Investasi Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Terus Meningkat

0
10

Sejak Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menggulirkan program restrukturisasi mesin tekstil dan produk tekstil (TPT), para pelaku industri TPT sangat berminat mengikutinya. Akan tetapi,  belum semua perusahaan TPT bisa mengikuti program ini karena terbatas anggaran yang disediakan oleh pemerintah.

Untuk tahun 2011,  pemerintah mengalokasikan anggaran restrukturisasi TPT sebesar  Rp151 miliar untuk membiayai keikutsertaan 66 perusahaan pada program restrukturisasi mesin tekstil dan produk tekstil itu.   Sedangkan permohonan yang belum dapat mengikuti program itu mencapai 230 perusahaan.

Advertisement

Oleh karena itu, Kemenperin berniat mengajukan tambahan anggaran pada tahun 2012 agar ke-230 perusahaan yang tertarik mengikuti program restrukturisasi mesin tekstil dan produk tekstil itu dapat dilaksanakan. Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman mengatakan,  dengan banyaknya peminat,  dana restrukturisasi mesin TPT yang diperlukan untuk tahun 2012 minimal Rp250 miliar.   Saat pertama kali digulirkan,  tutur Ade,  minat perusahaan TPT memang masih rendah.  “Nah,  saat ini peminatnya sangat besar.”

Kementerian Perindustrian menargetkan program restrukturisasi mesin tekstil dapat mendorong investasi di sektor itu menjadi Rp1,6 triliun, atau meningkat 14% dibanding tahun 2010 senilai Rp1,4 triliun. Pemerintah akan menaikkan dana program restrukturisasi mesin tekstil pada 2011 sebesar 11%.

Kementerian Perindustrian memperkirakan tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang (utilisasi) industri tekstil nasional pada tahun ini mencapai 85%-90% seiring kenaikan permintaan di pasar ekspor dan domestik. Utilisasi industri tekstil nasional tahun ini naik dibandingkan 2010 yang baru mencapai 65%-70%.

Nilai investasi itu jauh lebih besar dibanding dengan total investasi selama empat tahun terakhir yang hanya Rp6 triliun. Besarnya investasi tahun 2011 karena banyak perusahaan TPT sedang gencar menambah produksi.   Hal ini terkait dengan melonjaknya pesanan dari pasar ekspor yang sebelumnya dipasok China,  dan kini beralih ke ASEAN.   Indonesia memiliki peluang besar,  karena negara lain,  seperti Kamboja,  menghadapi permasalahan tenaga kerja yang terbatas, sementara Thailand mengalami bajir yang berdampak terhadap industri TPT.

Baca juga :   Gerak Kontrol Optimal Kurangi Konsumsi Energi Mesin

Menurut statistik terbaru dari Persatuan Tekstil Indonesia, industri tekstil dan pakaian Indonesia telah mengalami perkembangan yang menggembirakan dalam beberapa tahun terakhir, ekspornya juga mengalami pertumbuhan yang mantap. Pada semester pertama tahun ini, ekspor tekstil dan pakaian menciptakan devisa sebanyak US$2,5 miliar, meningkat 25% dibanding pada tahun 2010.

Untuk membangkitkan kembali industri tekstil dan pakaian, pemerintah meningkatkan dukungan terhadap industri TPT pada bebeapa tahun terakhir, antara lain, mendukung bank menyediakan kredit suku rendah pada perusahaan untuk memperbarui perlengkapan, mengimpor teknologi canggih dan manajemen yang maju. Selain itu, pemerintah juga terus melaksanakan kebijakan preferensial dalam pengembalian pajak, bahan mentah dan jaminan tenaga kerja. (Diolah dari berbagai sumber)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda