INOVASI MAHASISWA (2)

Kapan Kita Mandiri Membuat Komponen Giroskop, tanya Mahasiswa

0
62
Gambar kiri tim mahasiswa ITB penemu teknologi yang inovatif untuk roket militer. (Sumber foto: itb.ac.id) dan gambar kanan adalah akselerometer yang dapat mengukur gerakan sudut. Penataan sistem dirancang sedemikian agar kecepatan sudut dan percepatan massa dapat dianalisis. Kedua sensor mengukur tingkat perubahan dengan gerakan linier dan gerakan sudut. (Sumber foto: http://www.kvh.com/)

Dengan memanfaatkan gelombang cahaya, giroskop dapat lebih efisien dan presisi  dibandingkan giroskop mekanik buatan negara lain. Apa hambatan bagi tim mahasiswa ITB?

Giroskop-pic-2
Gambar kiri tim mahasiswa ITB penemu teknologi yang inovatif untuk roket militer. (Sumber foto: itb.ac.id) dan gambar kanan adalah akselerometer yang dapat mengukur gerakan sudut. Penataan sistem dirancang sedemikian agar kecepatan sudut dan percepatan massa dapat dianalisis. Kedua sensor mengukur tingkat perubahan dengan gerakan linier dan gerakan sudut. (Sumber foto: http://www.kvh.com/)

Ketika alat itu berputar pada sumbu dengan kecepatan sudut yang sudah tertentu, roda pemintal dapat diukur dalam putaran per detik (revolutions per second, RPS). Sebuah sumbu yang dinamai sumbu z dari giroskop sejajar dengan sumbu rotasi pada roda dengan kecepatan sudut 360 per detik.

Sensor giroskop disebut juga sebagai sensor tingkat sudut atau sensor kecepatan sudut merupakan perangkat yang menerima kecepatan sudut. Kecepatan sudut adalah perubahan sudut rotasi per satuan waktu, dan umumnya dinyatakan dengan istilah degree/second (derajat per detik).

Advertisement

Akselerometer mengukur percepatan  ditambah percepatan gravitasi (g) yang fungsinya berdasarkan pada elastisitas balok semikonduktor yang sangat kecil di dalam IC. Lendutan balok ini diukur dengan menggunakan alat bernama piezoelektrik (pada kebanyakan akselerometer). Giroskop mengukur kecepatan rotasi sudut di sekitar sumbu.

Indonesia masih mengimpor alat giroskop karena di belum banyak pabrik serat optik. Sementara itu, G-Fortar adalah giroskop berjenis serat optik yang memiliki diameter 15 cm dan memanfaatkan efek Sagnac dan interferensi gelombang cahaya untuk mendeteksi kecepatan sudut perangkat alutsista.

Menurut tim mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), dengan memanfaatkan gelombang cahaya, giroskop dapat lebih efisien dan lebih presisi dibandingkan giroskop mekanik buatan negara-negara lain.

Tim mahasiswa ITB berharap agar komponen-komponen yang dibutuhkan dapat dibuat di Indonesia. Pengalaman untuk menangani serat optik pun merupakan tantangan yang harus diatasi oleh tim mahasiswa ITB. Mereka berharap agar G-Fortar dapat dikembangkan oleh para mahasiswa lainnya di Indonesia.

Baca juga :   Neraca Perdagangan dengan ASEAN Diperkirakan Surplus US$ 4,5 Miliar

Indonesia harus mampu mandiri pada aspek teknologi alutsista, harapan tim mahasiswa ITB. Jika mahasiswa di Indonesia mampu menciptakannya, peluang bisnis baru pun bermunculan—tentu saja berdasarkan krfeativitas yang inivatif.

Salah satu anggota tim bernama Megan Graciela Nauli menjelaskan, bahwa sensor yakni giroskop sangat berperan untuk mengukur dan mempertahankan orientasi perangkat berdasarkan prinsip-prinsip momentum sudut.

Di dunia militer,  yang banyak digunakan adalah giroskop berjenis serat optik—lebih praktis dalam penggunaan serta mampu memberikan hasil yang lebih presisi.

Ukuran giroskop pun masih dapat diperkecil, demikian Megan, misalnya dari diameter 15 cm—masih terlalu besar dibandingkan giroskop serat optik buatan negara-negara lain. Sebab, ukuran giroskop yang lebih kecil mudah disematkan dalam berbagai perangkat ungkap Megan.

Selamat kepada tim mahasiswa ITB, lanjutkan terus karya inovatif yang dibutuhkan pada era industri 4.0 berbasis digital driver.

Simak INOVASI MAHASISWA (1)
Giroskop Mampu Kendalikan Roket Militer

 

 

Advertisement

Tulis Opini Anda