GEOTHERMAL

Menggali Potensi Energi Panas Bumi dan Air

0
8

Pemerintah menyediakan dana sebesar Rp2,43 triliun untuk mengolah panas bumi atau geothermal menjadi enegi listrik. Oleh karena itu,   Pusat Investasi Pemerintah (PIP) memberi fasilitas dana geothermal (FDG) untuk membiayai kegiatan eksplorasi panas bumi dalam rangka mempercepat pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Indonesia.  Tenaga air pun bakal dieksplorasi hingga tahun 2020.

130323-01a

Meski banyak pemerintah daerah yang memiliki potensi geothermal namun masih ragu-ragu mengolahnya—terutama menentukan jumlah harga per kilo watt hour—karena merasa bisa menyebabkan kerugian, Kepala PIP Soritaon Siregar tetap optimis bahwa panas bumi akan menjadi salah satu alternaif  sebagai sumber energi.

Advertisement

Dia menyebutkan,  hingga Desember 2012 dalam rekening PIP telah tersedia dana FDG lebih  Rp2 triliun dan pada tahun 2013 ini akan mendapat alokasi tambahan sebesar Rp1,126 triliun.

FDG diproyeksikan untuk tahun 2013 dapat membiayai 9 Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Panas Bumi dengan nilai komitmen sebesar Rp2,43 triliun dan total penyaluran Rp810 miliar.  Angka tersebut digunakan untuk 5 proposal pemerintah daerah,  dan 4 proposal pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP).

Akan tetapi,  menurut Soritaon Siregar,  secara eksternal masih terdapat isu legal yang memengaruhi operasionalisai FDG,  antara lain kewenangan PIP untuk melakukan kegiatan eksplorasi,  status aset data eksplorasi (kepemilikan dan nilai),  skema lelang WKP,  dan kebijakan penentuan  tarif.

Selain itu,  lamanya proses pengadaan konsultan menjadi hambatan pelaksanaan geothermal tersebut.  Saat ini,  PIP sedang melakukan proses lelang ulang pengadaan Lembaga Konsultan Pengadaan.  Kata Soritaon,  lelang pertama gagal karena tidak ada perusahaan yang memenuhi kualifikasi.  “Lembaga konsultan pengadaan inilah yang akan membantu PIP dalam pengadaan konsultan/service company lainnya,” ujarnya.

Sementara itu,  Soritaon menyebutkan,  pihaknya menetapkan 2 jenis skema pemberian FDG bagi Pemda maupun pengembang,  yaitu pinjaman tunai kepada pemegang IUP dan pemegang WKP existing dalam bentuk rupiah dengan nilai paling tinggi US$30 juta atau setara Rp270 miliar per sumur dengan bunga sebesar suku bunga Bank Indonesia (BI) pada waktu surat perjanjian pinjaman ditandatangani.

Skema selanjutnya,  dia menambahkan,  penyediaan data informasi eksplorasi panas bumi kepada pemerintah daerah yang akan melelang WKP dengan nilai paling tinggi sebesar US$30 juta yang nantinya harus dibayarkan kembali oleh pemenang lelang sebesar belanja pengadaan data tersebut beserta margin sebesar 5%.

Baca juga :   PTPN XI akan bangun pabrik bioethanol

Terkait hal itu,  Soritaon mengungkapkan jika tahun 2013 ini pihaknya menyiapkan total investasi sebesar Rp10,54 triliun.  Besaran angka investasi tersebut akan digunakan perusahaan untuk membiayai sekitar 6 proyek tahun ini tanpa mengungkapkan lokasi dan nama proyek di daerah mana yang akan dibangun.

Target PLN pakai 20% pembangkit listrik panas bumi dan air pada 2020

Sementara itu, PT PLN (Persero) menargetkan hingga akhir 2020 total pembangkit listrik PLN dari sumber energi baru terbarukan atau renewable energy mencapai 20%.  Saat ini,  pembangkit listrik dari energi terbarukan seperti geothermal (panas bumi) dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) baru mencapai 12% dari total pembangkit milik PLN.

130323-01b

Menurut kata Direktur Utama PLN Nur Pamudji, renewable saat ini sudah mencapai 12%,  di antaranya 7% dari hidro (air) dan 5% dari geothermal (panas bumi) kemudian PTLS dan angin sangat kecil sekali nggak sampai 1%.
Selanjutnya porsi pembangkit listrik geothermal akan lebih dominan daripada PLTA.  Hal ini karena sudah ada ketentuan besaran tarif listrik di sektor geothermal sehingga makin menarik bagi para investor untuk berinvestasi di pembangkit geothermal.

“Sampai tahun 2020-2021.  Kontribusi terbesar 14% dari geothermal dan 6% dari air,” tambah Nur.

Nur menuturkan,  meskipun PLTA memiliki proporsi di masa mendatang,  namun pengembangan pembangkit dari sumber air akan tetap digenjot lebih banyak.  Khususnya sistem pembangkit mikro hidro untuk daerah yang sulit terakses jaringan listrik PLN.

Selain itu,  untuk sektor energi terbarukan lainnya yakni seperti PLTS atau tenaga matahari,  Nur Pamudji menjelaskan,  perkembangan PLTS selanjutnya masih tetap sedikit karena mahalnya investasi untuk PLTS murni yang dilengkapi baterai.

“Itu tidak sampai 1% juga kontribusi PLTS terhadap kelistrikan nasional karena pertumbuhan kelistrikan nasional tumbuh sangat cepat kira-kira 10% per tahun.  Pertumbuhan PLTS memang tidak signifikan secara keseluruhan,” jelas Nur Pamudji kepada tender-indonesia.com

Advertisement

Tulis Opini Anda