Menatap Kerja sama Ekonomi dan Investasi Intra-ASEAN

0
4

Total  perdagangan Uni Eropa-ASEAN mencapai 147 miliar Euro per tahun.

Indonesia menjadi tuan rumah bagi Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-19 yang akan diadakan pada 17 November 2011. Bali mendapat kehormatan sebagai tempat diselenggarakannya pertemuan para pemimpin Asia Tenggara ini yang rencananya juga akan dihadiri oleh tamu-tamu multilateral seperti Jepang, China, dan Korea Selatan (plus three), serta Australia, India, Selandia Baru, Rusia, dan Amerika Serikat.

Rangkaian pertemuan para petinggi negara tersebut dijadwalkan berlangsung pada 19 November 2011. Momen ini penting berhubung dunia masih dihantui krisis ekonomi, dan negara-negara maju di dunia menatap wilayah Asia, khususnya Asia Tenggara sebagai sumber pertumbuhan (the emerging markets).

Advertisement

Sebagai ajang pertemuan tingkat tinggi negara-negara Asia, KTT ASEAN menyediakan forum khusus bagi diskusi dan kerja sama ekonomi, salah satunya seperti KTT Bisnis dan Investasi ASEAN yang akan diselenggarakan pada tanggal 16-19 November 2011 di Bali. ASEAN kini sudah menjadi salah satu kawasan target mitra kerja sama ekonomi terbesar dunia. Dengan kawasan Uni Eropa contohnya, total  perdagangan per tahun antara Uni Eropa dan ASEAN diperkirakan mencapai 147 miliar Euro atau sekitar US$128 miliar.

Uni Eropa adalah mitra dagang kedua terbesar ASEAN dan investor terbesar di ASEAN, sedangkan ASEAN adalah mitra dagang terbesar kelima bagi Uni Eropa. Forum kerja sama ekonomi antara kedua kawasan ini tercatat baru saja mengadakan KTT-nya pada bulan Mei lalu di Jakarta yang mendiskusikan peluang di lima area utama, yaitu infrastruktur (termasuk transportasi dan logistik), agri-food, kesehatan (termasuk farmasi), otomotif dan jasa (telekomunikasi dan keuangan).

Ada beberapa PR yang mendesak bagi negara-negara ASEAN, terutama jika kita berbicara tentang kerja sama kawasan. Pertama, efek perdagangan bebas (ASEAN Free Trade Area) antarnegara belum terlalu nampak. Data dari ASEAN Affairs pada 2009 menunjukkan bahwa intra-ASEAN trade hanya mencakup kurang lebih 20-30% dari keseluruhan perdagangan ASEAN (kecuali untuk Myanmar), atau dengan kata lain, sekitar 70-80% dari perdagangan negara ASEAN dilakukan dengan negara non-ASEAN. Angka ini sangatlah rendah jika dibandingkan dengan persentase intra-trade blok ekonomi lain semisal Uni Eropa yang intra-trade-nya mencapai lebih dari 60% ataupun North America Free Trade Area (NAFTA) yang mencapai 50%.

Baca juga :   Kotak Sepatu Laser Penguji Kualitas Jalan Raya

Tentu saja setiap negara berdaulat untuk memilih kebijakan ekonominya, meski demikian, sebagai negara-negara yang kurang lebih memiliki playing-field sama dan keunggulan komparatif (comparative advantage) yang bervariasi, kebijakan dan implementasi kawasan (ASEAN) yang terintegrasi dapat memperkuat daya tawar masing-masing negara ketimbang berjalan sendiri-sendiri. Uni Eropa dan AS contohnya, meski gencar mendorong free-trade, tapi tetap memberlakukan hambatan/proteksi ekonominya yang rentan terhadap produk impor atau strategis (pertanian dan lain-lain).

Kedua, pentingnya visi dari negara-negara seperti Indonesia untuk minimal memiliki basis manufaktur/industri strategis yang independen, seperti industri pangan (pertanian) dan pengolahan energi. Apabila Indonesia yang kita tahu juga merupakan salah satu anggota G-20 (negara-negara ASEAN lain tidak ada yang masuk) gagal menyediakan kebutuhan dasar tersebut dalam jangka panjang, maka Indonesia hanya bisa menjadi penonton dalam kompetisi global. Di sini, visi kepemimpinan negara dan kejelian dunia usaha sangatlah diperlukan untuk bahu-membahu membangun negeri.

Advertisement

Tulis Opini Anda