Investasi Asing dan Ekspor Indonesia Terus Meningkat

0
14

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM, the Investment Coordinating Board of Indonesia) menyatakan realisasi investasi Rp283,5 triliun dapat tercapai pada tahun 2012. Meski BKPM khawatir terhadap krisis ekonomi global yang berkelanjutan—tentu berpengaruh atas kinerja perekonomian nasional–berdampak pada arus investasi ke Indonesia. Akan tetapi, hingga saat ini dampak krisis ekonomi global tersebut belum menunjukkan pengaruh langsung terhadap perekonomian Indonesia, demikian TEMPO Interaktif (20 Oktober 2011).

Sementara itu, The Jakarta Post melaporkan bahwa realisasi investasi yang berasal dari domestik dan asing naik sebesar 15,3 persen atau senilai Rp65,4 triliun (US$7,26 miliar) selama periode Juli–September 2011, dan selama sembilan bulan pertama tahun ini, jumlah investasi mencapai Rp181 triliun. BKPM optimis bahwa target realisasi investasi tahun 2011 mencapai Rp240 triliun, dan hal itu terus  meningkat selama kurun waktu 2010-2014 yang nilai investasi kumulatif  akan mencapai Rp1.629 triliun.

Nilai investasi asing (foreign direct investment) mencapai Rp46,4 triliun (US$400 miliar) yang besarnya lebih dari 70 persen selama kwartal ketiga tahun ini. Untuk mencapai target investasi pada tahun 2012, BKPM akan berusaha menarik minat beberapa negara agar lebih tertarik berinvestasi di Indonesia. Negara-negara yang belum maksimal berinvestasi adalah Korea, Rusia, dan negara-negara Timur Tengah.

Advertisement

Singapura dengan nilai investasi mencapai US$1,3 miliar atau 25 persen dari total investasi asing, lebih dominan berinvestasi di Indonesia, disusul Amerika Serikat sebesar US$0,5 miliar, Belanda sebesar US$0,4 miliar, Korea Selatan US$0,4 miliar, dan Jepang sebesar US$ 0,4 miliar.  Untuk meningkatkan  target  investasi, BKPM terus gencar berpromosi ke negara-negara Timur Tengah dan Rusia. BKPM menawarkan proyek-proyek infrastruktur kepada pengusaha Uni Emirat Arab yang tertarik berinvestasi di sektor energi, sedangkan Rusia berminat pada sektor infrastruktur dan pertambahan.

BKPM menawarkan  sektor infrastruktur dengan total 79 proyek dengan nilai US$53,4 miliar. Satu kategori atau kelompok dari proyek diberi nama ready for offer atau siap tender yang jumlahnya 13 proyek yang siap tender senilai US$27,5 miliar. Penanggung jawab dan lokasi lokasi proyek sudah jelas.

Ekspor Sektor Manufaktur Meningkat

Sementara itu ekspor buatan Indonesia terus meningkat seperti diperlihatkan pada penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) yang   menghasilkan total transaksi bisnis senilai US$33,9 juta pada hari pertama (19 Oktober 2011). Produk-produk yang diminati oleh pihak asing meliputi furnitur, kopi, kosmetik dan produk herbal, produk berbahan kayu, serta produk agrikultur. Para pembeli berasal dari 65 negara. Sekitar 84,9% di antaranya berasal dari pasar nontradisional termasuk negara berkembang, sedangkan sisanya sebesar 15,1% berasal dari negara tradisional.

Baca juga :   Menanamkan Sendi Pinggul Buatan, Ini Teknologinya

Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perindustrian Hesti Indah Kresnarini mengutarakan—seperti dilaporkan TEMPO Interaktif (20/10/2011)—porsi pembeli yang didominasi negara nontradisional mengindikasikan keberhasilan upaya diversifikasi pasar. “Ini penting untuk dongkrak pertumbuhan ekspor nonmigas Indonesia di tengah krisis global.”

Hal yang dinilai menjadi salah satu kontributor pencatatan transaksi bisnis pada TEI 2011 lantaran adanya konsep anjungan produk utama (APU) yang mengusung konsep revitalisasi. Konsep itu menampilkan kreativitas dan ramah lingkungan. Area yang menampilkan produk utama itu dibangun dengan bahan konstruksi yang sebagian besar dapat didaur ulang.

Sebagai gambaran, perhelatan itu terdiri dari zona produk 10+10+3 (produk utama, potensial, jasa), zona Primaniyarta 2010 (peraih penghargaan kinerja ekspor), dan zona industri kreatif (produk ekspor kreatif berbasis budaya dan teknologi). Selain itu, area TEI juga meliputi zona global brands (merek nasional yang mendunia), zona eco-product (produk ramah lingkungan), dan zona services international (produk jasa berstandar internasional).

Hesti menuturkan, konsep itu membuat salah satu produk ramah lingkungan yaitu Unit Tata Udara menarik minat pembeli lokal dari sektor manufaktur, rumah sakit, dan perkantoran. Bahkan, penyejuk udara berinovasi penghematan energi sebesar 25 persen dibanding penyejuk ruangan konvensional itu membuat pembeli asal Amerika Serikat dan Belanda untuk menjajaki kontrak dagang dengan perusahaan bersangkutan.

Produk yang disebut bisa mempertahankan kelembapan udara ruangan di bawah 60 persen itu, mendapat penghargaan Asean Energy Award untuk periode 2007–2011. Selain penyejuk ruangan, produk ban bermotif batik parang, pesisir, dan pagi-sore menjadi salah satu produk yang menjadi andalan merek nasional yang mendunia.

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda