TEKNIK BERKENDARA (2)

Kenapa Pengendara Mual dalam Mobil Simulasi?

0
10
Perjalanan dan keadaan di jalan tol direkam kemudian diaplikasikan ke ruang  simulasi sehingga pengendara (uji coba) merasa seperti di jalan tol yang sengguhnya. (Sumber foto: SF2: https://www.shutterstock.com/)

Ketika mobil berjalan tanpa pengemudi, apa yang akan terjadi saat manusia memutuskan untuk mengambil alih kemudi kendaraan? Apakah robot setuju?

Perjalanan dan keadaan di jalan tol direkam kemudian diaplikasikan ke ruang  simulasi sehingga pengendara (uji coba) merasa seperti di jalan tol yang sengguhnya. (Sumber foto: SF2: https://www.shutterstock.com/)

Sistem yang dilakukan di Kaiserslautern, Jerman, memiliki fitur khusus seperti sistem artikulasinya yang teramat kuat dan dapat menopang kabin hingga satu metrik ton. Beban itu merupakan muatan yang cukup untuk dipasang pada kabin ekskavator yang sebenarnya.

Tim juga mensimulasikan secara realistis sebuah traktor yang hanya butuh waktu empat jam untuk memasangkan kabin penghubung dan mengganti perangkat lunak simulasi. Para ilmuwan  juga merencanakan agar simulasi mobil penumpang, menaiki alat yang kemudian dijalankan  dalam waktu singkat.

Advertisement

Untuk memastikan simulasi terasa seperti kita mengendarai mobil asli, institut ini mengirim sebuah kendaraan pengukur sepanjang bagian jalan yang dipilih, Sensornya secara visual akan merekam jalur jalan, lingkungan, dan permukaan jalan untuk menciptakan sebuah latar yang menyenangkan bagi realitas virtual dalam simulator.

Untuk memastikan bahwa pengendara penguji berlaku secara alami, mereka harus  merasakan selayaknya seperti dalam mobil yang bergerak dengan sebenarnya. Pergerakan simulator yang tidak dapat memenuhi kesan visual pengendara memengaruhi reaksi dan bahkan dapat menyebabkan gejala seperti pusing dan mual meski mobil simulasi tidak melaju.

Sama seperti mabuk mobil atau mabuk laut, “mabuk simulator” yang disebabkan oleh persepsi sensoris yang berlawanan. Untuk mencegah efek samping yang tak menyenangkan seperti itu, para ahli Fraunhofer bekerja sama dengan para peneliti di bidangnya dalam algoritma sinyal perintah gerakan yang baru untuk menghasilkan sinyal kontrol untuk simulator.

Kleer mendesain Robot-based Driving and Operation Simulator (RODOS) untuk tesis doktoralnya. “Karena gedung institut sedang dalam perluasan saat itu, jadi sangatlah mudah untuk mengintegrasikan simulator ke ekstensi gedung yang baru,” kata Kleer.

Permukaan bundar proyeksi untuk gambar-gambar mendapat ruang yang cukup baik; diameternya yang berukuran 10 meter cukup luas untuk mempermudah pemperdayaan mata. Jika jarak ke proyeksi terlalu dekat, pupil pengendara secara naluri akan terfokus pada permukaan jalan. Karena gambar menyuguhkan jarak yang lebih besar, bagaimana pun juga, ini akan membingungkan otak dan ilusinya akan hilang.

Menguji sistem asistensi

Delapan belas proyektor yang ditata di sekeliling kubah menghasilkan pemandangan di siang hari yang dibuat dengan teknologi 120 Hertz, bebas dari gangguan. Bagian atas dari kubah proyeksi dan sebuah sorotan arsitektural yang menembus melalui langit-langit gedung dan juga ke lantai dasar—berperan sebagai pusat perhatian visual dalam atrium besar di atas.

Kenapa alat yang sangat kompleks ini diperlukan? “Alat ini menyediakan pertolongan yang berharga dalam mengembangkan dan menguji model kendaraan atau sistem bantuan baru—merupakan area bagi perilaku pengendara yang memainkan peran vital. Bahkan teknologi paling cerdas sekalipun tidak akan mampu mengatasinya jika hal itu disebabkan pengendara berperilaku tidak benar,” penjelasan Kleer. Artinya, pengendera tidak mengemudi sesuai dengan prosedur yang baku.

Baca juga :   Teknologi Surface: Treatment Atasi Kelemahan Material

Contohnya, simulator memungkinkan untuk menguji lebih lanjut bagaimana dashboard dapat diatur untuk mendorong pengendara untuk berkendara dengan cara yang dapat menghemat bahan bakar. Ini juga membatu para peneliti untuk mengetahui bagaimana sistem bantuan yang seharusnya berfungsi. Seberapa cepat mobil seharusnya bergerak pada satu waktu dan seberapa dekat diperbolehkan dengan mobil lain sehingga pengendara secara naluri tidak menyerobot setir kemudi?

Skenario pada masa depan, seperti situasi yang melibatkan mobil tanpa pengemudi yang sudah diuji coba di beberapa perusahaan otomotif, apa yang akan terjadi saat manusia memutuskan untuk mengambil alih kemudi kendaraan yang sedang malaju? Apakah robot akan menyetujui sikap (tiba-tiba) manusia yang ingin menyetir mobilnya?

Oleh karena itu, pabrikan ekskavator menyelidiki bagaimana untuk mengatur bantuan berkendara sehingga dapat membantu peserta pelatihan, dan tidak memengaruhi refleks operator berpengalaman yang telah terasah dengan baik. Jawabannya disediakan dalam simulator yang memiliki alat seleksi representatif pengendara untuk melakukan manuver yang respektif.

Secara alami, pengujian ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan kendaraan atau aplikasi prototipe. Akan tetapi, pengujian ini (mungkin) lebih mahal dan berbahaya serta lebih boros waktu. “Apa yang kami dapat uji dalam dua jam di simulator akan membutuhkan waktu dan usaha yang lebih banyak jika dilakukan dengan prototipe,” tutur Patrick Schumacher yang bekerja di pabrikan mesin konstruksi Volvo CE—pengguna fasilitas simulasi ITWM.

Pengendara harus merasa senyata mungkin seperti duduk di kendaraan asli sehingga pengujiaan tersebut tidak menghasilkan yang keliru. Psikolog institut di Kaiserslautern membantu untuk mengetahui bagaimana ilusi dapat disempurnakan.

Tim ahli juga memastikan tidak satu pun pengendara (latihan) mengalami mabuk berkendara. Pengendara ekskavator berpengalaman yang bekerja di simulator ITWM sangat terkesan. Mereka memperkirakan simulator itu mencapai hasil yang 80 persen realis atau nyata. (Bahan diolah dari The illusion of driving tulisan Klaus Jacob, Fraunhofer)

 

Advertisement

Tulis Opini Anda