PERAN KOMPUTER

Mencegah Bencana lebih Dini

0
10
Sebuah saluran listrik tegangan tinggi dimatikan agar sebuah kapal pesiar yang dibangun di galangan kapal Meyer di Papenburg bisa dipindahkan ke Laut Utara. Akibatnya, sebagian besar jaringan listrik yang memasok listrik ke Eropa bagian barat dan selatan ambruk. (Foto/©: Markus Milde/VISUM)

Jakarta dan daerah-daerah sekitarnya baru didera oleh air yang membanjir. Jumlah kerugian yang ditimbulkannya mencapai Rp20 triliun dan belasan nyawa manusia hilang. Sarana  infrastruktur pun demikian penting—seperti listrik, air, telekomunikasi—semakin saling terkait satu sama lain.

Sebuah saluran listrik tegangan tinggi dimatikan agar sebuah kapal pesiar yang dibangun di galangan kapal Meyer di Papenburg bisa dipindahkan ke Laut Utara. Akibatnya, sebagian besar jaringan listrik yang memasok listrik ke Eropa bagian barat dan selatan ambruk. (Foto/©: Markus Milde/VISUM)

Tentu saja punya risiko besar bahwa serentetan kegagalan akan berdampak secara simultan yang bisa terjadi di suatu kawasan negara sepeti Eropa dan sebagainya. Bagaimana cara paling mudah mengidentifikasi titik lemah pada infrastruktur dan bisa menyingkirkan masalah yang (mungkin )terjadi tanpa terduga?

Jembatan perlintasan kereta api hancur, jalanan banjir, rumah, dan perkantoran tidak mendapat pasokan listrik dan air bersih—ketika terjadi banjir di Jakarta demikian pula di lembah Elbe-Danube, Jerman, saat terjadi banjir. Beberapa infrastruktur penting tidak berfungsi pada waktu bersamaan. Banyak daerah di Jerman, Austria, dan Republik Ceko terkena dampaknya.

Advertisement

Di Austria sendiri, lebih dari 250 jalan dan jembatan perlintasan kereta api hancur. Total kerusakan diperkirakan mencapai lebih dari 12 miliar euro. Sedangkan banjir di Jakarta menyebabkan kerugian sekitar Rp20 triliun.  Beberapa sektor industri berhenti berproduksi, dan ribuan warga mengungsi lebih seminggu.

Technology as the basis of modern society

Hidup kita semakin bergantung pada sistem teknik. Ingat visi media ini, technology as the basis of modern society.  Jaringan yang saling terkait erat memasok energi, air, pemanas, dan telekomunikasi. Bencana alam, serangan teroris atau kegagalan teknis, dalam skenario yang paling buruk, dapat melumpuhkan seluruh kota atau kawasan, membahayakan kehidupan manusia dan menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Bagaimana mengatasinya?

Sebuah kelompok riset di Institut Fraunhofer untuk Intelligent Analysis and Information Systems IAIS di Sankt Augustin-sebagai salah satu mitra dalam proyek DIESIS Uni Eropa (Design of an Interoperable European Federated Simulation Network for Critical Infrastructures atau Desain Jaringan Simulasi Kesatuan Eropa yang Dapat Dioperasikan untuk Infrastruktur Penting)–sudah mengembangkan berbagai peralatan penelitian keamanan baru yang memungkinkan analisis risiko dilakukan secara lebih cepat dan efisien.

Penyedia utilitas, operator jaringan dan instansi pemerintah yang bertanggung jawab atas keamanan publik memiliki kebutuhan atas cara mendeteksi titik-titik lemah pada infrastruktur dan menyingkirkannya sebelum terjadi masalah. Penelitian keamanan modern harus melihat berbagai aspek sistem infrastruktur secara keseluruhan, dan mempertimbangkan kesaling-tergantungan sistem-sistem ini.

Sebaiknya Indonesia dan ASEAN dapat memelajari sistem infrastruktur di Eropa yang sudah saling terkait secara erat—dalam kondisi tertentu dapat memicu efek domino, susul-menyusul suatu insiden di satu tempat tertentu.

“Empat puluh tahun lalu, Anda tahu bahwa telepon masih akan berfungsi bahkan jika terjadi pemadaman secara besar-besaran, karena jaringan telepon memiliki pasokan listrik tersendiri,” kata Dr. Erich Roma koordinator proyek DIESIS.

“Sebaliknya, saat ini banyak telepon yang dipasang sebagai tambahan pada saluran listrik biasa dan tidak bisa beroperasi ketika jaringan listrik mati. Dan panggilan telepon tidak lagi ditransmisikan melalui jaringan tunggal. Ada banyak jaringan telepon selular, jaringan darat analog dan digital, dan layanan internet dan satelit.”

Listrik padam di 10 juta rumah selama dua jam

Ingat insiden yang terjadi pada 4 November 2006 ketika dilakukan pemadaman listrik yang relatif kecil, namun pengaruhnya terhadap 10 juta rumah demikian besar. Sebuah kapal pesiar sedang berlayar dari Papenburg melintasi sungai Ems ke Laut Utara, saluran listrik tegangan tinggi 380-KV yang melintasi sungai itu dipadamkan  sementara agar kapal pesiar itu aman.

Sebagian besar jaringan listrik tersebut melayani Eropa bagian barat dan selatan kemudian ambruk. Lebih dari sepuluh juta rumah tangga di Jerman, Perancis, Belgia, Italia, Austria, dan Spanyol kehilangan pasokan listrik selama dua jam. Perencanaan yang tidak memadai dan kurangnya koordinasi ketika melakukan konfigurasi ulang jaringan pendistribusian dituding sebagai penyebabnya.

Bagian tertentu dari jaringan Eropa menjadi kelebihan beban yang mengakibatkan serentetan pemadaman darurat. Guna menyediakan perangkat dalam melakukan asesmen terhadap kesaling-tergantungan yang kompleks seperti itu, peneliti keamanan telah mengembangkan simulasi numerik yang mampu menggambarkan situasi kehidupan nyata pada tingkat akurasi tinggi di komputer.

Baca juga :   Patogen Utama Diami Kantung Periodontal

Simulasi ini kemudian dapat digunakan untuk menskenariokan berbagai kejadian dan melihat bagaimana sistem bereaksi dalam skenario terburuk. Ini mempermudah memahami interaksi antar sistem, mengidentifikasi titik lemah, dan menyingkirkannya dalam jaringan nyata.

“Memang benar simulator sudah ada,” jelas Erich Rome, “tetapi simulator tersebut biasanya terbatas pada satu infrastruktur dan hanya dapat mensimulasikan satu jenis sistem.”

Akan lebih bermanfaat untuk bisa mempelajari hubungan antarinfrastruktur yang berbeda dan mengetahui apa pengaruhnya satu infrastruktur terhadap infrastruktur- infrastruktur yang lain. “Masih banyak masalah yang belum terselesaikan, karena tidak ada standar universal untuk menghubungkan simulator. Dengan demikian semua pihak mengembangkan interface mereka sendiri,” kata peneliti IAIS.

Tentu saja ada perbedaan antarnegara dalam hal teknologi dan regulasi infrastruktur di Eropa. Simulasi juga bisa didasarkan pada teknologi yang berbeda, sehingga sulit untuk membuat simulator-simulator itu menjadi saling terhubung.

“Peran kami adalah merancang interface yang sesuai yang memungkinkan simulasi infrastruktur berbeda menjadi saling terhubungkan, sebagai pendahulu untuk mengembangkan suatu standar universal,” kata Rome.

Pengguna standar ini bisa berkolaborasi dengan perancang lain, alih-alih mengembangkan segalanya sendirian. Ini akan menghemat banyak waktu dan uang, dan akan lebih mudah dalam membandingkan hasil penelitian.

Awalnya, melalui serangkaian lokakarya dan beberapa diskusi, para mitra yang terlibat dalam proyek DIESIS di Jerman, Italia, Inggris, dan Belanda berkeinginan menetapkan kebutuhan para peneliti dan membangun sebuah database dari skenario yang ada. Pada saat yang sama, mereka mengembangkan sebuah prototipe. Hal itu dimaksudkan untuk mendemonstrasikan, dengan cara simulasi kehidupan nyata, bahwa tujuan dapat dicapai dengan cara yang mudah (user-friendly) dan dengan biaya yang terjangkau.

Aspek keamanan juga penting. Semakin banyak informasi yang dimiliki simulasi mengenai infrastruktur-infrastruktur penting, semakin baik simulasi tersebut dilindungi dari akses yang tidak sah. “Kami berkeinginan untuk menyediakan paket fungsi lengkap,” kata Erich Roma. “Ini termasuk anonimisasi data dan kontrol ketat portal-portal ke program itu. Masih ada beberapa celah yang perlu kami tutup.”

Kerjasama Pan-Eropa untuk simulasi

Alat-alat baru membantu penyedia dan operator infrastruktur untuk mengembangkan langkah-langkah keamanan yang lebih luas daripada sebelumnya.

“Misalnya, kesalahan dalam perencanaan dan pelaksanaan infrastruktur dapat diidentifikasi dan diperbaiki,” papar Rome.

Contoh kesalahan serius dalam perencanaan terjadi di Amerika Serikat. Di Baltimore, sebuah jalan, pipa air induk, saluran pasokan listrik, kabel cadangan dan kabel telepon berada tepat di atas terowongan kereta api. Semua sistem tersebut hancur berantakan ketika sebuah kereta api sarat dengan muatan bahan kimia meledak di dalam terowongan.

Tugas proyek DIESIS Uni Eropa adalah merancang sebuah platform elektronik (e-platform) pan-Eropa dan standar untuk tujuan pemodelan dan simulasi. Platform ini selanjutnya akan dimanfaatkan oleh Pusat Simulasi dan Analisis Infrastruktur Eropa atau European Infrastructures Simulation and Analysis Centre (EISAC).

Tujuan utamanya adalah membangun kerjasama pan-Eropa di bidang simulasi infrastruktur penting. Fasilitas EISAC dipergunakan bersama-sama oleh para peneliti, operator infrastruktur dan instansi keamanan pemerintah sebagai sarana untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai kesaling-tergantungan timbal balik antara infrastruktur penting Eropa dan untuk membuat infrastruktur-infrastruktur tersebut menjadi lebih aman dan lebih dapat diandalkan. (Brigitte Röthlein; www.fraunhofer.de/magazine)

Lembaga yang mengerjakan proyek infrastruktur di Eropa 

Lima pusat penelitian di Eropa berkolaborasi dalam pengerjaan proyek DIESIS Uni Eropa (Desain Jaringan Simulasi Federasi Eropa Interoperable untuk Infrastruktur Penting) yakni:

  • Fraunhofer Institute untuk Sistem Analisis dan Informasi Cerdas IAIS
  • Konsosrsium Perusahan untuk Penelitian di Bidang Otomasi Informatika dan Industri (CRIAI), Italia
  • Lembaga Nasional Italia untuk Teknologi dan Energi Baru, dan Lingkungan (ENEA)
  • Imperial College London, Inggris
  • Organisasi Belanda untuk Riset Ilmiah Terapan (TNO)

(Sumber : diesis-project.eu) 

Advertisement

Tulis Opini Anda