INDUSTRI SATELIT

Lapan dan Telkom Segera Meluncurkan Satelit

0
9

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) akan meluncurkan satelit yang pertama kali dibuat Indonesia yaitu satelit Lapan A2 pada 2013 menyusul satelit Lapan A1 buatan Jerman. Satelit Lapan A1 masih bekerja hingga kini. Sedangkan roket  RHAN-122 dibuat hasil  kerja sama Lapan,  PT Dirgantara Indonesia,  dan  PT Pindad. Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk berkeinginan meluncurkan Satelit Telkom-3R pada 2016 sebagai investasi jangka panjang—setelah satelit Telkom-3 gagal mencapai orbit pada 7 Agustus 2012 .

Kepala Lapan Bambang Setiawan Tejasukmana menjelaskan kepada wartawan bahwa pihaknya telah memproduksi satelit dan telah melakukan uji coba.

“Peluncurannya menggunakan roket dari India.  Jadi, kami menunggu jadwal dari mereka,  terakhir dijadwalkan Juni 2013.  Satelit kami pelihara dahulu,  kemungkinan Mei 2013 dibawa ke India,” kata Bambang.

Advertisement

Bambang mengatakan satelit memiliki kamera yang di antaranya untuk memantau permukaan bumi.  Sedangkan automatic identification system menerima pancaran data informasi dari kapal di laut.  Terdapat pula sensor untuk bencana yang bekerjasama dengan ORARI.

“Satelit akan membantu telekomunikasi berbagai radio amatir untuk membantu penanganan bencana,” tambahnya.

Dia menjelaskan Lapan A1 dibuat di Jerman yang hingga kini masih bekerja.  Sedangkan Lapan A2 dibuat di Indonesia dengan lama pembuatan sekitar 2 tahun mulai pengumpulan komponen hingga pengujian.

Komponen lokal yang digunakan tidak banyak,  karena masih minimnya manufaktur lokal yang membuat komponen.

Menurutnya,  India dipilih untuk kerjasama pelunucuran karena memiliki program yang sama.  Kemungkinan ke depan dapat bekerjasama dengan negara lain seperti China.

Setelah Lapan A2,  lanjutnya,  akan diluncurkan Lapan A3 pada 2014 dan Lapan A4 sekitar 2015-2016,  setelah itu kemungkinan akan diluncurkan satelit yang lebih besar.

Selain satelit,  terdapat roket RHAN-122 yang dibuat kerjasama Lapan,  PT Dirgantara Indonesia,  PT Pindad.  Roket tersebut telah selesai diuji coba dengan kemampuan 14 kilometer.   “Kami juga sudah mencoba juga untuk kemampuan 30 kilometer dan 36 kilometer,” kata Bambang.

Lapan S-UAV 01,  pesawat terbang tanpa awak juga telah selesai diuji,  fungsinya untuk memantau lahan persawahan dan pemotretan wilayah gunung berapi.

Baca juga :   Siemens adakan lomba karya tulis tentang teknologi ramah lingkungan bagi wartawan tingkat ASEAN

Satelit Telkom-3R pada 2016 sebagai investasi jangka panjang

Setelah Satelit Telkom-3 gagal mencapai orbit pada 7 Agustus 2012,  PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) berkeinginan meluncurkan Satelit Telkom-3R pada 2016 sebagai investasi jangka panjang.  Satelit dengan investasi hampir Rp2 triliun itu kemungkinan besar tak dapat digunakan kembali setelah gagal mencapai titik orbit 118 derajat di ketinggian 36 ribu kilometer.

Menurut Direktur Utama Telkom Arief Yahya,  persiapan pembuatan Satelit Telkom-3R akan dimulai tahun depan.  Diperkirakan tiga tahun kemudian,  satelit tersebut baru dapat diluncurkan.

“Kita masih mempunyai hak menunjuk kembali pihak Rusia untuk mendesain satelit.  Namun,  kita juga punya opsi untuk bisa gunakan hak itu atau tidak,” kata Arif.

Ia menyampaikan,  apabila Telkom memilih opsi untuk tidak menggunakan desain Rusia dan membuka tender kepada pihak lain,  maka perseroan dapat mendesain satelit sesuai dengan keinginannya,  termasuk memilih slot peluncuran satelit serta cakupannya (“coverage”).

“Sebab,  untuk diluncurkannya satelit itu di slot berapa derajat serta ‘coverage’-nya butuh desain khusus.  Desain satelit membutuhkan waktu sekitar enam bulan,” katanya.

Sebaliknya,  menurut Arif,  apabila Telkom menggunakan hak tersebut,  maka desain satelit sepenuhnya menjadi tanggungjawab dari ISS-Reshetnev Rusia,  sehingga perseroan dapat menghemat waktu untuk mendesain satelit tersebut.

“Intinya,  Telkom punya pilihan untuk memilih lagi Rusia atau ‘open tender’,” tandas Arief.

Sumber foto: http://images.detik.com/

Artinya,  Satelit Telkom-3R membutuhkan kurang lebih 42 “transponder”.  Biaya sewa satu transponder sekitar 1 juta dolar AS,  sehingga 42 “transponder” membutuhkan dana sebesar 42 juta dolar AS.

“Kalau kita sewa akan bertahap.  Namun, semuanya itu bergantung dengan kebutuhan,” katanya. (Sumber: tender-Indonesia.com dan detik.com)

Advertisement

Tulis Opini Anda