BAHAN PLASTIK (2)

Mari Ekspor Sampah Plastik Konvensional

0
111
Kawasan Glass Beach di Fort Bragg California, Amerika Serikat—tempat pembuangan sampah pada tahun 1906-1967. Gempa bumi melanda San Fransisco, jalanan dipenuhi puing bekas reruntuhan, sampah,  puing  kaca dan plastik.  Sejak tahun 1967. pengawas kualitas air kota California menyadari pembuangan sampah di lautan merupakan kesalahan. (Sumber foto: https://www.mobgenic.com/)

Penggunaan kantong plastik berbayar  di ritel modern sudah dicoba sejak Februari 2016. Apakah masyarakat sudah mengurangi penggunaan plastik konvensional?

Kawasan Glass Beach di Fort Bragg California, Amerika Serikat—tempat pembuangan sampah pada tahun 1906-1967. Gempa bumi melanda San Fransisco, jalanan dipenuhi puing bekas reruntuhan, sampah,  puing  kaca dan plastik.  Sejak tahun 1967. pengawas kualitas air kota California menyadari pembuangan sampah di lautan merupakan kesalahan. (Sumber foto: https://www.mobgenic.com/)
Kawasan Glass Beach di Fort Bragg California, Amerika Serikat—tempat pembuangan sampah pada tahun 1906-1967. Gempa bumi melanda San Fransisco, jalanan dipenuhi puing bekas reruntuhan, sampah,  puing  kaca dan plastik.  Sejak tahun 1967. pengawas kualitas air kota California menyadari pembuangan sampah di lautan merupakan kesalahan. (Sumber foto: https://www.mobgenic.com/)

Apa kaitan singkong dengan bahan plastik konvensional? Menurut data Kementerian Kehutanan dan Lingkungan, Indonesia menggunakan 9,8 miliar lembar kantong plastik setiap tahun—95 persen menjadi sampah yang baru terurai selama 1000 tahun atau 12-14 generasi. Plastik konvensional sulit terdegradasi (non-biodegradable) secara alami. Yang dicemari adalah darat, air sungai dan laut, dan udara. Bandingkan dengan bahan plastik dari  singkong yang mudah terurai di dalam tanah hanya butuh waktu 10 minggu.

Ironisnya, rata-rata setiap keluarga menggunakan 1460 kantongan plastik (konvensional)  setiap tahun. Dugaan redaksi media ini, lebih dari 1460 lebar. Jajan gorengan saja dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam. Produksi kantongan plastik menghasilkan gas rumah kaca dengan kontribusinya terhadap pemanasan global. Lebih dari sejuta burung dan 100.000 mamalia laut dan penyu laut mati setiap tahun. Mereka mati setelah makan bahan plastik atau terjerat. Contohnya, kondisi sungai Citarum yang penuh sampah plastik—setelah menumpuk di permukaan sungai biasanya “dikirim” ke laut lepas. Sebagian kerang dan ikan teluk Jakarta telah terkontaminasi. Kenapa masyarakat masih dibiasakan menggunakan kantongan plastik konvensional?

Advertisement

Masalah yang disebabkan sampah plastik bukan hanya pada lingkungan. Bahan bakar fosil (minyak bumi) sebagai bahan baku plastik—seperti polyethylene (PE) dan polypropylene (PP)—di alam juga kian langka. Yahoo!News menyebutkan, Indonesia menghasilkan lebih dari 100 miliar kantong plastik setiap tahun—setara dengan 12 juta barel minyak bumi yang jika dirupiahkan nilanya mencapai Rp11 triliun.

Semakin banyak menggunakan bahan plastik maka dampak pencemaran lingkungan—penurunan  kualitas air dan kesuburan tanah—semakin menciut. Sampah bukan hanya bermasalah di perkotaan, daerah wisata, juga mengotori tepi pantai, dan lautan. Beberapa pantai di Denpasar, Bali, kini tidak lagi terhindarkan dari sampah plastik. Bahan plastik merusak kesehatan manusia, membunuh beragam hewan, dan merusak lingkungan secara sistematis—dan sangat berbahaya bagi kelanjutan planet bumi yang kita huni.

Kita akui bahwa plastik konvensional demikian fungsional bagi manusia. Akan tetapi, jika penggunaannya tidak terkendali dan sampahnya tidak dikelola dengan baik, maka beragam kerusakan dan bahaya akan terjadi. Contohnya, kulit kabel listrik dan telepon yang ditemukan di beberapa gorong-gorong di beberapa kawasan di Jakarta, justru berdampak terhadap terjadinya banjir saat hujan turun.

Meski bahan plastik berdampak negatif terhadap lingkungan namun penggunaannya terus meningkat. Bahkan plastik mulai mensubsitusi bahan kemasan seperti kaca dan logam yang digunakan di hampir seluruh sektor industri. Orang Eropa Barat dan Amerika Utara rata-rata menggunakan 100 kg plastik setiap tahun—berupa produk kemasan. Orang Asia menggunakan 20 kg per orang dan akan terus meningkat sesuai dengan pertumbuhan ekonomi.

Baca juga :   Singkong Jadi Plastik Kemasan, Begini Teknologinya

Jerapah dan rusa mati makan plastik

Pameran-pameran mesin plastik (moulding injection) di kota-kota besar di Asia—termasuk Jakarta dan Surabaya—selalu ramai dengan transaksi. Oleh karena itu, kota-kota di dunia menghasilkan sampah plastik sebanyak 1,3 ton miliar per tahun. Bank Dunia memperkirakan sampah plastik akan mencapai 2,2 miliar ton pada tahun 2025. Lembaga  Global Industry Analysis juga melaporkan bahwa pemakaian produk plastik di dunia mencapai 297 juta ton pada tahun 2015 tentu peningkatannya sejalan dengan pertumbuhan industri di dunia—terutama di Asia. Apakah kita harus “memusuhi” produsen dan para pihak terkait bisnis plastik?

Tentu saja tidak. Sebenarnya, bahan plastik merupakan bahan kemasan yang bagus agar usia suatu produk lebih tahan lama. Bahan plastik juga dipakai sebagai alat kesehatan, meningkatkan efisiensi transportasi, dan memiliki potensi besar digunakan dalam teknologi energi terbarukan.

Akan tetapi, kita harus menghitung dampak negatif akibat penggunaan yang berlebihan. Risiko bahaya yang ditimbulkan sampah plastik seperti zat aditif beracun dalam plastik, pewarna plastik, bahan baku seperti bisphenol A (BPA). Kita sering mendengarkan berbagai masalah yang ditimbulkan sampah plastik di berbagai kota di Indonesia. Lahan pun membutuhkan sekian ratus hektar untuk pembangunan TPS.

Lautan pun dibebani 10-20 juta ton sampah plastik setiap tahun. Sebuah studi baru memperkirakan sekitar 5 triliun partikel plastik sekitar 268.940 ton mengambang di lautan. Sampah plastik itu menyebabkan kerugian sebesar US$13 miliar per tahun. Terjadilah kerusakan ekosistem laut, obyek wisata tidak alami lagi, bahkan hewan laut seperti binatang, paus dan lumba-lumba mati setelah makan plastik.

Contohnya di Kebun Binatang Surabaya seekor jerapah mati akibat makan 20 kg plastik. Demikian juga di kebun binatang Shanghai, China, tiga ekor rusa mati setelah “merumputi” sampah plastik. Kita sering mendengarkan rencana daur ulang sampah plastik, namun hasilnya masih minim. Kenapa kita tidak mengekspor sampah plastik misalnya ke Skandinavia yang kekurangan sampah untuk didaur-ulang menjadi sumber energi?

Saatnya kita mengganti bahan plastik konvensional dengan plastik yang mudah terurai dan ramah lingkungan dengan menggunakan singkong, jagung, kedele, dan bahan nabati lainnya menjadi biji plastik. Mindset kita harus berubah. Beberapa orang dan perusahaan di Indonesia telah melakukannya. Dan, mereka sukses. (Bahan diolah dari berbagai sumber)

Advertisement

Tulis Opini Anda