DETEKSI DINI DISLEKSIA

Membantu Murid yang Sulit Membaca dan Menulis

0
24
Disleksia
Anak gadis kecil ini dengan disleksia kadang-kadang mengalami kesulitan membedakan kata-kata atau tiap huruf yang terdengar atau tampak serupa. (Sumber foto/@: MEV)

Bagaimana membantu anak-anak yang menderita disleksia? Jika tidak dibantu, kondisi bawaan sejak kecil hingg dewasa. Pelatihan khusus memungkinkan untuk mengimbangi sebagian dampaknya.

Disleksia
Anak gadis kecil ini dengan disleksia kadang-kadang mengalami kesulitan membedakan kata-kata atau tiap huruf yang terdengar atau tampak serupa. (Sumber foto/@: MEV)

Deteksi dini merupakan langkah penting yang bertujuan agar mampu memberikan bantuan tepat waktu untuk mereka yang terkena dampak gangguan membaca dan menulis ini. Para peneliti sedang bekerja pada sebuah tes diagnostik untuk disleksia pada anak-anak usia pra-sekolah.

Simak kata ini, stop atau spot, skin atau sink? Sedikit perbedaan dalam pengejaan dapat memengaruhi arti tiap kata-kata dan menentukan apakah kata-kata itu masuk akal bila dirangkai dalam kalimat lengkap. Anak-anak umumnya belajar bagaimana mengenali bahasa tulisan dengan cepat dan percaya diri di kelas pertama dan menambah keterampilan ini di setiap tahun ajaran berikutnya.

Advertisement

Akan tetapi, lima dari setiap seratus atau total 35.000 anak setiap tahun di Jerman miksalnya saja—menemukan bahwa latihan ini tidak mungkin ketika anak-anak mulai bersekolah. Dengan mencoba semampu anak, mereka terus membuat kesalahan yang sama berulang-ulang. Tidak bisa membaca cukup cepat dan pekerjaan menulis yang penuh dengan kesalahan, mereka juga sering mencapai tanda miskin di matematika, biologi atau geografi.

Hal ini tetap terjadi bahkan ketika mereka hanya seterang teman sekelas mereka atau memiliki IQ yang lebih tinggi. Anak-anak seperti ini menderita disleksia. Dalam kebanyakan kasus ini adalah kondisi bawaan dan dibawa hingga mereka menjadi dewasa. Pelatihan yang khusus memungkinkan untuk mengimbangi sebagian dampaknya.

Gangguan perkembangan bahasa

Disleksia memiliki banyak wajah. Beberapa anak mengalami masalah tertentu dengan membaca, yang lain memiliki kesulitan yang didominasi dengan ejaan. Meskipun belum dijelaskan secara rinci bagaimana defisit ini terjadi, kami yakin bahwa mereka dapat ditelusuri kembali ke gangguan perkembangan bahasa. Dengan demikian, anak-anak disleksia akan terbantu dengan permainan sajak dan latihan lain yang dirancang untuk membantu mereka membedakan antara suara dan suku kata yang sama. “Waktu terbaik untuk memberikan bantuan tersebut kepada anak-anak adalah sebelum mereka mulai sekolah.

Dan waktu ini akan mampu menentukan awal pada apakah seorang anak rentan terhadap kesulitan membaca atau menulis atau tidak,” jelas Dr Holger Kirsten dari Fraunhofer Institute for Cell Therapy and Immunology IZI di Leipzig.

Namun,  penentuan ini justru menjadi masalah. Sekarang, dalam kebanyakan kasus anak-anak yang menderita disleksia, diagnosis dibuat hanya ketika mereka sudah harus bisa membaca dan menulis, atau pada sekitar saat mereka mendekati akhir tahun kedua di sekolah.

“Itu terlalu terlambat,” kata Arndt Wilcke, salah satu rekan Kirsten di IZI. “Pada usia itu, perkembangan bahasa anak sebagian besar selesai. Hari  ini jelas bahwa disleksia adalah gangguan berbasis bahasa, sehingga akan lebih mudah mengobatinya dengan terapi yang tepat sedari dini.”

Inilah sebabnya mengapa peneliti Fraunhofer telah memulai untuk mengembangkan tes awal yang sederhana namun efektif yang mampu menilai risiko disleksia pada anak-anak berumur tiga sampai lima tahun.

Upaya ini mendapat dukungan tegas dari Dr Jens Brauer di Max Planck Institute for Human Cognitive and Brain Sciences, juga berbasis di Leipzig. Pakta Riset dan Inovasi, yang disepakati antara Fraunhofer-Gesselschaft dan Max-Planck-Gesselschaft enam tahun yang lalu, menjabarkan kerangka kerja untuk kolaborasi ini.

Baca juga :   Internet Ambil Alih Fungsi Televisi?

Di antara anggotanya, tim memiliki keahlian dalam semua disiplin ilmu terkait untuk mendapatkan wawasan yang lebih mendalam ke dalam fenomena disleksia. Sebagai seorang psikolog saraf, Brauer memahami anatomi dan fungsi otak melalui pelatihan dalam studinya di Jerman, dan psikologi Wilcke mampu menawarkan wawasan ke dalam proses kompleks yang terlibat dalam perkembangan bahasa, dan sebagai seorang ahli biokimia dan genetika, Kirsten memberikan gambaran yang komprehensif bagi komponen bawaan disleksia.

Selama bertahun-tahun diketahui bahwa varian gen tertentu secara signifikan lebih umum di antara mereka yang menderita disleksia. Menurut Wilcke, “Sementara itu diketahui banyak dari gen ini menyebabkan—dalam  satu atau lain cara—gangguan perkembangan otak. Sel-sel saraf tertentu gagal untuk mencapai daerah yang dimaksudkan otak atau menunjukkan bukti kelainan struktural. Dengan memeriksa anatomi otak, dapat dilihat bahwa neuron di daerah tertentu dari thalamus lebih kecil dan kurang merata. Sebagai ilmuwan Fraunhofer, kita secara serta-merta tertarik pada bagaimana menerapkan pengetahuan ini. Dan kita cenderung bertanya pada diri sendiri bagaimana gen yang dikenal memainkan peran dalam disleksia dapat dimasukkan ke dalam tes awal yang dirancang untuk menilai kesempatan dari terjadinya kondisi ini.”

Tim interdisipliner bertekad untuk menemukan jawaban atas pertanyaan ini sebagai bagian dari proyek LEGASCREEN. Kedua asosiasi penelitian (Fraunhofer dan Max Planck) telah mengeluarkan total 2,5 juta euro untuk LEGASCREEN selama periode tiga tahun. Memiliki dua lembaga yang berbasis di Leipzig untuk berbagi pengetahuan khusus mereka adalah manfaat besar untuk proyek kerjasama tersebut. IZI menawarkan pengalaman yang luas dalam analisis varian gen. Perhatian khusus telah diberikan untuk memeriksa gen yang disebut FOXP2, selain juga memainkan peran penting dalam memperoleh bahasa serta membantu untuk mengatur gen lain.

Bersama-sama dengan Dr. Carolin Ligges dari Institute for Pediatric Psychiatry di Jena University Hospital, Kirsten dan Wilcke mampu mengungkap koneksi yang menarik selama setahun terakhir. Penderita disleksia lebih mungkin untuk membawa varian tertentu dari gen FOXP2. Terlebih lagi, pembawa varian risiko aktivitas tidak biasa yang tampak di daerah otak ini berhubungan dengan kemampuan bahasa, sehingga membuat FOXP2 menjadi kandidat yang potensial agar harus disertakan dalam tes awal untuk disleksia.

Dalam sebuah studi skala besar terhadap anak-anak sekolah berumur sepuluh tahun, para peneliti LEGASCREEN mampu melacak lebih jauh empat varian genetik yang bisa dihubungkan dengan kejadian disleksia. Hal ini akan membuat varian ini menjadi kandidat yang layak untuk penanda yang digunakan dalam tes awal. Sekarang, pemeriksaan yang lebih tepat dari daerah sekitarnya ini dan penanda genetik yang lain akan dilakukan dengan menggunakan teknik pengembangan gen yang terbaru. (Diolah dari An early test for dyslexia tulisan Monika Offenberger,  Fraunhofer)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda