KESELAMATAN KARYAWAN

Kendalikan Bencana di Area Pabrik

0
7
Seorang petugas mengangkat boneka manusia yang harus diselamatkan dari ledakan bom. (Foto: Bernd Müller)

Sebuah pabrik meledak. Sebuah uji coba dengan skala nyata dan sensor mencatat apakah kru mudah mengakses ke bangunan pabrik itu atau tidak? Antisipasi  dilakukan dengan mengerahkan 150 orang pria dan wanita yang berdiri penuh perhatian. Mereka berbaris di bawah sinar matahari pagi di depan ruang peralatan stasiun pemadam kebakaran. Perangkat laptop, server, layar, dan komponen untuk sensor seukuran tangan pria dewasa  menutupi sebuah meja.

Seorang petugas mengangkat boneka manusia yang harus diselamatkan dari ledakan bom. (Foto: Bernd Müller)

Suara seorang pria terdengar. “Selamat pagi rekan-rekan. Nama saya Stefan Rother. Saya adalah pelatih Lembaga Federal untuk Bantuan Teknis THW. Saya bertanggung jawab atas prosedur hari ini. Setelah tiga tahun melakukan penelitian dan persiapan, hari ini kita melakukan uji coba skala penuh yang menandai akhir dari proyek AISIS. AISIS adalah singkatan dari pembangkitan informasi secara otomatis dan perlindungan infrastruktur penting dalam peristiwa bencana.”

Perhatian semua orang tertuju kepada Rother. Para petugas pria mau pun wanita berasal dari unit relawan pemadam kebakaran, Palang Merah dan petugas THW berada di pinggir area pabrik. Tidak seperti latihan lainnya, saat itu tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Rother memperkenalkan program kegiatan itu dengan seksama.

Advertisement

“Hari ini kita sedang menguji sistem keselamatan baru yang akan membantu kita dalam menyelamatkan nyawa manusia ketika terjadi kecelakaan, serangan teroris atau gempa bumi. Sensor-sensor telah dipasang pada dinding sebuah gedung pabrik tua di lokasi industri ini. Setelah ledakan, sensor-sensor tersebut akan menginformasikan kepada kita  tentang kondisi struktur bangunan. Dengan demikian, kita bisa memutuskan dengan cepat apakah kita da[at memasuki bangunan atau tidak. Jika ya, bagian mana dari bangunan tersebut yang dapat kita akses dengan aman. Setelah ledakan, saya akan memberi tahu ke pusat kontrol. Latihan …kita mulai.”

Keterangan foto searah jarum jam: * Supervisor memberi tahu anggota relawan pemadam kebakaran, Palang Merah, dan THW mengenai operasi yang sudah direncanakan. * Sensor bundar dan nirkabel dipasangkan ke dinding. Sensor mencatat kekuatan ledakan. * Peledak pemotong yang disiapkan secara khusus untuk memotong balok baja pada bagian dalam gedung. (Sumber foto: www.aisis-innovation.org)

Sebanyak 30 orang peneliti dan ahli bahan peledak menghabiskan waktu selama empat hari di lokasi pengujian tersebut. Mereka memersiapkan bangunan pabrik dua lantai  untuk uji coba. Momen peristiwa uji coba itu hanya berjarak 90 menit. Andreas Fleig, pimpinan proyek THW, menjelaskan:

“Beberapa meter kabel pengapian berwarna  kuning dan merah telah diletakkan dan terhubung ke sistem pengapian. Anda dapat melihat balok baja dengan alat pemotong yang dilengkapi dengan bahan peledak khusus untuk memotong balok tersebut. Bahan peledak menimbulkan gelombang tekanan ke bawah dasar lantai.”

Bahan peledak plastik merah tampak seperti tanah liat.. Fleig menarik beberapa sarung tangan karet tipis dan mengambil dan meletakkan sejumput kecil bahan peledak pada tangannya.

“Kami menggunakan sesedikit mungkin bahan peledak agar  peledakkan terkontrol seperti  untuk menjamin keselamatan para saksi mata di sekitar area ini.”

Sebagian teknisi memalu, menggergaji, dan menyebarkan puing-puing dan kotoran di depan gedung. Para asisten THW membawa boneka kayu setinggi ukuran manusia dan meletakannya di lantai dua secara tersembunyi. Petugas penyelamatan harus mencari dan ‘menyelamatkan’ boneka-boneka itu setelah dilakukan ledakan yang sesungguhnya.

Dummi (boneka) yang dipergunakan terlihat compang-camping karena sudah sering  digunakan dalam latihan seperti ini sebelumnya. Akan tetapi, dummi itu tersenyum—seseorang menggambar wajah dengan bolpoin pada dummi itu. Peneliti menggunakan sekrup untuk memasang 20 sensor perak dan bulat pada setiap interval jarak 8 meter di dinding dan langit-langit di aula pabrik berukuran panjang 30 meter dan lebar 13,5 meter itu.

Sensor akan mendata efek kekuatan ledakan terhadap dinding. Informasi ini kemudian akan langsung dikirim ke pusat kendali. Di masa depan, teknologi sensor ini dapat diintegrasikan ke dalam tubbing, beton yang digunakan dalam konstruksi terowongan, di mana sensor-sensor tersebut dapat mengirimkan informasi mengenai situasi di dalam terowongan pada saat terjadi insiden kecelakaan.

Apakah strukturnya stabil?

“Stabilitas dinding yang rusak sulit ditentukan setelah insiden semacam ini, dan hal itu menjadi salah satu isu keamanan terbesar hingga saat ini–isu yang membuat nyawa personil penyelamatan dan bantuan penuh risiko,” jelas Metin Erd dari Institute untuk Rekayasa Mikrosistim di Universitas Freiburg.

Erd dan rekan-rekannya di Fraunhofer telah menyiapkan laboratorium portabel mereka di tenda dalam jangkauan visual ke aula pabrik. Kondisi bagian dalam tenda penuh, panas dan berdempetan. Laptop, server, layar dan komponen untuk sensor seukuran tangan menutupi meja.

“Sensor ini dipasang pada papan sirkuit. Unit evaluasi, sistem radio dan hubungan transmisi radio diselimuti oleh pembungkus logam yang sudah compang-camping,” jelas Erd.

Setiap sensor mencatat gelombang tekanan yang berasal dari ledakan dan meneruskan informasi itu. Dia melanjutkan: “Kami mengembangkan sistem sensor ini sebagai bagian dari proyek AISIS bekerja sama dengan mitra kami Institut Fraunhofer untuk High-Speed Dynamics, Ernst Mach Institute EMI, di Freiburg, dan masih banyak lagi. Proyek ini dikoordinasikan oleh perusahaan konstruksi internasional, Ed. Zublin AG, dan didanai oleh Kementerian Federal Jerman untuk Pendidikan dan Penelitian (BMBF) dengan dana sebesar 4,1 juta Euro.”

Baca juga :   Cara Membekuk Kuman Paling Nyaman

Profesor Klaus Thoma, direktur EMI, dengan bangga menjelaskan, “Sistem sensor seperti ini belum pernah dilakukan sebelumnya dalam teknologi keselamatan. Uji coba semacam ini sangat penting untuk penelitian. Kami membantu menyelamatkan nyawa manusia. Di  Bad Säckingen, kami menemukan lokasi yang ideal untuk melakukan percobaan spektakuler dalam kondisi yang sebisa mungkin menyerupai kehidupan dan kejadian yang sungguh nyata.”

Para undangan, penonton, dan tim kamera berkumpul di luar tenda putih besar untuk pengunjung di luar zona aman 100 meter. “Tolong jangan halangi kamera,” seorang kameramen memperingatkan penonton yang berkerumun di sekitar penghalang.

Tugasnya adalah merekam ledakan dengan kamera berkecepatan tinggi. Kamera khusus juga telah ditempatkan di dalam gedung, dan quadrocopters-helikopter miniatur berukuran satu meter-dan mendokumentasikan percobaan itu dari arah  atas gedung pabrik.

Fleig memberi penjelasan tentang sinyal untuk mengumumkan ledakan. “Sebentar lagi akan ada bunyi sirene panjang.  Suara itu itu adalah sinyal untuk segera berlindung. Namun, Anda tidak perlu berbaring di tanah, karena kita berada di luar zona bahaya. Jika semuanya baik-baik Anda akan mendengar lengkingan sirene  pendek yang berarti ledakan akan segera terjadi.”

Keterangan foto searah jarum jam: * Bagian dalam alat sensor. * Karyawan dari Badan Federal untuk Bantuan Teknis THW mempersiapkan segalanya untuk ledakan. * Personil penyelamatan dan pertolongan membantu para aktor yang 'terluka'. * Dari jarak yang aman, pengunjung dan wartawan menyaksikan gedung tersebut meledak. * Di dalam sebuah tenda dengan pemandangan ke aula pabrik, peneliti menyiapkan laboratorium portabel mereka.

Waktunya telah tiba. Terdengar satu ledakan panjang yang disusul dua ledakan pendek. Ahli bahan peledak menghitung mundur. “Empat, tiga, dua, satu ….” Sunyi. Kemudian terdengar ledakan yang memekakkan telinga. Awan debu abu-abu dan gelap bergelombang keluar dari kerangka jendela kosong, asap berhamburan.

Dinding debu raksasa bergerak ke arah para tamu dan wartawan. Ketiga ahli bahan peledak bergerak cepat dan menghilang ke dalam kabut debu. Mereka memiliki tugas yang berisiko—memastikan semua bahan peledak telah terpicu dan meledak, tiga kali terdengar suara gemuruh ledakan pendek. Peledakan telah berakhir dan Stefan Rother memberitahu pada awak penyelamatan.

Fleig meraih mikrofon. “Akan ada pemberangkatan dari prosedur standar operasi (protap) kami hari ini. Saat ini kita akan melaksanakan ‘jeda dramatis’ singkat untuk memosisikan 15 aktor yang akan memainkan peran sebagai orang yang terluka, baik di atas lantai mau pun di antara puing-puing reruntuhan.”

Michael Harter dari perusahaan Securiton AG (Swiss) memanfaatkan kesempatan jeda itu. Di dalam tenda pengunjung, dia menggunakan proyeksi video untuk menjelaskan bagaimana sistem keamanan bekerja dengan baik.

“Berikut ini adalah asesmen situasi yang muncul di layar petugas pemadam kebakaran yang berwenang ketika mereka mendekati lokasi ledakan. Anda bisa melihat pada gambar sensor mana yang sangat berkelebihan beban. Kami mendapatkan gambar yang sangat jelas ketika bangunan itu runtuh. Sesuai rencana, bangunan hanya runtuh sebagian.”

Petugas yang bertanggung jawab dengan segera diberi informasi berharga-data yang sudah ada, seperti rencana lapangan yang menunjukkan jalur akses yang dimungkinkan, juga posisi detektor kebakaran dan sistem pemadaman.

Perlahan kabut debu menghilang. Di tengah sirene dan lampu biru yang berkerlap-kerlip, petugas pemadam kebakaran dan ambulans tiba di tempat kejadian. Palang Merah memasang tenda bantuan darurat pertama dalam hitungan menit. Dibungkus dengan selimut isolasi berwarna emas, korban luka ringan menuju ke lokasi petugas medis.

Tiga ekor anjing pelacak mencari korban yang terkubur di bawah reruntuhan. Petugas yang menggali dengan hati-hati membersihkan potongan besar puing-puing. Rother merasa lega.

“Sistem sensor lulus tes. Kita semua berharap tidak ada hal buruk yang akan terjadi, tapi kita harus siap menghadapi bencana besar–karena suatu bencana yang sesungguhnya bisa saja terjadi entah kapan, di mana pun, dan bisa menimpa siapa pun.”

Oleh karena itu, kita harus selalu waspada dan memiliki pengetahuan/keterampilan yang memadai lengkap dengan alat/teknologi pengaman yang membantu kita. (Marion Horn; www.fraunhofer.de/magazine)

Advertisement

Tulis Opini Anda