ENERGI TERBARUKAN

Investor AS Bangun Listrik Tenaga Angin di Yogyakarta

0
218

Amerika Serikat (AS) menempati peringkat pertama di dunia yang telah memanfaatkan energi angin, disusul oleh Jerman, Spanyol, China, India, dan Denmark. Bagaimana di Indonesia? Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan mempunyai Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) berbahan bakar angin pertama di Indonesia.  Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X memastikan itu usai menyetujui investor asal Amerika Serikat membangun PLTB di Yogyakarta.

130523-01a

“Jadi ada investor dari Amerika Serikat akan melakukan investasi Bayu Energi (energi angin) karena ini masuk energi terbarukan.  Sehingga pemerintah ingin dipercepat,” ungkap Sri Sultan.

Advertisement

Nantinya PLTB ini akan dibangun di kota Bantul Yogyakarta dengan kapasitas listrik yang akan dihasilkan sebesar 50 megawatt (MW).

“Ini di Bantul Yogyakarta untuk menghasilkan 50 MW di Pantai Selatan.  Mereka sudah melakukan pengkajian sudah 5 tahun yang lalu dan membuat percobaan.  Kita akan memfasilitasi.  Pak Jero memproses dan ESDM membentuk tim energi terbarukan.  Tinggal aspek teknis saja untuk proses di BKPM-nya (Badan Koordinasi Penanaman Modal).  Nantinya listrik bakal dibeli PLN,” tuturnya.

Sementara itu,  Staf Ahli Menteri Bidang Kelembagaan dan Perencanaan Strategis Kementerian ESDM Wiraatmaja Puja menjelaskan,  PLTB ini akan dibangun bulan September 2013.  Dikatakan dia,  investor asal Amerika Serikat tersebut adalah UPC.

“Sri Sultan sudah hibahkan tanahnya untuk PLTB,  luasan tanahnya saya lupa tapi cukup luas,  di daerah Samas,  Bantul.  Investasi belum bisa saya katakan namun tahun 2014 proyek ini jadi.  September 2013 mulai dibangun dengan investor UPC dan dengan mitra lokal juga,” katanya.

Pemanfaatan energi angin di Indonesia

Pemanfaatan tenaga angin sebagai sumber energi di Indonesia bukan tidak mungkin dikembangkan lebih lanjut. Di tengah potensi angin melimpah di kawasan pesisir Indonesia, total kapasitas terpasang dalam sistem konversi energi angin saat ini kurang dari 800 kilowatt.

“Kecepatan angin di wilayah Indonesia umumnya di bawah 5,9 meter per detik yang secara ekonomi kurang layak untuk membangun pembangkit listrik. Namun, bukan berarti hal itu tidak bermanfaat,” kata Kepala Penelitian dan Pengembangan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Nenny Sri Utami, membacakan pidato Menteri ESDM saat membuka seminar Teknologi dan Pemanfaatan Energi Angin sebagai Peluang Usaha Baru di Bogor.

Di seluruh Indonesia, lima unit kincir angin pembangkit berkapasitas masing-masing 80 kilowatt (kW) sudah dibangun. Tahun 2007, tujuh unit dengan kapasitas sama menyusul dibangun di empat lokasi, masing-masing di Pulau Selayar tiga unit, Sulawesi Utara dua unit, dan Nusa Penida, Bali, serta Bangka Belitung, masing-masing satu unit.

Menurut Kepala Subdirektorat Usaha Energi Baru dan Terbarukan Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE) ESDM Kosasih Abbas, mengacu pada kebijakan energi nasional, maka pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) harus mampu menghasilkan 250 megawatt (MW) pada tahun 2025.

Peta potensi angin

Salah satu program yang harus dilakukan sebelum mengembangkan PLTB adalah pemetaan potensi energi angin di Indonesia. Hingga sekarang, Indonesia belum memiliki peta komprehensif, karena pengembangannya butuh biaya miliaran rupiah.

Potensi energi angin di Indonesia umumnya berkecepatan lebih dari 5 meter per detik (m/detik). Hasil pemetaan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) pada 120 lokasi menunjukkan, beberapa wilayah memiliki kecepatan angin di atas 5 m/detik, masing-masing Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Pantai Selatan Jawa.

Adapun kecepatan angin 4 m/detik hingga 5 m/detik tergolong berskala menengah dengan potensi kapasitas 10-100 kW.

“Agar lebih bermanfaat dan tepat sasaran, harus ada data potensi energi angin yang kontinu dan akurat di lokasi terpilih dengan lama pengukuran minimal satu tahun,” kata Soeripno Martosaputro dari Lapan.

Menggerakkan pompa air

Sejak empat tahun lalu, salah satu lembaga swadaya masyarakat memanfaatkan kincir angin untuk menggerakkan pompa air di beberapa wilayah, seperti di Indramayu, Jawa Barat. Hingga kini, sudah 40 kincir angin berdiri di beberapa kota/kabupaten.

“Biaya investasinya sekitar Rp 60 juta hingga beroperasi. Dengan kecepatan angin kurang dari 3 meter per detik, air yang dapat dipompa sekitar 2,7 meter kubik per jamnya,” kata pengembang kincir angin untuk energi pompa air Hasan Hambali. Produknya diberi nama energi gratis (EGRA).

Salah satu kincir angin EGRA yang pertama ada di Indramayu digunakan untuk mengairi kebun mangga seluas 10 hektar. Sebelum menggunakan teknologi kincir angin, air yang dipompa menggunakan mesin diesel menghabiskan biaya solar Rp 132.000 per hari. Kini, biaya pemeliharaan kincir sekitar Rp 500.000 per tahun. (GSA)

Jenis-jenis turbin angin

Ada dua jenis turbin angin yang umum digunakan saat ini, yaitu berdasarkan arah poros berputar (sumbu): turbin angin sumbu horisontal dan turbin angin sumbu vertikal. Ukuran turbin angin bervariasi.

130523-01b
Turbin angin sumbu horisontal

Turbin kecil yang digunakan untuk memasok energi rumah tunggal atau bisnis mungkin memiliki kapasitas kurang dari 100 kilowatt. Beberapa turbin komersial berukuran besar mungkin memiliki kapasitas 5 juta watt, atau 5 megawatt. Turbin yang lebih besar sering dikelompokkan bersama-sama sebagi ladang angin yang memasok listrik ke jaringan listrik.

Turbin Angin Sumbu Horisontal
Kebanyakan turbin angin yang digunakan saat ini adalah tipe sumbu horisontal. Turbin angin sumbu horisontal memiliki bilah baling-baling seperti di pesawat. Sebuah turbin angin horisontal berdiri setinggi bangunan 20-lantai dan memiliki tiga pisau yang rentangnya menjangkau 200 kaki. Turbin angin terbesar di dunia memiliki baling-baling yang lebih lebih panjang dari lapangan sepak bola. Turbin angin yang tinggi dan lebar dibangun untuk menangkap lebih banyak angin.

Baca juga :   Apartemen Cerdas Penghemat Biaya

Turbin Angin Sumbu Vertikal 

Turbin angin sumbu vertikal memiliki bilah yang memanjang dari atas ke bawah. Turbin angin jenis ini yang paling umum adalah turbin angin Darrieus, dinamai sesuai dengan nama insinyur Perancis Georges Darrieus yang desainnya dipatenkan pada tahun 1931. Jenis turbin angin vertikal biasanya berdiri setinggi 100 meter dengan lebar 50 kaki. Turbin angin sumbu vertikal menempati porsi kecil untuk digunakan pada saat ini.

130523-01c

Pembangkit listrik tenaga angin

Pembangkit listrik tenaga angin, atau sering disebut ladang angin, adalah kelompok turbin angin yang digunakan untuk menghasilkan listrik. Sebuah ladang angin biasanya memiliki puluhan turbin angin yang tersebar di area yang luas. Ladang angin terbesar di dunia, Wind Horse Horse Hollow Wind Energy Center berada di Texas, memiliki 421 turbin angin yang menghasilkan listrik yang cukup untuk 220.000 rumah per tahun.

Banyak pembangkit listrik tenaga angin tidak dimiliki oleh perusahaan utilitas publik. Sebaliknya, mereka dimiliki dan dioperasikan oleh para prbisnis yang menjual listrik yang dihasilkan di ladang angin untuk utilitas listrik. Perusahaan-perusahaan swasta ini dikenal sebagai pengembang listrik swasta.

Energi dari pergerakan angin

Angin adalah udara yang bergerak. Pergerakan ini disebabkan oleh pemanasan matahari yang tidak merata di permukaan bumi. Karena permukaan bumi terdiri dari berbagai jenis tanah dan air yang sangat berbeda, mereka menyerap panas matahari pada tingkat yang berbeda pula. Salah satu contoh akibat pemanasan yang tidak merata ini dapat ditemukan dalam siklus angin harian.

130523-01d

Siklus harian angin

Pada siang hari, udara di atas daratan memanas lebih cepat daripada udara di atas air. Udara hangat di atas tanah mengembang dan naik, dan udara yang lebih berat lebih dingin bergegas masuk untuk mengambil tempatnya, terjadilah angin. Pada malam hari, pergerakan angin dibalik karena udara dingin lebih cepat di atas tanah daripada di atas air.

Dengan cara yang sama, angin di atmosfer yang mengelilingi bumi terjadi karena tanah di dekat khatulistiwa bumi lebih panas karena matahari dibandingkan tanah di dekat Kutub Utara dan Selatan.

Energi angin untuk menghasilkan listrik

Dewasa ini, energi angin banyak digunakan untuk menghasilkan listrik. Angin adalah sumber energi terbarukan karena angin akan bertiup selama matahari masih bersinar.

Bagaimana turbin angin bekerja

Seperti kincir angin kuno, turbin angin menggunakan baling-baling untuk mengumpulkan energi kinetik angin. Angin mengaliri baling-baling, seperti efek pada sayap pesawat, yang menyebabkan ia berputar. Baling-baling ini terhubung ke poros yang menggerakkan sebuah generator listrik untuk menghasilkan listrik.

Perlu perencanaan yang hati-hati

Operasi pembangkit listrik tenaga angin tidak hanya membangun kincir angin di tempat yang berangin. Lokasi tempat pembangkit perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Penting untuk mempertimbangkan seberapa cepat dan berapa banyak angin bertiup di situs tersebut.

Sesuai hukum alam, kecepatan angin meningkat seiring dengan meningkatnya ketinggian; dan berhembus lebih kencang di daerah terbuka yang tidak memiliki penghalang angin. Lokasi yang baik untuk pembangkit tenaga angin adalah di bagian atas bukit yang rata, dataran terbuka, wilayah lepas pantai, dan daerah celah pegunungan dimana angin berhembus lebih terarah.

Energi angin di dunia

Pada tahun 2009, sebagian besar pembangkit listrik tenaga angin di dunia berlokasi di Eropa dan Amerika Serikat di mana program pemerintah telah banyak membantu pengembangan energi angin. Amerika Serikat menempati peringkat pertama di dunia dalam ha; pemanfaatan energi angin, diikuti oleh Jerman, Spanyol, China, dan India. Denmark menempati peringkat kesembilan di dunia dalam memanfaatkan tenaga angin, tapi persentase listrik yang dihasilkan dari angin sekitar 19%, merupakan yang terbesar di dunia.

Energi angin lepas pantai

Energi angin di lepas pantai lebih kuat dan stabil. Namun, ada pihak yang menentang turbin di lepas pantai atau di dekat garis pantai, karena mereka khawatir turbin angin akan merusak pemandangan laut.

Angin adalah sumber energi terbarukan yang tidak mencemari udara, sehingga banyak yang melihatnya sebagai alternatif yang baik untuk bahan bakar fosil. (Sumber: tender-indonesia.com, KOMPAS, dan  Indoenergi)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda