APLIKASI TEKNOLOGI

Menggunakan iPad untuk Operasi Hati

0
3
kamar-operasi-ipad
Perbesaran Realitas di dalam kamar operasi melalui sebuah iPad, yaitu suatu software perencanaan dan navigasi yang memudahkan pengambilan keputusan pengobatan dan memperbaiki kualitas kesehatan pasien. (Sumber foto-foto/@: Junko Kimura/Fraunhofer)

Software MEVIS menghasilkan gambar 3D membantu pembedahan pada operasi hati. Hasilnya  lebih aman dengan presisi yang lebih tepat. Tim dokter bedan bisa mengetahui posisi pembuluh-pembuluh darah sehingga tidak tersayat saat operasi.

kamar-operasi-ipad
Perbesaran Realitas di dalam kamar operasi melalui sebuah iPad, yaitu suatu software perencanaan dan navigasi yang memudahkan pengambilan keputusan pengobatan dan memperbaiki kualitas kesehatan pasien. (Sumber foto-foto/@: Junko Kimura/Fraunhofer)

Suatu operasi menuntut konsentrasi yang penuh dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi. Suatu tim pembedah yang berusaha untuk membuang sebuah tumor hati yang berbahaya dari tubuh pasien. Hati merupakan suatu organ yang rumit, maka operasinya pun menjadi sulit dan menghabiskan waktu hingga berjam-jam.

“Banyak pembuluh darah yang melewati hati untuk mensuplai organ tersebut dengan 1,5 liter darah setiap menit,” kata Andrea Schenk, Kepala Penelitian untuk Hati di Fraunhofer Institute for Medical Image Computing MEVIS di Bremen, Jerman.

Advertisement

“Merupakan hal yang vital bahwa para dokter bedah harus mengetahui dengan pasti posisi pembuluh darah berada ketika mereka sedang melakukan operasi. Karena satu irisan salah bisa mengakibatkan pendarahan yang hebat bagi pasien, dengan potensi akibat yang serius.”

Teknologi baru yang dikembangkan di MEVIS telah membantu meminimalisir risiko ini. Fitur kunci dari peralatan yang baru ini adalah didasarkan pada suatu alat yang sudah setiap hari kita gunakan untuk berselancar di internet—untuk membaca atau menghibur diri yakni iPad. Gagasan awalnya datang dari Itaru Endo dan Ryusei Matsuyama—dua orang dokter bedah dari Yokohama City University School of Medicine, Jepang. Kedua dokter ini telah berpengalaman dengan pekerjaan di bidang pengembangan software di Bremen. Software tersebut menggunakan gambar-gambar tomografi komputer untuk memperhitungkan letak pembuluh darah yang mengalir melewati hati seorang pasien di dalam tampilan 3D. Cara ini membantu para dokter bedah untuk merencanakan operasi yang lebih seksama. Tim bedah harus mampu  menaksir lokasi bagian hati yang pasti untuk disayatan-sayat (operasi)  yang diperlukan di dalam penanganan tiap individu (pasien).

Merencanakan operasi dengan menggunakan iPad

“Kami telah menggunakan software MEVIS sejak tahun 2003,” tutur Endo, “dan software ini sangat membantu mengurangi jumlah pasien yang kehilangan darah dari lebih  60 kali  pembedahan.”

Para dokter bedah Jepang telah meminta suatu perbaikan. Untuk melihat gambar-gambar yang dihasilkan oleh software MEVIS selama operasi, para dokter bedah harus mencetak gambar-gambar tersebut dan menggantungkannya di kamar operasi. Akan tetapi, karena tidak semua informasi yang diperlukan oleh para dokter bedah bisa dicetak, misalnya saja data 3D, maka tim dokter pun diharuskan untuk membuat catatan-catatan mental tambahan.

perbesaran-realitas
Perbesaran Realitas yang memperlihatkan hati melalui kamera iPad, dan data virtual dari software perencanaan tersebut ditingkatkan melebihi gambarnya agar dengan demikian pembuluh darah menjadi bisa dilihat.

Jadi,  Endo dan Matsuyama meminta lembaga di Bremen tersebut untuk mentransfer data perencanaan operasi ke dalam sebuah iPad apabila dirasakan memungkinkan, agar dengan demikian mereka bisa mengaksesnya selama operasi.

Lembaga Fraunhofer segera menerima gagasan tersebut, dan mengungkapkannya dengan suatu minat yang kuat di dalam mengembangkan kerja sama yang lebih jauh. Setelah melakukan beberapa persiapan awal, Alexander Köhn, seorang ilmuwan komputer di MEVIS, langsung saja mengemasi tasnya dan berangkat ke Jepang. Selama tiga bulan, dia  mengembangkan software MEVIS tersebut di dalam kerja sama dengan para dokter bedah.

Para pakar tersebut dengan cepat menyadari manfaat penuh yang bisa diberikan melalui potensi yang dimiliki oleh iPad tersebut. Tidak hanya bisa menampilkan seluruh data perencanaan yang penting selama operasi, dan juga membantu mengembangkan kejadian dan menawarkan suatu panduan mengenai manfaat-manfaat yang berguna lainnya.

Dr. Ryusei Matsuyama
Dr. Ryusei Matsuyama menggunakan iPad sambil melakukan suatu operasi hati di Yokohama City University Hospital.

“Perbesaran realitas” membuat para dokter bedah dapat memvisualisasikan keseluruhan sistem pembuluh darah di dalam hati dengan menggunakan suatu komputer tablet. Köhn memperlihatkan bagaimana komputer tablet ini bekerja dengan menggunakan sebuah model hati yang ada di atas meja kerjanya. Peneliti tersebut memegang sebuah iPad di atas model dan mengepaskannya sesuai dengan ukuran kamera.

“Dengan jelas saya sedang melihat melalui iPad ini dan mengamati bagian dalam hati tersebut,” katanya menjelaskan hasil yang dilihat.

“Sekarang saya bisa meningkatkan kualitas data virtual yang diberikan oleh software perencanaan ini, dan saya berkesempatan untuk melihat pembuluh darah yang ada di dalam hati.”

Pembuluh darah itu mirip dengan pepohonan di musim dingin, di mana batang yang tebal menjadi asal dari sejumlah dahan yang lebih tipis untuk menjadikan pohon lebih subur. Untuk membantu membedakan antara vena dan arteri, sistem-sistem pembuluh darah yang berbeda digambarkan dengan warna-warna yang berbeda.

Seorang dokter bedah bisa menggunakan iPad untuk “memproyeksikan” pola sayatan ini ke dalam hati, dan kemudian secara tepat memberi tanda posisi dari pembuluh darah pada organ tersebut dengan menggunakan suatu pena khusus. Cara ini menawarkan suatu keuntungan yang memadai bagi para dokter bedah di dalam membuat sayatan yang persis pada tempat yang tepat.

Baca juga :   Teknologi Baru Sistem X-ray untuk Identifikasi Tumor

Köhn melanjutkan dengan memperlihatkan aspek lain dari software tersebut, yang bernama fungsi “penghapus”. Setelah seorang dokter bedah memotong pembuluh darah tertentu, tidak ada lagi kebutuhan untuk melihatnya sebagai bagian dari gambar yang diperlihatkan pada iPad. Secara sederhana pembuluh darah yang sudah terpotong itu bisa menghalangi dan bisa menutupi gambar dari pembuluh penting yang lain di dalam jaringan di sekelilingnya.

Persoalan itu telah dipecahkan dengan memberikan pilihan “hapus” terhadap pembuluh darah pada tablet yang digunakan oleh para dokter bedah. Dengan mudah, Köhn harus menyapukan jarinya di atas cabang pembuluh darah pada layar sentuhnya agar dengan demikian cabang itu hilang.

Data perencanaan operasi
Untuk bisa melihat data perencanaan selama suatu operasi, dokter bedah harus mencetak gambar-gambar hasil dan menggantungkannya pada tembok-tembok kamar operasi.

Aplikasi tersebut juga mempunyai peralatan lain yang membantu ketika terjadi komplikasi, yang seringkali dijumpai pada operasi-operasi hati. Kadangkala tumor yang ditemukan menjadi lebih besar ketimbang yang telah diperkirakan sebelumnya, dan para dokter bedah harus mengubah rencana mereka tanpa ada pertimbangan sebelumnya.

Pada kejadian semacam itu adakalanya disarankan untuk memotong lebih banyak cabang pembuluh darah daripada yang telah direncanakan pada awalnya, meskipun tindakan ini bisa meningkatkan risiko untuk menambah kerusakan pada hati pasien. Aplikasi tersebut membantu para dokter bedah untuk mempertimbangkan lebih jauh akan risiko-risiko itu. Alexander Köhn mengetukkan jarinya pada pertanyaan tentang pembuluh darah yang muncul di layar.

Beberapa saat kemudian, iPad memperlihatkan suatu bentuk menyerupai awan muncul di bagian akhir pembuluh darah, menunjukkan volume hati yang disuplai oleh cabang pembuluh yang akan berhenti bekerja jika pembuluh darahnya dipotong.

“Pada kejadian yang sekarang ini jumlahnya mencapai 37 mililiter,” kata Köhn. “Sekarang dokter bedahnya bisa memutuskan apakah volume yang tersisa cukup besar bagi pasien untuk melanjutkan operasinya dengan aman.”

Spesialis komputer MEVIS harus menghabiskan beberapa minggu untuk menuliskan software tersebut di dalam Bahasa Jepang dan untuk memperbaikinya sesuai dengan yang diminta oleh para dokter bedah. Maka versi yang pertamanya pun siap digunakan.

“Para dokter bedah tersebut terkesan, dan bisa menunggu lama untuk menguji cobakan software yang baru itu di dalam kamar operasi,” kata Köhn. Peristiwa ini tidak lama sebelum aplikasi yang baru dari Fraunhofer itu membuat gebrakannya untuk bidang bedah berdasarkan pada sebuah iPad yang dibungkus menggunakan plastik steril yang direkayasa secara khusus untuk tujuan-tujuan medis.

Para dokter bedah tersebut dengan cepat bisa mencocokkan antara gambar-gambar hati yang nyata dan yang virtual pada layar iPad dan memperlihatkan semua pembuluh darah pasien.

“Ketika Dr. Endo melihatnya, dia berseru ‘sugoi’, yang berarti ‘super’,” kenang Köhn. “Software yang baru tersebut membuat suatu perbedaan nyata yang meyakinkan, di dalam operasi yang sangat awal.”

Para dokter bedah tersebut bisa menandai lokasi pembuluh darah dengan tepat pada permukaan hati. Dengan demikian mereka bisa mengetahui lokasi-lokasi tepat dari pembuluh-pembuluh vital yang bagaimana pun juga bisa terpotong secara tidak disengaja dan bisa juga untuk memandu pisau bedah mereka dengan aman.

Sekarang tes-tes awal sedang ditindak lanjuti dengan penelitian klinis, termasuk di Jerman. “Penelitian-penelitian ini bermanfaat untuk memberikan konfirmasi kuantitatif terhadap nilai dari peralatan yang baru ini sehingga akan semakin mempermudah pekerjaan pembedahan,” jelas Andrea Schenk.

Keuntungan ini barulah awal dari perkembangan penelitiannya. Para pakar MEVIS telah memikirkan tentang kemungkinan yang lain untuk menggunakan iPad di luar kamar operasi, dan sedang mempertimbangkan pula untuk penggunaan iPad di seluruh bagian dari rumah sakit.

Ketika para dokter sedang berkeliling mengunjungi para pasien, sebuah chip pada salah satu sisi setiap tempat tidur dapat mentransfer secara otomatis data medis yang relevan ke dalam komputer tablet milik dokter.

“Hasil tersebut bisa digunakan, misalnya saja, untuk memperlihatkan gambar-gambar unik dari hati para pasien dan menjelaskan dengan tepat kepada para dokter tentang hal-hal yang akan terjadi selama jalannya operasi,” kata Schenk.

“Akan sangat membantu bagi para dokter maupun pasien,” tambah Schenk.  (Bahan diolah dari Liver operation app tulisan  Frank Grotelüschen, Fraunhofer) 

 

Advertisement

Tulis Opini Anda