GRAPHENE FLAGSHIP (2)

Menggabungkan Potensi Listrik dan Energi, Hasilnya Luar Biasa

0
10
Tim peneliti yang juga melibatkan sejumlah mahasiswa bekerja di Graphene Flagship mempersiapkan dua eksperimen menarik—bekerja sama dengan European Space Agency (ESA) untuk menguji viabilitas graphene yang diaplikasikan pada proyek ruang angkasa. Kedua percobaan itu diluncurkan antara tanggal 6 hingga 17 November 2017. Pada percobaan itu graphene diuji dalam kondisi gravitasi nol untuk menentukan potensinya dalam aplikasi ruang angkasa termasuk propulasi ringan dan manajemen termal. (Sumber foto/teks://graphene-flagship.eu/zero-gravity-graphene-for-space-applications)

Para ahli melibatkan para mahasiswa agar berkesempatana melatih diri dalam berbagai penelitian yang dilakukan sejak awal. Peluncuran proyek pada November 2017. Hebat ya.

Tim peneliti yang juga melibatkan sejumlah mahasiswa bekerja di Graphene Flagship mempersiapkan dua eksperimen menarik—bekerja sama dengan European Space Agency (ESA) untuk menguji viabilitas graphene yang diaplikasikan pada proyek ruang angkasa. Kedua percobaan itu diluncurkan antara tanggal 6 hingga 17 November 2017. Pada percobaan itu graphene diuji dalam kondisi gravitasi nol untuk menentukan potensinya dalam aplikasi ruang angkasa termasuk propulasi ringan dan manajemen termal. (Sumber foto/teks://graphene-flagship.eu/zero-gravity-graphene-for-space-applications)

Penjelasan secara sederhana, graphene merupakan kristal atom dengan dua dimensi yang terdiri dari atom karbon yang tersusun dalam kisi heksagonal. Kombinasinya demikian unik dengan sifat superior maka graphene merupakan titik awal yang dapat dipercaya untuk dikembangkan dengan teknologi baru dari berbagai bidang.

Graphene atau kita Indonesiakan dengan sebutan grafena merupakan senyawa tertipis yang diketahui oleh manusia pada satu atom tebal yang ukurannnya satu juta kali lebih tipis dari rambut manusia, senyawa terkuat yang ditemukan yakni antara 100-300 kali lebih kuat dari baja, dan bahan paling ringan yakni satu meter persegi sekitar 0,77 miligram dan sangat fleksibel.

Advertisement

Keistimewaan lainnya adalah kedap pada molekul, dan sangat konduktif secara elektrik dan termal sehingga memungkinkan bahan ini dialiri elektron lebih cepat daripada silikon. Grafena ini merupakan konduktor yang transparan,  dan mampu menggabungkan fungsi listrik dan optik dengan cara yang luar biasa.

Proyek Graphene Flagship merupakan inisiatif para periset  Uni Eropa yang ingin mendedikasikan dan mengembangkan teknologi baru terhadap graphene, atom yang kental dan tunggal dan bersifat listrik, mekanik, termal, dan optik yang sangat baik.

Uniknya, para ahli melibatkan para mahasiswa pada proyek Graphene Flagship ini agar anak-anak muda berkesempatana melatih diri dalam berbagai penelitian yang dilakukan sejak awal. Eksperimen atau percobaan yang terkait dengan ruang angkasa merupakan kesempatan sangat bagus bagi mahasiswa dan tim peneliti Graphene Flagship untuk mendapatkan pengalaman baru dalam penelitian yang mutakhir. Para mahasiswa yang bergabung bekerja sejak tahap awal seperti di laboratorium hingga saat-saat uji coba tanpa bobot.

 

Proposal mahasiswa sukses

Tim peneliti senior memberikan kesempatan untuk melakukan sebuah eksperimen yang dipimpin oleh mahasiswa secara penuh—yang direkrut dari mahasiswa pascasarjana dari Universitas Teknik Delft (TU Delft, Belanda). Para mahasiswa berpartisipasi dalam ESA Education’s Drop Your Thesis.

Proposal yang diajukan oleh mahasiswa ternyata sukses dan digunakan pada kondisi gayaberat mikro di ZARM Drop Tower (Bremen, Jerman) untuk menguji graphene khusus kapal layar ringan.

Baca juga :   Gunakan Digital, Perusahaan Capai Banyak Manfaat

Sementara itu, Airbus merupakan perusahaan aeronautika kelas dunia yang memiliki pengalaman yang panjang dalam bidang inovasi material. Sebagai bagian dari proyek ini, pada bulan Mei 2017, perusahaan Airbus menyelenggarakan sebuah simposium di Madrid yang menampilkan aplikasi aeronautika secara potensial dengan menggunakan bahan  graphene dan material terkait lainnya.

Berdasarkan uji coba, graphene memiliki potensi yang dapat memajukanh industri aeronautika untuk menghasilkan pesawat yang lebih aman, murah, lebih tenang saat terbang, dan lebih safety. Contohnya pada aplikasi, rasio berat terhadap kekuatan graphene yang dapat digunakan untuk membuat pesawat yang lebih ringan maka konsumsi terhadap bahan bakar lebih rendah sementara emisi dan biaya lebih rendah.

Penemuan itu  dikombinasikan dengan konduktivitas listrik tinggi dalam graphene, konduktivitas termal, dan fleksibilitas yang membuka jalan bagi berbagai aplikasi untuk penggunaan graphene pada sektor penerbangan. Oleh karena menyimak potensinya yang demikian besar, perusahaan Airbus pun bergabung dengan proyek Graphene Flagship.

CEO (chief executive officer) Divisi Pesawat Udara Komersial Airbus (Spanyol), Rafael González Ripoll mengatakan bahwa perusahaan Airbus selalu memilih inovasi dalam material komposit meskipun proses pembuatannya (seringkali) lebih kompleks dan harus menggunakan teknologi canggih atau rumit.

Pada acara Airbus Marketplace, delapan belas perusahaan mempresentasikan inovasi berbasis graphene yang mereka buat dengan menggunakan aplikasi di sektor aeronautika. Banyaknya pihak yang mendukung proyek Graphene Flagship dan para pakar pun  berkesempatan  untuk menghasilkan graphene dalam bentuk prototip.

Peraih hadiah Nobel (2010) Konstantin Novoselov yang berbicara tentang graphene dalam aplikasi aeronautika menyatakan bahwa graphene dapat digunakan dalam elektronika dan fotonik, komposit, pelapis, dan aplikasi energi. Artinya, potensi graphene dan material terkait untuk bahan baku industri aeronautika demikian menjanjikan. (Bahan diolah dari graphene-flagship.eu/)

Simak Graphene Flagship (3)
Apa Manfaat Sensor Gambar Berbasis Monolitik?

 

 

Advertisement

Tulis Opini Anda