GANGGUAN TELEKONFERENSI

Meredam Suara Bergaung saat Telekonferensi

0
127

Kemajuan teknologi informasi memudahkan kita berkomunikasi tanpa terhalang jarak lokasi. Kita dapat melakukan telekonferensi atau telewicara dengan partisipasi unsur pimpinan di kantor pusat, kantor cabang, perwakilan, dan sebagainya. Selain hemat dan efektif, partisipan tidak perlu bepergian ke lokasi lain, cukup memandang sebuah computer (webcam). Sayangnya suara ingar-bingar dapat mengganggu telewicara dan berdampak negatif terhadap pendengaran (telinga). Untungnya, para ilmuwan sudah dapat mengatasi gangguan tersebut.

Banyak suara ribut di sebuah call-center karena kerasnya suara di kantor terbuka tanpa partisi (Foto: ©FBloomberg/Kontributor)

Hati-hati dengan suara yang melatarbelakangi telekonferensi yang Anda lakukan di kantor. Suara berisik membuat bekerja di lingkungan kantor menjadi jauh lebih sulit—terutama pada saat melakukan telekonferensi atau telewicara. Suara-suara berisik tersebut dapat memengaruhi pendengaran orang-orang yang bertelekonferensi sehingga pendengaran tidak berfungsi normal. Bagaimana tim ilmuwan mengatasi perkara itu?

Bagi korporasi tingkat nasional dan internasional, telekonferensi merupakan salah satu cara berkomunikasi yang efektif dan efisien. Telekonferensi menjadi salah satu alat yang diperkukan oleh organisasi bisnis dan masyarakat umum—seperti Indonesia yang terdiri dari ribuan kepulauan. Hampir setiap korporasi skala besar dan menengah memiliki callcenter sendiri—seperti perusahaan transportasi dalam kota. Apa jadinya sebuah aktivitas bisnis tanpa panggilan cepat dengan ponsel di sana-sini?

Advertisement

Selama komunikasi dilakukan melalui telepon dan para pembicara (penelepon dan penerima telepon) saling mendengar suara yang jelas satu sama lain, tujuan berkomunikasi pasti baik. Bagaimana ketika suara tiba-tiba menghilang di tengah samudera suara yang ditimbulkan oleh gema, gaung, dan suara latar belakang lainnya? Kedua belah pihak yang saling berkomunikasi melalui telepon tidak mendengar apa-apa kecuali suara yang tidak jelas.

Selama telekonferensi, peserta berangkali meminta satu sama lain untuk mengulang ucapan mereka sekali atau dua kali. Namun, semakin lama permintaan tersebut membuat tidak nyaman, dan mau tidak mau, mereka harus berusaha mati-matian untuk menyimak ucapan lawan bicara, dengan harapan mereka bisa saling mengerti.

Teknologi mendengar

Gangguan suara pada saat berlangsung telewicara menjadi perhatian sejumlah ilmuwan. Para peneliti yang tergabung dalam kelompok proyek Teknologi Mendengar, Bicara dan Audio (Hearing, Speech and Audio Technology) di Fraunhofer Institute for Digital Media Technology IDMT di Oldenburg, Jerman. Bersama peneliti dari Oldenburg Hörzentrum dan Oldenburg Akustikbüro dalam jaringan penelitian interdisipliner Auditory Valley, para peneliti berupaya menyempurnakan teknologi akustik dan komunikasi di lingkungan kantor.

Sumber: http://pertekomkami.files.wordpress.com/2008/02/teleconference.gif

Salah satu tujuannya adalah untuk mencapai transmisi bicara (speech) yang sempurna dalam segala situasi. Untuk mewujudkan hal itu, para peneliti mengembangkan sebuah filter akustik yang memisahkan suara dari bunyi latar belakang agar suara yang ditransmisikan tersalur melalui saluran telepon.

“Kami menyumbangkan pengetahuan ahli kami dalam pemrosesan sinyal akustik dalam kerjasama ini,” kata Jan Rennies, manajer proyek IDMT. Oldenburg Akustikbüro bertanggung jawab atas rancangan dan optimalisasi akustik ruang. Sedangkan  Oldenburg Hörzentrum memanfaatkan keahliannya dalam prinsip-prinsip medis dasar pendengaran dan efek suara—khusus  pengalaman dalam pengembangan alat bantu dengar. Diperkirakan sekitar 70 juta orang dewasa di Eropa mengalami gangguan pendengaran yang membutuhkan perawatan, namun hanya 20% yang benar-benar menggunakan alat bantu dengar.

“Jadi, banyak orang di luar sana yang mempunyai masalah riil dengan teknologi telekomunikasi yang belum optimal saat ini,” kata Markus Meis, manajer proyek di Hörzentrum.

Suara mengganggu kurangi kemampuan konsentrasi

Para peneliti melakukan pendekatan terhadap masalah gangguan pendengaran saat bertelewicara dari dua sudut. Jan Rennies lebih fokus untuk menyaring suara yang mengganggu dari sinyal akustik itu sendiri. Christian Nocke dan Meis Markus merancang dan melakukan asesmen ruang kantor dengan sifat akustik optimal. Apa saja hasil yang mereka peroleh bergantung pada jenis aplikasi atau penerapan.

“Ketentuan untuk call center yang terbuka berbeda dengan ketentuan untuk ruang telekonferensi,” ujar Nocke.

Hasil dari kerjasama itu, beberapa prototipe pemrosesan suara saat ini telah dikembangkan, yang secara jelas memisahkan bicara dari suara latar belakang yang mengganggu. Protokol-protokol didasarkan pada spesifikasi perhitungan—algoritma yang menyaring nada suara dari suara-suara mengganggu berdasarkan karakteristik tertentu. Misalnya, suara mengikuti ritme khas empat hertz dengan empat suku kata per detik.

Di dalam kantor, sinyal ini menyatu ke dalam banyak suara lain. Telekonferensi terbukti bisa menjadi sangat rumit karena kata-kata bergema di dalam ruangan. Selain itu, suara penelepon menggema dari loudspeaker, dan suara latar belakang yang mengganggu, seperti kipas pada proyektor atau gemerisik kertas, juga bisa terdengar.

Akan tetapi, seperti apapun bunyi-bunyi itu, perangkat lunak Rennies bisa mengatasinya. Contohnya adalah program SI-Live Demo. Perangkat lunak ini menunjukkan kepada peserta konferensi betapa bagusnya suara mereka yang sekarang didengar oleh lawan bicara dengan menampilkan bar merah-hijau pada layar komputer, sehingga pembicara bisa langsung tahu, jika lawan bicaranya di ujung telepon mengalami kesulitan atau kemudahaan saat mengikuti percakapan tersebut.

Baca juga :   Kabar Baik Bagi Penderita Liver

Satu komponen tambahan adalah program Hearing Asistance Conferencing (perangkat lunak) yang bertujuan memfasilitasi komunikasi bagi orang-orang dengan gangguan pendengaran. Perangkat lunak ini tidak hanya menyaring bicara dari suara-suara di sekitarnya, tetapi juga merespon kebutuhan individual dari seseorang yang mengalami gangguan pendengaran.

Kendati mungkin terdengar sederhana, teknologi ini pada kenyataannya benar-benar istimewa. Pendengaran dari sebagian besar penderita hanya pada rentang frekuensi tertentu—biasanya pada nada tinggi—sehingga perangkat lunak tersebut harus cukup cerdas untuk secara khusus memperkuat suara hanya pada frekuensi-frekuensi tersebut bagi masing-masing individu.

Know-how alat bantu dengar dikombinasikan dengan perangkat elektronik konsumen

Alat bantu dengar bisa melakukan hal ini selama beberapa waktu, dan dibutuhkan beberapa penyesuaian yang dilakukan oleh spesialis akustik alat bantu dengar profesional sebelum hasil ideal bisa diraih bagi masing-masing pasien. Rennies kini merambah ke perangkat elektronik komunikasi sehari-hari.

“Kami menggabungkan know-how peralatan pendengaran dengan perangkat elektronik konsumen,” kata Rennies peneliti yang menghasilkan perangkat lunak Rennies itu.

“Ini hal baru.” Tentu saja, pada masa depan tidak ada orang yang mau membawa telepon atau sistem telekonferensi ke spesialis alat bantu dengar untuk dikonfigurasi.

“Kami harus menemukan cara lebih sederhana untuk menyesuaikan perangkat dengan kebutuhan masing-masing pengguna,” jelas Rennies yang sudah mengembangkan beberapa pendekatan menyenangkan, seperti pengontrol geser (slide control) interaktif yang memungkinkan pengguna mengkonfigurasi secara individual, bahkan televisi, sesuai dengan kebutuhan pendengaran mereka sendiri.

Tantangannya ada pada otomatisasi proses kustomisasi sebanyak mungkin. “Anda harus menyesuaikan secara individual puluhan parameter untuk mencapai hasil yang optimal. Itu hanya dapat dilakukan oleh spesialis alat bantu dengar,” ungkap ahli ini.

Untuk alasan itu, algoritma Rennies harus cukup cerdas melaksanakan sebagian besar penyesuaian sendiri pada perangkat elektronik, meminimalisasi konfigurasi manual. Untungnya, persyaratan untuk telepon tidak seberat untuk alat bantu dengar. Telepon umumnya hanya mengirimkan suara antara 300 dan 3.400 hertz, yang secara akurat sangat sesuai dengan suara terpenting dalam bicara.

Rennies membuat langkah pertama menuju perangkat komunikasi khusus dengan telepon, yang telah diuji di pusat orang jompo. Pengguna bisa memilih koreksi pendengaran tertentu dengan menggunakan tombol telepon. Satu opsi memperkuat suara hanya pada nada yang lebih tinggi, sementara yang lain memperkuat suara semua frekuensi.

“Ini saja sudah membawa perbaikan signifikan untuk memahami apa yang dikatakan,” kata Rennies. “Banyak orang dengan alat bantu dengar masih mengalami kesulitan menggunakan telepon, karena menemukan posisi yang tepat bagi penerima, terkait mikrofon alat bantu dengar, sering kali memakan waktu begitu lama sehingga mereka kehilangan nama si penelepon.”

Meskipun alat tadi belum diproduksi secara massal, tes yang dilakukan pada prototipe perangkat lunak terbukti berhasil. Para mitra industri sudah menunjukkan minat. Meis yakin bahwa “telekonferensi dengan transmisi suara sempurna akan menjadi bantuan besar—terutama  ketika orang berbicara dalam bahasa asing. Dalam situasi seperti itu, sangat penting untuk mencapai kejelasan bicara yang bagus, sementara usaha untuk menyimak dibuat minimal.”

Para peneliti juga berusaha bagaimana cara terbaik untuk menyempurnakan “akustik dalam kantor”. Oldenburg Akustikbüro menyediakan konsultasi dan solusi khusus kepada perusahaan untuk perencanaan kantor akustik. Dalam ruang konferensi, sangat penting agar presenter bisa didengar dengan baik dan jelas. Di ruang kantor terbuka, yang terjadi adalah sebaliknya. Karyawan yang bisa dengan jelas mendengar apa yang dikatakan oleh rekan kerja di sekitarnya hampir tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya sendiri. Di sini, kondisi idealnya adalah suara individu menghilang menjadi semacam suara latar belakang berupa gumanan.

“Dalam banyak kasus, masalah bisa terselesaikan melalui modifikasi arsitektur,” kata Nocke, misalnya dinding yang menyerap atau melindungi dari gema. Sementara situasi lain akan mendapatkan lebih banyak manfaat dari sistem akustik seperti yang dirancang oleh para peneliti Fraunhofer. (Tim Schröder. Informasi: www.fraunhofer.de/magazine)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda