarnya, bahan makanan yang berbahan sagu bukan hal baru bagi masyarakat khususnya Papua. Beberapa restoran di kota-kota di Papua  menyiapkan papeda sebagai salah satu menu hidangan.  Pelaku industri rumah tangga di Jayapura juga telah  membuat makanan dan kue berbahan baku dasar sagu.

Luas hutan sagu di si Papua mencapai 4.769.548 ha—dan telah dimanfaatan hutan sagu secara tradisional seluas 14.000 ha. Tanaman pohon sagu terdapat di Kabupaten Sorong,  Manokwari, Jayapura, Merauke, dan Kabupaten Yapen Waropen, dan sebagian besar tegakan sagu tumbuh pada daerah gambut pantai.

Baca juga :   Masterplan P3EI Koridor Ekonomi Indonesia

Jenis-jenis tegakan sagu terdiri dari ; Metroxylon rumphii var silvester, Metroxylon rumphii var longispinum, Metroxylon Rumphii mart, Metroxylon Rumphii var microcantum dan Metroxylon sago rottb. Potensi sagu belum dimanfaatkan secara optimal sehingga masih dimungkinkan diusahakan dalam skala industri.

Mengamati potensi sagu di Indonesia, terbuka peluang bisnis bagi pelaku industri makanan. Papua New Guinea dan Malaysia juga memiliki tanaman sagu. Bahkan Malaysia telah mengembangkan sagu dengan membuka perkebunan sagu. Indonesia berpeluang mengekpor tepung sagu ke Jepang. Negara matahari terbit itu menggunakan sagu sebagai bahan dasar produksi glukosa, sirup berfluktuosa tinggi, sorbitol, dan sebagainya.

Pakar sagu dari Institute Pertanian Bogor (IPB) Bogor, Dr Fredy Rumawas menjelaskan bahwa bahan tepung sagu dapat menghasilkan polimer terbaik guna membuat plastik yang mudah terurai atau plastik yang mudah hancur sehingga tidak merusak alam lingkungan. Dari segi bisnis, sagu terdiri dari sagu ihur (Metroxylon rumphii), sagu tuni (Metroxylon rumphi), dan sagu molat (Metroxylon sagu, Rottb).

Pohon sagu tidak hanya menghasilkan bahan makanan dan bahan baku untuk sektor industri. Kawasan hutan sagu dapat dijadikan sebagai salah satu obyek wisata dan obyek penelitian. Oleh karena itu, kita harus lebih inovatif mengolah bahan baku sagu untuk mencapai kesejahteraan penduduk di tanah Papua.  (Diolah dari berbagai sumber).

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda