RADAR SENSOR

Mengamankan Landasan Pacu Bandara

0
11
Gambar pesawat Boeng 777 di bandara (Sumber: http://upload.wikimedia.org/)

Bagian-bagian dari badan pesawat sering kali terlepas pada saat lepas landas (take off) atau sedang mendarat (landing) yang menimbulkan risiko bagi pengguna landasan pacu berikutnya yakni pesawat yang akan landing mau pun yang akan take off. Keadaan itu tentu saja berbahaya bagi para penumpang dan menimbulkan kerugian bagi operator penerbangan dan pengelola bandara. Bagaimana mengatasinya?

Sensor radar bisa mendeteksi benda yang ukuran keseluruhannya hanya beberapa sentimeter di landasan pacu. (Foto/©: Fraunhofer FHR)

Para ilmuwan sedang mengembangkan sebuah sistem radar baru yang akan membuat setiap bandara menjadi lebih aman. Radar itu mampu mendeteksi benda-benda yang mencurigakan bahkan obyek terkecil sekalipun yang terletak di sekitar landasan pacu bandara.

Apakah masih ingat peristiwa kecelakaan pesawat Concorde yang terjadi belasan tahun silam? Peristiwa itu direkam sehingga kita bisa menyaksikan melalui video yang menunjukkan pesawat jet supersonik yang eklornya tampak memancarkan nyala api yang sangat besar. Peristiwa itu sungguh mengejutkan, dramatis dan tidak terlupakan.

Advertisement

Kecelakaan itu dipicu oleh sepotong logam yang tergeletak di landasan pacu ketika pesawat itu lepas landas. Ban pesawat meledak setelah melindas potongan logam itu, dan menerbangkan potongan karet ke tangki bahan bakar, yang kemudian meledak. Sebanyak 113 orang penumpang kehilangan nyawa dalam sekejap. Semoga peristiwa itu tidak pernah terjadi lagi.

Sejak peristiwa naas itu, para pengelola bandara di berbagai negara lebih hati-hati menjaga keamanan bandara, jangan sampai ada benda padat yang bisa mengganggu pada saat pesawat udara sedang take off atau landing.

Untuk menghindari kecelakaan seperti itu, staf bandara di seluruh dunia membersihkan   area sepanjang landasan pacu yang dilakukan setiap enam jam. Semua benda atau puing-puing apa dan sebesar apa pun harus disingkirkan.

Akan tetapi, memantau area seluas landasan pacu  bandara tanpa bantuan teknis—atau alat teknologi—butuh  waktu dan terjadi kesalahan terutama dalam kondisi cuaca buruk.

Gambar pesawat Boeng 777 di bandara (Sumber: http://upload.wikimedia.org/)

Pemicunya bukan burung

Di masa depan, sistem keselamatan baru yang tahan segala cuaca akan terus-menerus memonitor landasan pacu dari puing-puing dan segera memberikan peringatan apabila ada benda yang dapat menimbulkan bahaya. Para ilmuwan dan periset di Fraunhofer Institute khususnya bidang Fisika Frekuensi Tinggi dan Teknik Radar FHR, bekerja sangat teliti untuk membantu para pengelola bandara.

Pemrosesan Informasi dan Ergonomi FKIE (High Frequency Physics and Radar Techniques FHR and for Communication, Information Processing and Ergonomics FKIE) telah mengembangkan sistem tersebut melalui kerja sama dengan Universitas Siegen dan perusahaan PMD Technologies GmbH dan Wilhelm Winter GmbH dalam proyek itu. Proyek tersebut dinamai  LaotSe –singkatan “Pemantauan landasan pacu bandara melalui sistem sensor jaringan multimodal” (Airport runway monitoring through multimodal networked sensor systems).

“Teknologi yang kami ciptakan bisa mencegah tragedi seperti menimpa Concorde,” tutur Dr Helmut Essen, yang mengepalai departemen Radar Gelombang Millimeter dan Sensor Frekuensi Tinggi (Millimeter-Wave Radar and High Frequency Sensors) FHR di Wachtberg, Jerman.

“Peralatan yang dipasang di sepanjang landasan pacu secara terus-menerus memindai permukaan. Peralatan itu dapat mendeteksi barang terkecil sekalipun, seperti sekrup. Akan tetapi, sistem hanya akan mengeluarkan peringatan jika sebuah benda tetap berada di landasan pacu untuk jangka waktu yang lama. Sebuah kantong plastik yang tertiup angin atau burung yang hinggap sejenak di landasan pacu tidak akan memicu alarm untuk berbunyi.”

Sistem radar itu terdiri atas sebuah kamera inframerah, kamera 2D dan 3D optik, dan sensor radar jaringan. Sensor ini dikembangkan oleh para peneliti. Ketiga tipe peralatan tersebut berbeda  namun saling melengkapi: radar berfungsi setiap saat pada setiap cuaca. Radar dapat mendeteksi benda tetapi tidak mampu mengidentifikasinya. Kamera lebih cocok untuk mengklasifikasikan benda itu meski  kamera terpengaruh oleh cuaca, dan periode waktu dalam satu hari.

Baca juga :   Mari Rebut dari Malaysia dan Singapura

Setiap kali sensor radar mendeteksi sesuatu, maka sensor “memerintahkan” kamera untuk mengamati lebih dekat. Semua data sensor kemudian digabungkan dengan menggunakan perangkat lunak yang telah dikembangkan untuk menghasilkan gambaran situasi.

Para ahli menyebutnya sebagai ‘fusi data sensor’ (sensor data fusion). Jika gambaran itu mengungkapkan situasi yang tidak normal, maka menara pengatur lalu lintas udara (air traffic control) diberitahu. Pengatur lalu lintas udara bisa memeriksa layar mereka untuk menilai apakah ada bahaya nyata.

“Solusi kami semata-mata sistem bantuan. Keputusan akhir tentang bagaimana langkah selanjutnya ada di tangan pengeloloa bandara,” tegas Dr Wolfgang Koch, kepala departemen di FKIE.

Radar terus mengawasi

Meskipun sistem radar serupa telah dikembangkan, sistem itu hanya mampu mendeteksi benda logam, dan sering kali memicu alarm palsu. Dr. Essen menguraikan beberapa kelebihan sistem baru itu, “Sensor radar ini melakukan transmisi pada frekuensi 200 GHz, sehingga bisa mendeteksi bahkan benda-benda yang ukuran keseluruhannya cuma satu atau dua sentimeter. Dengan adanya penggunaan tiga jenis sensor berbeda, alarm palsu hampir tidak akan terjadi lagi. Perangkat ini berukuran kecil dan memindai hingga 700 meter ke segala arah.”

Pengujian awal sensor radar dan kamera dijadwalkan akan dimulai di Bandara Cologne-Bonn pada awal tahun 2012.  Bagaimana di Bandara Soekarno-Hatta?

Pertama di dunia

Sementara itu, KOMPAS.Com  memberitakan selama 10 hari ( 23 April sampai 3 Mei 2012), Airports Council International (ACI)  memantau keamanan dan keselamatan kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Pemantauan itu merupakan yang pertama kali dilakukan satu-satunya organisasi bandara di dunia tersebut di Indonesia.

“Pemantauan ini dilakukan sebagai tanggung jawab dan keharusan dari kami selaku pengelola bandara untuk melindungi dan meningkatkan keamanan pengguna saja bandara,” kata Direktur Utama PT Angkasa Pura (AP) II Tri Sunoko saat pembukaan Airport Exellence in Safety di Kantor PT AP II, Kota Tangerang, Senin (23/4/2012).

Pesawat Garuda di terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Sumber: http://en.wikipedia.org/)

Airport Safety and Operations Manager ACI, John Pottinger, menjelaskan, pihaknya  melakukan pemantauan, antara lain landasan pacu atau runway, sistem manajemen keamanan dan keselamatan, serta manajemen keamanan dan keselamatan parkir atau apron.

“Keamanan dan keselamatan sangat penting, terutama karena laju pertumbuhan penumpang naik 19 persen setiap tahunnya,” kata John.

Direktur Operasional dan Teknis PT Angkasa Pura II Salahudin Rafi mengatakan, kerja sama ini sama-sama bermanfaat bagi kedua pihak. Bagi ACI, yang beranggotakan 580 anggota yang mengoperasikan 1.659 bandara di 179 negara itu, untuk meningkatkan profesionalisme operasional dan pengelola bandara.

Sementara Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang sudah menjadi anggota ACI sejak tahun 1991 ini mendapat masukan yang baik untuk perbaikan keamanan dan keselamatan kawasan bandara. “Hasil dari pemantauan ini akan dijadikan bahan acuan untuk perbaikan keamanan dan keselamatan di bandara,” jelas Tri Sunoko. (Sumber tulisan : diolah dari tulisan  Britta Widmann; Informasi: www.fraunhofer.de/magazine dan KOMPAS.com)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda