INDUSTRI LOGAM DASAR

Kita Masih Kekurangan Produk Baja

0
18

Sembilan perusahaan sedang menginvestasikan dana sebesar US$13,3 miliar  (Rp130,23 triliun) pada sektor industri logam dasar, sementara PT Lionmesh Prima Tbk mengalokasikan belanja modal Rp15 miliar hingga Rp45 miliar untuk pengembangan bisnis baja.   Sedangkan pembangunan pabrik baja tahap pertama milik PT Krakatau Steel dan Pohang Iron & Steel Company  mencapai 90%. PT Tembaga Mulia Semanan membelanjakan Rp33 miliar untuk meremajakan dan modernisasi mesin serta penambahan peralatan.

130619-02a

Sebagian dari sembilan perusahaan itu sedang mengurus surat-surat izin, dan sebagian lagi bermitra dengan perusahaan-perusahaan lain.

Advertisement

Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto menuturkan  bahwa investasi pada industri manufaktur logam dasar nasional sedang berkembang sekarang ini. Dia menuturkan minimal sembilan perusahaan yang menggolontorkan dananya untuk ekspansi pada sektor logam dasar.

Menurutnya,  penanaman modal pada industri hilir logam dasar itu biasanya lebih cepat berkembanga ketimbang sektor hulu.  Hal itu disebabkan  pasar produknya sangat menarik karena terkait dengan industri baja dan lainnya.  Selain itu, belakangan ini, penggunaan produk baja dan besi  semakin dibutukan oleh masyarakat. Contohnya, produk baja ringan yang semakin diperlukan oleh masyarakat untuk bahan baku (kerangka) rumah, gedung sekolah, dan gedung-gedung pemerintah seperti Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), gedung sekolah, dan sebagainya.

Berdasarkan data Kemenperin,  sembilan perusahaan yang menekuni industri logam—khususnya sektor manufaktur logam dasar—antara lain PT Krakatau Steel Tbk bekerja sama dengan serta Pohang Iron & Steel Company dengan total ivestasi US$6 miliar. Sedangkan Nippon & Sumitomo (Jepang) bermitra dengan Krakatau Steel Tbk dengan modal US$300 juta.  PT Krakatau Steel—melalui anak usahanya  PT Meratus Jaya—juga akan ekspansi US$140 juta.

Sedangkan PT Delta Prima menanamkan modal US$40 juta,  PT Indoferro US$ 140 juta,  Weda Bay Nikel senilai US$ 5 miliar,  dan Feni Haltim sebesar US$1,6 miliar.   Demikian pula rencana PT Indonesia Chemical Alumina yang akan menggarap industri pengolahan alumina.
Dengan adanya upaya pemerintah untuk memberikan insentif,  setidaknya telah berhasil menarik sembilan investor industri logam dasar, tandas Menteri Perindustrian MS Hidayat.

Dia menjelaskan dengan adanya investasi baru tersebut,  khususnya untuk produk baja,  diharapkan mampu mensubstitusi kebutuhan pasar domestik.   Ia menjelaskan bahwa kebutuhan pasar domestik yang bisa disubtitusi diharapkan sebesar 6,8 juta ton per tahun,  sementara untuk impor,  hingga saat ini mencapai 9  juta ton per tahun.

Agar pengembangan industri nasional terarah,  efektif dan efisien,  jelas Hidayat,  pihaknya telah menyusun roadmap pengembangan industri logam nasional yang terdiri dari Roadmap Industri Baja,  Aluminium,  Nikel,  dan Tembaga dengan memanfaatkan potensi logam dalam negeri.

Beberapa upaya pemerintah untuk menarik investasi antara lain adanya insentif fiskal berupa tax holiday yang tertuang dalam PMK 130 Tahun 2011,  fasilitas tax allowance (PP No 52 Tahun 2011),  serta pembebasan bea masuk atas impor mesin serta barang dan bahan untuk pembangunan atau pengembangan industri dalam rangka penanaman modal (PMK 176 Tahun 2009).

Sementara itu, pembangunan pabrik milik PT  Krakatau Steel dan Pohang Iron & Steel Company  yang disebutkan dengan nama Krakatau Posco hampir tuntas di Banten dengan capaian 90%. Manajemen perusahaan itu telah memulai pengoperasian coke oven plant,  yaitu fasilitas pemrosesan batubara jenis coking coal untuk menjadi kokas alias coke sebagai sumber energi untuk melebur besi cair di pabrik blast furnace maupun sintering plant.

Komisaris Utama PT Krakatau Posco,  Fazwar Bujang,  menyatakan,  butuh waktu tiga bulan untuk memanaskan batu refactory di coke oven plant agar ideal dipakai dalam proses pengolahan baja.  Oleh karena itu,  pabrik sudah bisa beroperasi pada November atau Desember 2013.

130619-02b

Krakatau Posco menginvestasi US$357 juta untuk membangun coke oven plant yang mampu menghasilkan 1,3 juta kokas per tahun.   Nantinya,  pabrik akan menghasilkan 65.000 meter persegi gas oven,  56.000 ton tar,  18.000 ton BTX,  dan 2.000 ton sulfur per tahun.   Pabrik tahap pertama Krakatau Posco ini juga bakal menghasilkan 3 juta ton per tahun jenis slab dan pelat baja.

Baca juga :   Revitalisasi Mesin, Kubota Tanam Rp8 Miliar

Pembangunan proyek ini bakal berlanjut ke tahap kedua pada tahun 2014 setelah proyek tahap I beroperasi.  Jenis produk yang dihasilkan pabrik ini masih berupa baja lembaran.

Manajemen sedang membahas jenis produk pada tahap kedua dengan mempertimbangkan tren konsumsi baja domestik dan harga baja di pasar global.  Bisa saja manajemen membuat stainless steel atau produk lainnya, dan kebanyakan produk akan dipasarkan di dalam negeri (domestik). Dengan orientasi memasok kebutuhan baja dalam negeri,   tambahan produksi ini bisa menekan impor baja hingga 20%.

Menambah mesin baru

Sementara itu, Menteri Perindustrian,  MS Hidayat,  menyatakan,  dari total kebutuhan baja secara nasional yang mencapai 9 juta ton per tahun,  saat ini,  pasokan lokal baru mengisi 6,8 juta ton.

Melihat besarnya peluang, produsen baja milik grup Lion yakni PT Lionmesh Prima Tbk  mengalokasikan belanja modal sekitar Rp15 miliar hingga Rp45 miliar untuk pengembangan bisnisnya  tahun 2013.

Direktur Utama Lionmesh Prima Lawer Supendi mengemukakan dana tersebut digunakan penambahan mesin baru,  upgrading mesin,  dan penambahan area produksi yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas perseroan pada tahun 2014.

130619-02c

Menurutnya,  penambahan mesin-mesin baru itu bertujuan mampu menggenjot efisiensi dan kapasitas produksi.   Saat ini,  kapasitas produksi perseroan mencapai 25.000 ton-30.000 per tahun.   Perseroan harus mengambil langkah-langkah antisipatif atas dinamika perkembangan pasar agar kinerja tetap terjaga.

Demikian pula produsen kawat tembaga dan aluminium,  PT Tembaga Mulia Semanan Tbk pada  tahun 2013 menganggarkan belanja modal Rp33 miliar untuk meningkatkan kapasitas produksi kawat tembaga.  Selain itu,  dana itu juga akan dipakai untuk meremajakan dan modernisasi mesin serta penambahan peralatan.

130619-02d

Presiden Direktur PT Tembaga Mulia Semanan Tbk,  Kunio Ino mengungkapkan,  penjualan perusahaannya pada tahun 2012 mencapai US$092 juta,  sementara untuk laba tahun 2012 sebesar US$2,65 juta.  Tahun 2013,  manajemen  menargetkan peningkatan penjualan sebesar 35%.  Sementara,  kenaikan laba juga ditargetkan naik sebesar 30% dari tahun 2012 lalu.

Target penjualan dan laba tahun ini akan dicapai dengan menambah produksi sehingga penjualan bisa meningkat.  PT Tembaga Mulia

akan menaikkan produksi 15% untuk produksi aluminium dan kawat tembaga.

Produksi aluminium akan meningkat menjadi 2.900 ton per bulan.  Tahun 2012,  rata- rata produksinya hanya 2.650 ton per bulan.  Sementara produksi kawat tembaga,  tahun 2013 ditargetkan bisa menjadi 7.000 ton per bulan dari tahun lalu yang hanya mampu sebesar 6.500 ton.

Direktur Eksekutif Tembaga Mulia,  Asep Suparman menambahkan,  pihaknya optimistis dengan target perusahaan tahun 2013.  Manajemen sedang mengejar proyek 10.000 Megwatt tahap II milik  PLN.  Tender PLN itu diikuti oleh pabrik kabel yang merupakan pelanggan Tembaga Mulia.

Menurut Asep,  secara tidak langsung, perusahaannya juga bergantung pada proyek dari PLN.  Untuk ikut tender proyek PLN,  manajemen hanya mempunyai satu kompetitor perusahaan tembaga di Indonesia,  yaitu IT Karya Sumideng Indonesia. Sementara untuk produk Aluminium,  Tembaga Mulia mempunyai tujuh perusahaan pesaing. (Sumber: tender-indonesia.com dan lain-lain).

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda