SKENARIO ENERGI 2035

Kisah Kayu Bakar di Desa Afrika Tengah dan Batujagar

0
19

Masih banyak desa di Indonesia yang menggunakan kayu bakar untuk memasak makanan. Keadaan seperti itu juga masih berlangsung di pedalaman Afrika Tengah. Simak laporan seorang jurnalis tentang denyut desa, apa dampak kelistrikan di desa Batujagar?

140211-04a

Afrika Tengah di tahun 2035. Di tengah-tengah semak belukar tampak suatu desa terpencil yang tadinya bergantung pada kayu bakar sebagai sumber utama energi. Sekarang pemerintah telah membangun desa tersebut dengan teknologi-teknologi yang dapat diperbaharui dan mengantarkannya ke suatu era yang baru. Seorang jurnalis yang mengunjunginya menemukan bagaimana listrik telah mengubah kehidupan para penduduk desa tersebut.

Advertisement

Jalan menuju era baru listrik tidaklah mudah dan dipenuhi banyak hambatan. Semak belukar yang tumbuh di kanan-kiri jalan yang kotor menyerupai suatu tembok berwarna-warni yang kokoh. Sesaat setelah pandangan mulai jelas, akan terlihat seekor atau dua ekor jerapah yang berlalu hampir tanpa suara. Hingga beberapa waktu kemudian, taksi-taksi semak belukar di Afrika Tengah telah menggunakan listrik. Jika kita kehabisan baterei di jalur yang kasar, maka sebuah mesin pembakaran kecil bisa memperluas jangkauan kendaraan kita.

Di dalam sebuah mobil  tua seorang dokter daerah bernama  Dr. Salim Taylor, yang merupakan pemandu tur jurnalis pada hari itu. Gaya hidupnya sebagai seorang dokter termasuk kurang baik, karena dia selalu mengisap cerutu dan gayanya mengemudi mobil hampir mirip seliar lingkungan di sekitarnya. Akan tetapi,  tidak seorang pun di belahan bumi ini yang memiliki informasi tentang pembangunan negara itu dan tentang penduduknya sebaik yang dimiliki oleh dokter desa itu.

Taylor selalu melakukan perjalanan mengunjungi pasien di luar kliniknya setiap sekali dalam seminggu. Dokter itu berencana untuk melihat hasil awal dari sebuah program pembangunan yang telah memasukkan listrik di desa yang dikunjunginya tersebut.

“Tikus !” sungut Taylor ketika roda depan mobilnya kanan tiba-tiba tertelan masuk ke dalam sebuah lubang di jalan yang sangat dalam.

Rumah kayu di desa Sijambur Kecematan Palipi, Pulau Samosir, Sumatera Utara. Bahan bangunan rumah di desa ini terbuat dari kayu yang direkatkan tanpa paku. Penduduk menempati rumah secara turun-temurun, seperti  rumah yang ditempati Tolop Sihombing (berkaus merah, kanan) merupakan generasi ke-5). Rumah ini dibangun oleh marga Sitohang dan kemudian diserahkan kepada pihak putri bernama Juliana Sitohang ibu Tolop, dan kakak perempuan A. Marlon Sitohang (dua dari kiri). Penduduk desa memasak makanan dengan kayu bakar, namun jarang rumah kebakaran di Pulau Samosir. (Foto: Emilezola L. Toruan)
Rumah kayu di desa Sijambur Kecematan Palipi, Pulau Samosir, Sumatera Utara. Bahan bangunan rumah di desa ini terbuat dari kayu yang direkatkan tanpa paku. Penduduk menempati rumah secara turun-temurun, seperti rumah yang ditempati Tolop Sihombing (berkaus merah, kanan) merupakan generasi ke-5). Rumah ini dibangun oleh marga Sitohang dan kemudian diserahkan kepada pihak putri bernama Juliana Sitohang ibu Tolop, dan kakak perempuan A. Marlon Sitohang (dua dari kiri). Penduduk desa memasak makanan dengan kayu bakar, namun jarang rumah kebakaran di Pulau Samosir. (Foto: Emilezola L. Toruan)

“Lubang itu adalah yang kesepuluh sejak kita meninggalkan jalan kerikil.” Dia menarik sebuah cerutu segar dan membakarnya dengan sebuah korekapi. “Jalan ini tidak sesuai dengan namanya, tetapi desa di depannya telah benar-benar berubah sepertinya kita tidak dapat percaya, ajaib” kata dokter Taylor yang  mengetahui lebih baik dari pada siapa pun. Dia telah berada di desa itu ketika para teknisi mengantarkan desa tersebut dari Zaman Batu ke dalam suatu abad baru listrik. Dia selalu memotivasi agar para pejabat pemerintah pusat untuk mengawasi proyek yang sedang dibangun dan memerhatikan serta mendukung penduduk desa agar kualitas hidup mereka terus meningkat dari waktu ke waktu.

Sebelumnya, desa tersebut sedang berada di dalam keputusasaan tanpa sentuhan dunia luar, tanpa listrik dan tidak ada akses ke jaringan komunikasi—merupakan suatu kejanggalan yang paling aneh di adab ini—termasuk di Afrika. Melalui program barunya bagi pembangunan kemapanan di daerah terpencil, pemerintah sedang mencoba menghapuskan “lahan-lahan kosong” dari peta negara.

“Persoalannya lebih mengarah pada evolusi dari pada revolusi,” kata Taylor. “Kita tidak sedang mencoba menghancurkan struktur sosial dan tradisi desa, melainkan kita bermaksud mengembangkan kondisi kehidupan masyarakat.”

Kincir angin berputar pelan

Dia menunjuk ke tumbuh-tumbuhan di kedua sisi jalan. “Sudahkah kamu lihat? Meskipun kita sudah hampir mencapai desa, rumput-rumputnya masih tinggi-tinggi. Beberapa tahun yang lalu daerah di sekitar desa sudah sepenuhnya tidak memiliki hutan, tetapi sekarang masyarakat tidak lagi perlu mengumpulkan kayu bakar.”

Taylor mengepul-ngepulkan asap cerutunya dan menabrak lubang lain di jalan. Secara perlahan semak belukarnya mulai menipis, memperlihatkan suatu pemandangan dari sebuah daratan yang luas. Kita menuruni sebuah bukit kecil, yang di kakinya terdapat desa tersebut.

Secara sekilas kumpulan pondok-pondok yang mengitari terlihat lebih tradisional dari pada progresif. Namun, di savana yang berada di belakang desa berdiri tiga kincir angin yang berputar pelan di dalam angina sepoi-sepoi. Dan di tengah desa terdapat bangunan modern yang mencolok dengan atapnya yang menyerap energi cahaya matahari. Apalagi, jika dilihat dengan lebih dekat akan terlihat barisan-barisan dari tiang-tiang logam yang mendukung lampu-lampu LED di jalanan.

Rumah Oppu Borneo Sitohang yang hingga kini masih tegak di desa Sijambur Kecamatan Palipi, Pulau Samosir, Sumatera  Utara. Meski rumah kayu ini telah berusia lebih dari 150 tahun, bangunannya masih gagah dan kuat dan renovasi hanya dilakukan pada saat penggantian atap—dari ijuk ke bahan seng. Oppu Borneo hidup selama 75 tahun di rumah ini bersama keturunannya yang sebagian merantau ke berbagai provinsi di Indonesia. Kini rumah kayu diterangi lampu  listrik namun penghuninya, yakni A. Marlon Sitohang masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. (Foto: Rayendra L. Toruan)
Rumah Oppu Borneo Sitohang yang hingga kini masih tegak di desa Sijambur Kecamatan Palipi, Pulau Samosir, Sumatera Utara. Meski rumah kayu ini telah berusia lebih dari 150 tahun, bangunannya masih gagah dan kuat dan renovasi hanya dilakukan pada saat penggantian atap—dari ijuk ke bahan seng. Oppu Borneo hidup selama 75 tahun di rumah ini bersama keturunannya yang sebagian merantau ke berbagai provinsi di Indonesia. Kini rumah kayu diterangi lampu listrik namun penghuninya, yakni A. Marlon Sitohang masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. (Foto: Rayendra L. Toruan)

“Kita sudah sampai,” kata Taylor sambil tersenyum, lalu memanjat kendaraannya sambil berkata, “Di sanalah pusat perawatannya,” katanya sambil menunjuk sebuah gedung dengan sistem tenaga surya.”

Gedung itu mempunyai suatu sistem pendingin dan pengatur suhu ruangan yang bertenaga surya dan menggunakan sebuah kulkas penyerap. Sistem tersebut menjaga gedungnya tetap dingin menyegarkan. Sekarang dokter sedang membuatnya bisa digunakan di rumah.

Dokter Taylor menarik sebuah komputer tablet ke luar dari sakunya dan menyapa Abdul, seorang kepala desa. “Abdul hampir menyerupai seorang perawat. Dia tetap teratur merekam keadaan pasien-pasien di desa ini dan mengirimkan datanya kepada saya melalui radio. Datanya  berisikan foto-foto atau hasil pemeriksaan darah yang dilakukannya dengan alat-alat pemeriksaan otomatis berukuran tidak lebih dari pada sebuah telepon seluler. Sehingga, saya selalu terinformasikan dengan baik tentang keadaan kesehatan terkini dari pasien-pasien.”

Ketika melakukan perjalanan menuju ke pasien yang pertama kami melewati sebuah kontainer berbentuk silinder yang diapit oleh sepasang stasiun pengecasan listrik.

Baca juga :   Cari Mitra Bisnis? Download Easy-Buying APP

“Itulah pembangkit listrik biogas kami,” kata Abdul dengan bangga, meneuk sisi dari tangki tersebut. “Kami memberinya makan dengan guntingan tanaman dan pupuk. Bakteri di dalam tangki menggunakannya untuk memproduksi metan, yang kemudian secara otomatis berubah menjadi listrik. Bersama-sama dengan kincir angin, pembangkit listrik ini memberikan energi yang memadai dengan sendirinya kepada kita.” Dia menunjuk ke stasiun pengecasan dan berkata, “Jangan lupa untuk melepaskan kendaraanmu bila sudah selesai,”

Rommel Sihombing memberikan daun sirih kepada Emilezola L. Toruan lulusan Teknologi  Hasil Pengolahan Hutan (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta) di dekat Sungai Pangaribuan yang airnya belum dimanfaatkan sebagai sumber energi. “Kita bersyukur karena air dari sungai ini dialirkan untuk kebutuhan warga di empat desa,” tutur Rommel Sihombing penduduk desa Batujagar, Kecamatan Palipi, Pulau Samosir, Sumatera Utara. Daun sirih dipercaya mempunyai energi yang berkhasiat untuk kesehatan. (Foto: Rayendra L. Toruan)
Rommel Sihombing memberikan daun sirih kepada Emilezola L. Toruan lulusan Teknologi Hasil Pengolahan Hutan (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta) di dekat Sungai Pangaribuan yang airnya belum dimanfaatkan sebagai sumber energi. “Kita bersyukur karena air dari sungai ini dialirkan untuk kebutuhan warga di empat desa,” tutur Rommel Sihombing penduduk desa Batujagar, Kecamatan Palipi, Pulau Samosir, Sumatera Utara. Daun sirih dipercaya mempunyai energi yang berkhasiat untuk kesehatan. (Foto: Rayendra L. Toruan)

Ketika mendekati pondok yang beratapkan rumput melingkari  miIik pasien tersebut, kami bisa mendengarkan musik yang lembut. Panci yang mendidih di atas kompor menebarkan sebuah aroma yang pedas dan sebuah lampu LED tergantung dari langit-langit.

“Ramuan,” kata Taylor dengan puas ketika dia melihat komputer tabletnya. “Pasien saya yang muda jelas melakukannya dengan lebih baik.”

Dia menunjuk kepada seorang anak laki-laki  yang terbaring di atas tempat tidur, yang tampaknya berusia sekitar dua belas tahun.“Apakah dia mengidap malaria ?” tanya saya. “Kami hampir tidak melihat adanya kasus malaria sejak pemberian vaksinasi yang terakhir,” jawab Taylor.

“Gigitan ular juga tidak kritis lagi. Terima kasih ke pasokan listrik yang stabil, kami mempunyai kulkas di pusat perawatan sekarang. Kulkas ini memungkinkan kami untuk menyediakan serum yang cukup dan obat-obatan lain untuk mengobati berbagai penyakit.

Sekarang setelah desa ini memasuki masa kelistrikan, para penduduk desa tidak lagi mudah terserang penyakit seperti sebelumnya. Sebelumnya, jika terjadi suatu kecelakaan tidak ada cara untuk menolongnya. Sekarang, masyarakat bisa memanggil pertolongan melalui sebuah telepon seluler atau pergi ke pusat perawatan dengan menggunakan sepeda listrik. Contohnya anak laki-laki ini. Dia sedang menaiki sepedanya tanpa menggunakan helm dan mengalami benturan yang menyebabkan gegar otak.”

Dokter tersebut menyalakan sebuah lampu ke arah mata anak laki-laki tersebut. “Apakah dia bersepeda terlalu kencang?” tanya saya. “Dia membentur sebuah lubang,” Taylor menggumam dan menganggukkan kepala kepada seorang wanita di dekat kompor, yang sedang membawa semangkuk ramuan untuk contoh kepada Taylor.

“Tentu saja, penyebab kecelakaannya adalah tidak tahan terhadap benturan.”

Energi sungai Pangaribuan di desa Batujagar, Kcecamatan Palipi, Pulau Samosir, Sumatera Utara—dimanfaatkan untuk air kebutuhan 4 desa. (Foto: Rayendra L. Toruan)
Energi sungai Pangaribuan di desa Batujagar, Kcecamatan Palipi, Pulau Samosir, Sumatera Utara—dimanfaatkan untuk air kebutuhan 4 desa. (Foto: Rayendra L. Toruan)

Bagamana keadaan kelistrikan di pedelaman di Indonesia? “Masih jauh dari jangkauan warga desa,” kata Tolop Sihombing yang tinggal di desa Bartujagar Kecamatan Palipi, Pulau Samosir, Sumatera Utara. Kampungnya yang bernama Sijambur sudah masuk listrik sejak Desember 2010 berkat bantuan Dr. Manerep Pasaribu yang saat itu General Manajer PLN Sumatera Utara. Namun, hingga kini, beberapa desa di Kecamatan Palipi seperti desa Lobutua, Doloksanggul, Sitatar, dan desa lain belum tersambungkan dengan jaringan kabel listrik.

“Saya sudah kirimkan lebih 100 daftar permohon lengkap dengan fotokopi KTP kepada R. Effendi Siboro calon anggota DPR dari PKB Sumut,” ujar Tolop. Melalui seorang jurnalis di Jakarta, ungkap Tolop, permohonan listrik masuk ke desa-desa di Samosir akan disampaikan kepada Direktur Urama  PT PLN (Persero). “Semoga pak Siboro terpilih menjadi anggota DPR agar bisa membantu membuatkan jalan aspal ke desa kami dan beberapa desa di Samosir,” imbuh Tolop.

Tolop merasa bangga rumahnya dan rumah warga lainnya di desa Batujagar telah dialiri listrik.Keadan itu berdampak terhadap perkembangan sosial-ekonomi-pendidikan masyarakat. Anak-anak bisa belajar lebih baik di bawah alat penerangan. Anak Tolop misalnya bisa menjadi juara kelas di SMP Katolik Palipi karena bisa belajar dengan baik. “Bandingkan dengan saya ketika SD, belajar dengan lampu telpok sehingga hidung berwarna hitam karena asap hitam dari templok itu,” tutur Tolop Sihombing yang mengaku masih menggunakan kayu bakar untuk memasak makanan.

Sementara itu, seorang peneliti bernama Dewi Alimah melalui tulisannya berjudul Kayu Sebagai Sumber Energi, energi biomassa, khususnya kayu bakar, masih merupakan sumber energi dominan bagi masyarakat pedesaan yang pada umumnya berpenghasilan rendah. Diperkirakan 50 persen penduduk Indonesia masih  menggunakan kayu bakar sebagai sumber energi dengan tingkat konsumsi 1,2 m3/orang/tahun.

Selain itu, sekitar 80 persen sumber energi masyarakat pedesaan diperoleh dari kayu bakar (Departemen ESDM, 2005), khususnya untuk memasak. Hal ini menuntut Kementrian Kehutanan untuk proaktif memfasilitasi dan mensosialisasikan energi biomassa secara luas kepada masyarakat. Jika tidak dilakukan, kemungkinan akan menimbulkan ancaman peningkatan degradasi hutan akibat pengambilan kayu yang tidak memperhatikan asas kelestarian seperti yang telah terjadi pada hutan-hutan muda yang dikelola Perhutani di Jawa.

Apakah seluruh desa di Indonesia akan terjangkau aliran listrik pada tahun 2035 nanti? Wah …kita harus membuat scenario kehidupan yang akan kita jalani jauh ke deepan. (Bahan diolah dari laporan jurnalis Florian Martini, Pictures of the Future/SIEMENS dan sumber-sumber lain)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda