PERAN ROBOT (1)

Lebih Irit Ongkos dan Tingkatkan Kapasitas Produksi

0
27
Kerja sama seorang pekerja dengan mitra kerjanya satu unit robot. (Sumber foto/@: Fraunhofer IPA)

Penggunaan robot pada sektor manufaktur kian dominan meski harga robot sangat mahal yang berkisar US$50.000 hingga US$150.000 per unit. Robot bekas dipatok mulai US$25.000 sampai US$75.000 per unit. Kita khawatir, jangan-jangan robot menguasai manusia?

Kerja sama seorang pekerja dengan mitra kerjanya satu unit robot. (Sumber foto/@: Fraunhofer IPA)
Kerja sama seorang pekerja dengan mitra kerjanya satu unit robot. (Sumber foto/@: Fraunhofer IPA)

Populasi dan peran robot di dunia terus bertambah. Semakian beragam pekerjaan manusia—utamanya di sektor industri dan pelayanan—diambilalih oleh robot. World Robotics melansir, bahwa jumlah robot mencapai 8,6 juta yang bekerja di seluruh dunia pada tahun 2010. Dari jumlah tersebut, 1,3 juta unit tercatat sebagai robot yang dipekerjakan di bidang industri. Sedangkan 7,3 juta lagi adalah robot yang dibuat khusus untuk bekerja di bidang pelayanan. Angka itu melonjak hingga tahun 2012, jumlah robot di seluruh dunia mencapai 13 juta.

Beberapa negara terus meningkatkan produksi robot. Jerman, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat termasuk negara yang berambisi meningkatkan produksi robot. Jangan-jangan melonjaknya populasi robot membuat beberapa negara khawatir. Robot bakal menguasai dan mengganti peran manusia—seperti dalam berbagai scenario film-film. Manusia tentu saja menolak dikuasai oleh robot. Untuk mengantisipasi skenario pemberontakan robot, sebuah perusahaan di Inggris membesut proyek senjata anti robot dalam tajuk WAR Defence (Weapons Against Robots)—seperti dikutip dari detik.com.

Advertisement

Sementara itu, REPUBLIKA.CO.ID memprediksi bahwa suatu hari robot akan mengambil alih semua pekerjaan manusia dalam berbagai dimensi kehidupan. Seperti kita ketahui bahwa robot pertama dinamai Unimate yang diciptakan pada 1956. Berkat inovasi teknologi, robot Unimate sukses melakukan berbagai tugas sesuai dengan kemauan manusia yakni para insinyur yang menciptakannya. Fungsi dan kerja robot kian berkembang di sejumlah negara.

Robot buatan Gudel. (Sumber foto/@: http://img.directindustry.com/)
Robot buatan Gudel. (Sumber foto/@: http://img.directindustry.com/)

Perusahaan-perusahaan semakin tertarik mennggunakan robot dan menggabungkan robot-robot itu ke beberapa mesin kerja di pabrik (manufaktur). Dengan menggunakan robot yang tanpa upah kerja itu, ongkos produksi bisa diirit, sedangkan kapasitas produksi meningkat. Penggunaan robot kian digandrungi. Tahun 2011, populasi robot mencapai 9 juta unit di dunia seperti dilaporkan International Federation of Robotics (IFR) dan meningkat menjadi 13 juta unit tahun 2012.

Menurut laporan IFR, angka penjualan robot di Amerika Serikat meningkat 43 persen dan di Kanada, angkanya meningkat 72 persen pada tahun yang sama 2011. Berikut 10 negara dengan kepadatan robot tertinggi di dunia. Jumlah robot dibandingkan dengan per 10 ribu orang yang bekerja di sektor manufaktur (berdasarkan data Wonder List, 2012).

1. Korea Utara (347 unit robot per 10 ribu orang pekerja/manusia); 2. Jepang (339 unit robot per 10 ribu pekerja); 3. Jerman (261 robot per 10 ribu pekerja)’; 4. Italia (159 robot per 10 ribu pekerja); 5. Swedia (157 robot per 10 ribu pekerja); 6. Denmark (145 robot per 10 ribu pekerja); 7. Amerika Serikat (135 robot per 10 ribu pekerja); 8. Spanyol (131 robot per 10 ribu pekerja); 9. Finlandia (130 robot per 10 ribu pekerja); dan 10. Taiwan (129 robot unit per 10 ribu pekerja)

Peningkatan drastis

Peran robot di berbagai sektor industrisemakin besar terutama di pabrik-pabrik. Karena harga robot sangat mahal, negara-negara di Uni Eropa menyediakan dana untuk membiayai penelitian agar mampu merancang robot yang murah sehingga harga terjangkaubagi usaha kecil dan menengah.

Robot telah menjadi fitur normal dari lanskap industri, yang dapat ditemukandalam lembaran logam las, perakitan gearbox dan melakukan banyak tugas produksi yang berguna. Sejak tahun 60-an, ketika para pekerja robot yang pertama mengambil tempat di pabrik, jumlah mereka telah meningkat menjadi hampir satu juta di seluruh dunia.

Tahun 2006 misalnya, jumlah robot baru mencapai 100.000unit yang bekerja di berbagai industri, tiap tahun. Sebanyak 13.400unit di antaranya bekerja di Jerman. Sebagian besar robot, dipekerjakan di pabrik-pabrik yang menjalankan kelompok industri yang besar dan rumit. Sedangkan perusahaan-perusahaan kecilkesulitan melakukan investasi besar untuk membeli robot.   Harga robot di pasar sangat mahal dan tidak cukup fleksibel bagi usaha kecil dan menengah yang harus merogoh saku US$50.000 hingga US$150.000 per unit.

Baca juga :   Robot Tempur Buatan TNI AD di Malang

Untuk itu, Uni Eropa mensponsori sebuah proyek yang bertujuan untuk membawa jenis otomatisasi ini ke dalam jangkauan keuangan bagi usaha kecil dan menengah (UKM). Proyek ini bernama SMErobot ata disebutkan Inisiatif Robot Eropa untuk Memperkuat Daya Saing UKM di bidang Manufaktur.

Di samping lembaga-lembagai riset dan universitas-universitas yang terkemuka, dilibatkan pula lima produsen robot terbesar di Eropa. Mitra yang lainnya termasuk perusahaan TI, konsultan dan industri TI. Perusahaan dan lembaga yang ikut menangani proyek robot itu adalah, RESIS ROBOTICS, GUDEL, ABB, KUKA, DLR, visual components, SMEEG, Pro Support, RINAS Aps, Casting Technology, Fraunhofer, Gesellschaft, COMAU, EFQM, prospektive, GPS, dan LUND INSTITUTE OF TECHNOLOGY.

Robot buatan ABB sebuah perusahaan kelas dunia yang bermarkas di Zurich, Swiss. (Sumber foto: http://www07.abb.com/)
Robot buatan ABB sebuah perusahaan kelas dunia yang bermarkas di Zurich, Swiss. (Sumber foto: http://www07.abb.com/)

Semua orang di dunia harus mengetahui tentang sektor robotika. Untuk memenuhi tantangan itu, para peneliti harus “lebih atau kurang memahami tentang robot”, sesuai dengan pendapat dari Martin Hägele dari Fraunhofer Institute for Manufacturing Engineering and Automation IPA di Stuttgart, Jerman, Dia ini yang mengoordinasikan proyek tersebut. Konsorsium tersebut telah menetapkan tiga tujuan ambisius yang dicapai selama empat tahun. Proyek itu telah dijamin pendanaannya dan para insinyur menetapkan bahwa:

  • Robot baru harus mampu memahami dengan mudah perintah-perintah “intuitif” yang dipelajari yang memungkinkan robot mudah dilatih oleh para pemula di bidang komputer.
  • Robot harus mematuhi semua persyaratan keselamatan yang relevan, dan memungkinkan robot untuk berbagi ruang kerja dengan rekan-rekan sekerja yakni manusia.
  • Robot harus dimungkinkan untuk diinstal dan memerintahkan robot dalam jangka waktu tiga hari.

Robot baru harus hadir dengan harga yang terjangkau. Para peneliti berharap untuk mengurangi investasi dan biaya operasonal hanya sepertiga dari tingkat saat ini dengan menggabungkan unit modular dalam konfigurasi yang fleksibel. Hasilnya seperti yang telah diduga, yaitu generasi baru robot yang tidak hanya dibangun dengan cara baru, tetapi juga dikerahkan dan dioperasikan secara berbeda. Jenis baru dari robot akan mampu untuk mengulurkan tangan di berbagai sektor industri, baik untuk pengolahan kayu, logam, karet, keramik atau plastik, atau untuk tugas-tugas seperti pengeboran, penggilingan, pemotongan, dan lifting.

Setelah menggunakan robot, Toyota Motor Corporation di Amerika Serikat yang menjual generasi ke-7 atau generasi terbaru sedan Toyota Camry LE, pada Oktober 2013, lebih murah ketimbang generasi sebelumnya. Mengutip laporan Los Angeles Times Camry LE dipatok US$ 22.500 turun US$ 200 sedangkan varian tertinggi Camry XLE dihargai US$ 24.725 atau lebih murah US$ 2.000 dibanding generasi sebelumnya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Laman autoevolution.com, mengutip laporan Bloomberg, menjelaskan, “Perakitan Camry anyar itu menggunakan robot perakitan bekas proyek kerja sama di pabrik (Toyota) California.”

Toyota membeli robot di pabrik New United Motor Manufacturing Incorporated (NUMMI) California itu karena saat ini robot perakit itu menganggur. Padahal, kondisinya masih bagus. Peralatan tersebut merupakan peninggalan proyek kerja sama Toyota di California dengan General Motors (GM) lama, sebelum GM mengalami kebangkrutan pada 2009.

“Banyak peralatan yang baru di pabrik tersebut, tapi kami juga mendatangkan perlengkapan lama,” kata Steve St Angelo, Wakil Direktur Manufacture & Engineering Toyota Amerika Utara memberi alasan.

Namun yang pasti, langkah itu dilakukan untuk menghemat ongkos produksi agar model tersebut tetap memiliki daya saing tinggi dan bisa memenangkan persaingan di pasar. Pasalnya, pada saat yang bersamaan, pabrikan asal Korea, Hyundai Motors Corporation, juga gencar menggelontorkan produknya. (Diolah dari berbagai sumber termasuk Industrial robots – light version tulisan Klaus Jacob, Fraunhofer )

Simak artikel terkait dengan topik PERAN Robot (2)
Robot Tempur Buatan TNI AD di Malang

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda