Proses manufakturing (1)

Menekan Ongkos Produksi agar Lebih Efisien

0
9
Sumber daya kritis seperti aluminium, bijih besi, tembaga, nikel, zinc, minyak mentah, gas alam, emas, dan platina harus diimpor. Pada tahun-tahun terakhir terjadi suatu lonjakan yang besar di dalam harga-harga komoditas tambang itu. Apa yang harus dilakukan oleh pelaku manufaktur?

Sumber daya kritis seperti aluminium, bijih besi, tembaga, nikel, zinc, minyak mentah, gas alam, emas, dan platina harus diimpor. Pada tahun-tahun terakhir terjadi suatu lonjakan yang besar di dalam harga-harga komoditas tambang itu. Apa yang harus dilakukan oleh pelaku manufaktur?

Mengoptimalisasikan tahapan-tahapan gerakan robot-robot untuk mengurangi konsumsi energi. (Sumber foto/@: MEV)

Tantangan yang sedang dihadapi oleh dunia industri adalah bagaimana memperkecil pengeluaran seiring perkembangan zaman. Sejalan dengan peningkatan biaya secara terus-menerus untuk energi dan bahan mentah, hanya perusahaan-perusahaan yang menggunakan teknologi-teknologi canggih secara efisienlah yang akan mampu mempertahankan suatu posisi yang kuat di pasar.

Berbagai teknologi dan pendekatan yang baru sedang dikembangkan untuk sungguh-sungguh dapat membantu mengurangi konsumsi sumber daya-sumber daya. Bagaimana cara membuat ongkos produksi di sektor manufaktur bisa lebih efisien? Penekanan ongkos produksi seminimal mungkin berdampak pada daya saing produk di pasar internasional.

Advertisement

Oleh karena itu, kita sebaiknya menyimak cara para pelaku industri di Jerman. Kita dapat menerapkannya di Indonesia. Jermanmerupakan salah satu negara industri yang termasuk sukses di dunia. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Cologne Institute for Economic Research—telah meneliti kualitas dari kota-kota industri di Jerman—pada tahun-tahun belakangan, ketika banyak negara sedang berusaha untuk mengembangkan sektor jasa dan keuangan, Jerman justru melanjutkan konsentrasinya terhadap kekuatan tradisionalnya sebagai suatu manufaktur dari produk-produk industri dan alat-alat mesin berkualitas tinggi.

Target tahun 2020 untuk mengimbangi pertumbuhan populasi

Dapat disimpulkan bagaimana setelah 16 tahun berlalu, industri di Jerman tidak hanya berdiri dengan kokoh, tetapi juga pada akhirnya telah mampu bergerak maju berkaitan dengan pertambahan nilainya. Pada tahun 2011, produksi industri tercatat berada pada kisaran 23 persen dari nilai produksi yang dihasilkan oleh Jerman. Sebagai perbandingan di dalam konteks ini, kontribusi industri di Italia pada periode yang sama adalah 16 persen, Spanyol adalah 13 persen, sedangkan di Prancis dan Inggris angka tersebut lebih rendah lagi, yaitu sebesar 10 persen.

Ongkos produksi baja harus lebih eifisien agar tercapai daya saing di pasar internasional. (Sumber foto/@: MEV, Fraunhofer)
Ongkos produksi baja harus lebih eifisien agar tercapai daya saing di pasar internasional. (Sumber foto/@: MEV, Fraunhofer)

Minat Jerman yang tinggi untuk membangun sektor industri merupakan kunci bagi kekuatan perekonomiannya. Sedangkan kurangnya sumber daya alam juga menjadi tantangan tersendiri bagi masa depan negara ini. Sumber daya kritis seperti aluminium, bijih besi, tembaga, nikel, zinc, minyak mentah, gas alam, barang-barang tambang yang langka, emas, dan platina haruslah diimpor, dan pada tahun-tahun terakhir telah terjadi suatu lonjakan yang besar di dalam harga-harga komoditas.

Industrialisasi maju dari perekonomian-perekonomian yang sedang tumbuh, khususnya negara-negara di dalam BRIC—yaitu Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok—telah meningkatkan permintaannya akan bahan-bahan dan energi secara besar-besaran. Uni Eropa juga sedang memperbaharui usaha-usahanya untuk mengembangkan “perekonomian yang lama”.

Baca juga :   Robot Ubah Energi Cair Menjadi Mekanis

Pada tahun 2020, masing-masing negara yang tergabung di dalam UE menargetkan pencapaian sebesar 20 persen dari GDP melalui sektor perindustrian. Pada saat yang sama populasi dunia juga bertambah, yang berarti bahwa di masa depan akan lebih banyak orang yang harus bekerja dengan sumber daya-sumber daya yang terbatas. Perkembangan-perkembangan ini tentu saja mengakibatkan berkurangnya pasokan, kenaikan harga, dan peristiwa konflik-konflik yang disebabkan oleh cara pendistribusian sumber daya-sumber daya.

Situasi seperti dijelaskan di atas secara keseluruhan juga tidak terhindarkan bagi perekonomian Jerman dan negara-negara lain—termasuk negara-negara yang sumber daya alamnya sangat minim dibandingkan dengan Indonesia misalnya .

Sampai saat ini, di dalam berbagai sektor biaya-biaya bahan dan energi merupakan komponen utama dalam penentuan harga dari produk akhir. Misalnya saja di dalam industri manufakturing, bahan-bahan mengambil bagian hingga melebihi 43 persen dari biaya produksi.

Menurut Biro Statistik Federal Jerman, biaya ketenagakerjaan saja hanya menghabiskan sebesar 20,5 persen. Pada sektor-sektor yang intensif akan bahan, seperti pada manufaktur untuk logam dasar dan pada industri otomotif, bahan-bahan secara jelas menghabiskan lebih dari setengah harga jual kotor.

Meminimalisir konsumsi energi dan bahan mentah akan menjadi faktor kompetitif yang menentukan pada tahun-tahun yang akan datang. Efisiensi sumber daya adalah satu-satunya jalan bagi para pengusaha pabrik untuk keluar dari biaya-biaya yang memusingkan, demikian pendapat Presiden Fraunhofer-Gessellschaft Profesor Reimund Neugebauer.

“Pada masa depan, kita diharuskan untuk memperkecil pengeluaran seiring perkembangan zaman. Keharusan ini akan menjadi kehilangan yang mendasar dari upaya untuk memperoleh keuntungan yang maksimal dengan menggunakan modal investasi yang minimal, untuk mencapai pertambahan nilai yang maksimal dari sumber daya yang minimal, dibarengi dengan keuntungan terbaik yang mungkin untuk dicapai.” (Diolah dari Efficient Manufacdturing Process tulisan Birgit Niesing, Fraunhofer)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda